Kebutuhan masyarakat terhadap komoditas bawang merah terus melonjak saban tahun, namun para petani domestik masih menghadapi kendala besar di sektor hulu.
Hingga saat ini, sistem budidaya lokal sebagian besar masih bergantung pada penggunaan umbi sebagai bahan tanam utama. Ketergantungan ini dinilai kurang efisien karena memakan biaya modal yang besar serta menyulitkan proses distribusi logistik dalam skala masif.
Sebagai solusi alternatif, penggunaan True Shallot Seed (TSS) atau benih berbentuk biji botani mulai dilirik karena menawarkan sederet keunggulan.
Dibandingkan dengan sistem umbi tradisional, metode TSS hanya membutuhkan volume benih yang jauh lebih sedikit, memiliki daya simpan di gudang yang lebih lama, serta lebih praktis dikirim antarwilayah. Sayangnya, adopsi teknologi biji ini belum berjalan optimal di lapangan akibat hasil panen petani yang masih naik-turun akibat pengaruh cuaca dan teknik perawatan.
Agar mengatasinya, tim peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN menggelar eksperimen dengan memanfaatkan zat silika (Si) sebagai suplemen tambahan. Mereka menguji efektivitas zat tersebut pada tiga varietas TSS yang populer di pasaran, yakni Sanren, Lokananta, dan Merdeka, dengan dosis cairan berkisar antara 0 hingga 10 mililiter per liter air.
"Varietas Sanren memberikan respons paling baik terhadap aplikasi silika," ujar Peneliti PRTP BRIN, Arlyna Budi Pustika.
Ketika diberikan dosis maksimal 10 mililiter per liter, kandungan silika di dalam jaringan daun melonjak hingga 5,39 persen, sementara lapisan kutikula luar daun menebal hingga 121 persen jika disandingkan dengan tanaman tanpa perlakuan khusus.
Penebalan struktur luar tersebut otomatis membuat tanaman menjadi lebih kokoh dan tidak mudah ditembus oleh serangan jamur maupun bakteri patogen, sekaligus membantu proses fotosintesis menjadi jauh lebih maksimal.
Efek Domino pada Jumlah Umbi dan Diameter Hasil Panen
Perbaikan kondisi fisik tanaman di atas permukaan tanah ini langsung membawa efek domino yang masif pada produktivitas hasil panen di bawah tanah.
Berdasarkan data pengukuran di area persawahan, jumlah helai daun tanaman yang diberi asupan silika meningkat hingga dua kali lipat. Berkat nutrisi yang terserap sempurna, jumlah anakan per rumpun bertambah dari kisaran 3,38 menjadi 4,94, sedangkan total umbi baru ikut meroket dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman.
Kualitas fisik bawang yang dihasilkan pun terlihat jauh lebih montok dan berisi. Diameter umbi yang tadinya hanya mentok di angka rata-rata 2,31 sentimeter berhasil melebar hingga menyentuh 2,86 sentimeter berkat dorongan nutrisi makro tersebut.
"Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren meningkat sekitar 30–70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika," kata Arlyna Budi Pustika.
Menyaring Polusi Logam Berat dan Masa Depan Bawang Bersih
Manfaat dari riset pangan ini ternyata tidak hanya berhenti pada urusan kuantitas atau jumlah tonase panen semata.
Analisis laboratorium menunjukkan adanya korelasi positif antara tingginya kadar penyerapan senyawa silika pada tanaman dengan tingkat keamanan pangan dari zat polutan berbahaya di area tanah sekitar pertanian.
"Selain meningkatkan hasil panen, penyerapan silika yang tinggi berkaitan dengan menurunnya kandungan logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun," ungkap Kristamtini selaku peneliti PRTP BRIN.
Temuan medis dan pertanian ini membuka lembaran baru bagi pengembangan konsep pertanian sehat di Indonesia. Lewat intervensi pupuk silika, produk hortikultura yang beredar di pasar tradisional kelak tidak cuma melimpah secara kuantitas, tetapi juga jauh lebih aman dari kontaminasi residu zat kimia berbahaya.
Proyek riset mutakhir ini sendiri merupakan buah kerja sama internasional antara BRIN, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, serta The University of Queensland di Australia, yang hasilnya kini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi Chilean Journal of Agricultural Research.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

