AssistX, perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI) karya anak bangsa, tengah menjadi sorotan setelah teknologinya dipercaya mengawal digitalisasi sektor hulu minyak dan gas (migas) nasional.
Tak berhenti di situ, perusahaan yang bernaung di bawah PT Masadepan Indonesia Digital ini juga baru saja mengambil langkah besar dengan mengajukan paten untuk empat inovasi AI hasil riset mandiri timnya.
Dukungan terhadap AssistX datang langsung dari Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra.
Ia menyebut bahwa teknologi buatan AssistX tergolong inovasi komprehensif dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mencapai 91 persen, angka yang terbilang tinggi untuk produk teknologi digital di Indonesia.
Menurutnya, dari sisi analisis biaya dan manfaat, solusi lokal ini bahkan menawarkan harga operasional yang lebih kompetitif dibandingkan produk sejenis buatan luar negeri.
Kehadiran AssistX di sektor hulu migas dinilai krusial di tengah tantangan besar yang dihadapi industri energi Tanah Air. Saat ini, produksi minyak bumi Indonesia berada di kisaran 600.000 barel per hari, sementara kebutuhan konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.
Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap harinya untuk menutup selisih tersebut, sehingga efisiensi dan optimalisasi produksi lewat teknologi digital menjadi semakin penting.
AssistX, Perusahaan AI Anak Bangsa dengan Beragam Solusi
AssistX berfokus mengembangkan solusi berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keamanan di berbagai sektor industri melalui pemanfaatan data serta sistem yang terintegrasi.
Perusahaan ini menghadirkan empat lini produk utama, yaitu AssistX Suite, AssistX Vision, AssistX Sense, dan AssistX Lite, yang masing-masing mendukung kebutuhan AI Vision, pemrosesan dokumen cerdas atau intelligent document processing, hingga sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).
Tak hanya di sektor migas, teknologi AssistX juga dirancang agar bisa langsung diimplementasikan pada infrastruktur yang sudah ada di berbagai sektor lain, mulai dari perbankan, transportasi, perkebunan, pertambangan, hingga pengembangan kota pintar atau smart city di Indonesia.
Langkah Paten demi Kedaulatan Teknologi
Untuk memperkuat posisinya, AssistX resmi mengajukan paten atas empat inovasi AI yang dikembangkan secara mandiri oleh tim riset dan pengembangannya.
Keempat inovasi tersebut meliputi metode kompresi data berbasis algoritma genetika terbalik, sistem analitik video CCTV secara waktu nyata (real time), optimasi citra medis atau DICOM, serta estimasi kecepatan objek berbasis computer vision untuk mendukung sistem transportasi cerdas dan smart city.
Chief Scientific Officer AssistX, Mauritz Panggabean, PhD, menegaskan bahwa hak kekayaan intelektual merupakan aset krusial agar riset teknologi buatan lokal tidak sekadar menjadi objek tiruan, melainkan memiliki daya tawar tinggi di pasar internasional.
Langkah pengajuan paten ini pun sejalan dengan upaya memperkuat kedaulatan teknologi nasional sekaligus memastikan inovasi karya anak bangsa mendapat perlindungan hukum yang kuat di tengah dominasi pemain teknologi global.
Dari sudut pandang investasi, portofolio kekayaan intelektual yang kuat kerap menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan valuasi sebuah perusahaan teknologi.
Paten menjadi bukti bahwa teknologi yang dihasilkan dapat dipertahankan secara hukum sekaligus memiliki potensi komersialisasi jangka panjang.
Kawan GNFI, langkah AssistX ini menunjukkan bahwa anak bangsa tidak hanya mampu bersaing dalam mengembangkan teknologi AI, tetapi juga semakin sadar pentingnya melindungi hasil karya lewat jalur hukum yang tepat.
Ke depan, AssistX menargetkan pengembangan lanjutan dari teknologinya untuk mendukung transformasi digital nasional yang lebih mandiri, aman, dan berkelanjutan, seiring cita-cita besar Indonesia menjadi pemain utama, bukan sekadar pasar, dalam industri kecerdasan buatan dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


