mengapa banyak mahasiswa takut menghubungi dosen - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Banyak Mahasiswa Takut Menghubungi Dosen?

Mengapa Banyak Mahasiswa Takut Menghubungi Dosen?
images info

Foto oleh Resume Genius di Unsplash


Sebuah pesan untuk dosen sudah selesai ditulis di malam hari. Mahasiswa tersebut membacanya kembali, mengubah beberapa kata, lalu menghapusnya. Beberapa menit kemudian, pesan itu diketik ulang dengan susunan kalimat yang berbeda. Bukan karena isi pesannya rumit. Ia hanya ingin menanyakan jadwal bimbingan.

Namun, seperti banyak mahasiswa lainnya, ia merasa khawatir pesan yang dikirim terdengar tidak sopan, kurang tepat, atau justru mengganggu waktu dosen.

Fenomena ini mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup umum terjadi di lingkungan kampus. Menghubungi dosen sering kali menjadi salah satu hal yang membuat mahasiswa merasa gugup, bahkan untuk keperluan akademik yang sebenarnya wajar dilakukan. Lalu, mengapa banyak mahasiswa merasa takut ketika harus menghubungi dosen?

baca juga

Ketika Dosen Dipandang sebagai Figur Otoritas

Sejak duduk di bangku sekolah, banyak orang terbiasa memandang guru dan dosen sebagai figur yang memiliki posisi lebih tinggi dalam lingkungan pendidikan.

Hubungan tersebut memang penting untuk menjaga proses belajar tetap berjalan dengan baik. Namun, tidak jarang persepsi ini membuat sebagian mahasiswa merasa canggung ketika harus berkomunikasi secara langsung.

Mahasiswa sering khawatir melakukan kesalahan kecil, seperti menggunakan sapaan yang kurang tepat, mengirim pesan pada waktu yang tidak sesuai, atau menyampaikan pertanyaan yang dianggap kurang penting.

Akibatnya, hal yang sebenarnya sederhana dapat terasa jauh lebih menegangkan daripada yang seharusnya. Padahal, dalam kehidupan akademik, komunikasi antara mahasiswa dan dosen merupakan bagian yang wajar dari proses pembelajaran.

Takut Dinilai Negatif

Selain faktor hierarki akademik, rasa takut juga sering muncul karena kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.

Banyak mahasiswa berpikir bahwa pertanyaan yang ingin mereka ajukan terlalu sederhana atau bahkan terlihat kurang cerdas. Akibatnya, mereka memilih diam daripada mengambil risiko dianggap tidak memahami materi.

Fenomena ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan rasa malu atau penolakan sosial.

Dalam praktiknya, ketakutan tersebut sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Dosen umumnya lebih menghargai mahasiswa yang berinisiatif bertanya dibandingkan mahasiswa yang memilih diam ketika mengalami kesulitan.

Namun, karena berbagai kemungkinan negatif sudah lebih dulu dibayangkan, rasa khawatir sering muncul sebelum komunikasi benar-benar terjadi.

baca juga

Pengaruh Pengalaman dan Cerita dari Lingkungan

Tidak semua ketakutan muncul dari pengalaman pribadi. Banyak mahasiswa merasa cemas menghubungi dosen karena mendengar cerita dari teman atau senior. Misalnya, cerita tentang pesan yang tidak dibalas, revisi yang banyak, atau pengalaman komunikasi yang kurang menyenangkan.

Tanpa disadari, cerita-cerita tersebut dapat membentuk persepsi sebelum seseorang memiliki pengalaman sendiri. Akibatnya, mahasiswa sudah merasa tegang bahkan sebelum memulai percakapan.

Padahal, setiap dosen punya karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda. Pengalaman satu orang belum tentu menggambarkan pengalaman orang lain.

Karena itu, membangun komunikasi berdasarkan pengalaman pribadi sering kali lebih membantu dibandingkan hanya mengandalkan asumsi atau cerita yang beredar di lingkungan sekitar.

Komunikasi adalah Bagian dari Proses Belajar

Di dunia perkuliahan, belajar tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas.

Mahasiswa juga belajar menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, serta berkomunikasi secara profesional. Kemampuan ini menjadi bekal penting yang akan dibutuhkan setelah lulus, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Menghubungi dosen sebenarnya dapat menjadi salah satu sarana untuk melatih kemampuan tersebut. Melalui proses itu, mahasiswa belajar menyusun pesan yang jelas, menghargai waktu orang lain, dan menyampaikan kebutuhan secara sopan serta efektif.

Kesalahan kecil yang mungkin terjadi selama proses komunikasi juga merupakan bagian dari pembelajaran yang wajar. Pada akhirnya, rasa takut menghubungi dosen sering kali bukan muncul karena dosennya, melainkan karena berbagai asumsi yang sudah lebih dulu dibangun dalam pikiran.

Ketakutan dianggap tidak sopan, takut mengganggu, atau takut dinilai negatif membuat banyak mahasiswa menunda komunikasi yang sebenarnya penting untuk dilakukan.

Padahal, kampus bukan hanya tempat untuk mempelajari teori dan menyelesaikan tugas. Kampus juga menjadi ruang untuk belajar berinteraksi, berdiskusi, dan membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

Mungkin pesan yang sudah berkali-kali dibaca sebelum dikirim itu tidak perlu sesempurna yang dibayangkan.

Karena dalam banyak situasi, keberanian untuk memulai komunikasi sering kali jauh lebih penting daripada mencari kalimat yang benar-benar sempurna.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.