istana alwatzikhoebillah keraton peninggalan kesultanan sambas di pertemuan tiga sungai - News | Good News From Indonesia 2026

Istana Alwatzikhoebillah, Keraton Peninggalan Kesultanan Sambas di Pertemuan Tiga Sungai

Istana Alwatzikhoebillah, Keraton Peninggalan Kesultanan Sambas di Pertemuan Tiga Sungai
images info

Dok. Zhilal Dharma (Wikimedia)


Aliran Sungai Subah, Sungai Sambas Kecil, dan Sungai Teberau bertemu di sebuah area bernama Lubuk Madung. Di sinilah berdiri Istana Alwatzikhoebillah, bangunan rumah panggung dari kayu belian berwarna kuning yang menjadi penanda sejarah Kesultanan Sambas.

Bangunan yang ada sekarang selesai dibangun pada tahun 1935 oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin, sultan ke-15. Pembangunan istana ini menelan biaya sebesar 65.000 gulden yang diperoleh melalui pinjaman dari Kesultanan Kutai Kartanegara.

Pemilihan lokasi di pertemuan tiga sungai ini dilakukan oleh sultan pertama, Raden Sulaiman, setelah sebelumnya memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah Kota Bangun. Kompleks ini menjadi bukti fisik dari pemerintahan Islam yang berdiri di Sambas sejak tahun 1671.

Hingga tahun 1950, ada delapan sultan yang pernah memimpin dari istana ini. Setelah itu, wilayah Kesultanan Sambas memutuskan bergabung menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu tokoh penting dari kesultanan ini adalah Sultan Syarif Hamid II, yang memerintah pada tahun 1945 hingga 1950. Beliau dikenal sebagai perancang lambang negara burung Garuda Pancasila yang digunakan Indonesia hingga saat ini.

 

Sekilas Mengenai Keraton Sambas

Seluruh bangunan di kompleks seluas 100 x 300 meter ini menggunakan material kayu belian atau kayu ulin. Karakter jenis kayu ini sangat kuat dan tahan terhadap cuaca, sehingga bangunan tetap kokoh membujur ke arah sungai.

Tata ruang bangunan utama dibagi menjadi bagian depan, tengah, dan belakang. Bagian tengah diisi oleh empat kamar untuk tempat tinggal sultan dan keluarga, sebuah balairung untuk pertemuan, serta ruang baca.

Aktivitas penunjang ditempatkan di dua bangunan sayap yang terpisah. Sisi selatan digunakan untuk dapur dan kamar pelayan, sedangkan sisi utara digunakan untuk kamar pengawal serta sopir.

Pengunjung harus melewati dua pintu gapura untuk bisa masuk ke area utama. Gapura tersebut membatasi jalan raya dengan alun-alun istana yang sekarang difungsikan sebagai museum cagar budaya.

 

Daya Tarik Utama Keraton Sambas

Di halaman depan istana, terdapat tiang bendera besar dari kayu ulin yang dikelilingi oleh tiga meriam kuno. Meriam-meriam tersebut merupakan pemberian dari tentara Inggris pada tahun 1813, dan salah satunya diberi nama Si Gantar Alam.

Peletakan komponen di halaman ini memiliki simbol tersendiri. Tiga meriam melambangkan tiga sungai di sekitar istana, empat tiang penyangga melambangkan empat menteri pembantu sultan, dan dua tiang utama melambangkan ulama serta khatib. Halaman ini juga menjadi lokasi gugurnya pejuang lokal bernama Tabrani Ahmad saat melawan tentara Belanda.

Di bagian dalam istana, pengunjung bisa melihat berbagai perabot asli yang masih dirawat. Di antaranya adalah ranjang tidur sultan, meja giok, kursi singgasana permaisuri, lemari kayu, dan cermin pecah seribu.

Benda bersejarah lain juga dipajang di sekeliling ruangan, seperti foto-foto keluarga kesultanan, senjata tradisional, pakaian adat, serta piring keramik kuno dari Tiongkok dan Belanda.

Sekitar 300 meter dari gerbang istana, terdapat Masjid Jami Sultan Muhammad Shafiuddin II yang dibangun pada tahun 1885. Masjid dua lantai ini merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat yang ditopang oleh delapan tiang kayu belian besar, serta memiliki mimbar kuno dan kendi batu di bagian teras.

 

Akses Menuju Keraton Sambas

Keraton Sambas terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas. Jarak tempuh dari pusat Kota Pontianak menuju lokasi ini berkisar antara tiga hingga empat jam perjalanan darat.

Kondisi jalanan sepanjang pesisir barat Kalimantan Barat ini sudah dilapisi aspal, sehingga bisa dilalui dengan nyaman oleh kendaraan pribadi maupun bus antarkota. Posisinya yang berada di tepi sungai utama membuat lokasi ini mudah dicari melalui aplikasi peta digital.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kompleks cagar budaya ini dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Pengelola tidak menarik biaya tiket masuk resmi, namun pengunjung bisa memberikan donasi sukarela untuk biaya perawatan bangunan di kotak yang tersedia.

Bagi pengunjung yang membutuhkan penjelasan mengenai sejarah dan fungsi setiap ruangan, terdapat pemandu lokal yang biasanya bertugas di sekitar area pintu masuk.

 

Ayo Berkunjung ke Keraton Sambas!

Keraton Sambas bisa menjadi pilihan destinasi bagi Kawan yang ingin mempelajari sejarah kerajaan Islam di Kalimantan Barat. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah di pagi hari agar memiliki waktu yang cukup untuk melihat seluruh koleksi museum di dalam istana.

Kawan juga bisa sekaligus mengunjungi Masjid Jami Sultan Muhammad Shafiuddin II yang berada di dalam kompleks yang sama untuk melihat arsitektur kayu belian peninggalan masa lalu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.