Kawan lagi asyik scroll media sosial, terus tiba-tiba muncul video yang mengeklaim minuman warna tertentu bisa menyembuhkan penyakit cuma dalam semalam. Judulnya sensasional. Komentarnya ramai. Ribuan orang sudah nge-share. Tanpa pikir panjang, Kawan ikut menekan tombol bagikan ke grup keluarga, ke teman kantor, ke siapa saja yang teringat. Beberapa jam kemudian, baru sadar: itu hoaks.
Kalau Kawan pernah ada di posisi itu, tenang, Kawan tidak sendirian. Hampir semua orang pernah terjebak. Sebab sistem penyebaran hoaks memang dirancang untuk menguras emosi dulu, baru nalar kritis kita dikunci belakangan. Masalahnya bukan seberapa sering kena hoaks. Masalahnya, mau sadar atau tidak setelahnya.
Hoaks Tidak Pilih-Pilih Korban
Ada anggapan bahwa yang mudah percaya hoaks hanya orang yang kurang terdidik. Faktanya tidak begitu. Justru orang yang aktif bermedia sosial, dari pelajar, mahasiswa, sampai profesional, sama-sama rentan. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat ribuan konten hoaks teridentifikasi setiap tahun, dengan topik kesehatan, politik, dan agama menjadi yang paling sering beredar.
Mengapa begitu mudah menyebar? Karena otak kita suka mengambil jalan pintas. Begitu sebuah informasi cocok dengan apa yang sudah kita percaya, atau berhasil memancing rasa takut dan marah, kita langsung menerimanya. Sumbernya jarang dicek. Inilah yang disebut bias konfirmasi, dan dari situlah hoaks biasanya masuk.
Dari Layar ke Dunia Nyata: Hoaks Digital Bukan Sekadar Gangguan
Mungkin ada yang berpikir, “ah, hoaks paling cuma bikin heboh sebentar, setelah itu ya sudah.” Padahal dampaknya bisa jauh lebih dalam. Hoaks soal obat-obatan palsu saat pandemi COVID-19, misalnya, bukan hanya viral di linimasa, tetapi juga mendorong banyak orang mengonsumsi ramuan yang justru berbahaya. Hoaks politik pun sering memperburuk suasana, sampai membuat keluarga dan pertemanan retak hanya karena berbeda sumber informasi.
Reuters Institute (2023) mencatat Indonesia masuk sebagai negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi soal berita palsu. Lebih dari 70% responden mengaku khawatir tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hoaks. Angka sebesar itu menunjukkan satu hal: kita semua rentan, bukan hanya sebagian orang.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kabar baiknya, ada langkah sederhana yang bisa langsung dipraktikkan. UNESCO (2021) merekomendasikan pendekatan literasi media dan informasi, yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan konten secara kritis dan bertanggung jawab. Salah satu metode praktisnya disebut SIFT: Stop (berhenti sejenak sebelum bereaksi), Investigate the source (cek siapa pembuat kontennya), Find better coverage (cari sumber lain tentang topik yang sama), dan Trace claims (telusuri asal-usul klaim tersebut).
Sebelum menekan tombol bagikan, coba tanyakan pada diri sendiri tiga hal: siapa yang membuat ini, apakah ada sumber lain yang membenarkan, dan apakah Kawan membagikan ini karena fakta atau karena emosi? Hanya tiga pertanyaan itu sudah cukup untuk memutus rantai penyebaran hoaks.
Di skala yang lebih besar, gerakan seperti #CekFakta yang digalakkan berbagai media nasional perlu terus didukung. Kurikulum sekolah yang memasukkan literasi digital, platform media sosial yang lebih aktif memberi label peringatan pada konten menyesatkan, serta kebijakan pemerintah yang tegas terhadap penyebar hoaks adalah bagian dari ekosistem yang kita butuhkan bersama.
Mulai dari Jempolmu
Satu klik tombol bagikan kelihatannya sepele. Tapi hoaks yang Kawan sebarkan tanpa sadar bisa menjadi bencana bagi orang lain. Literasi digital bukan soal pintar atau tidak pintar, melainkan soal kebiasaan, kebiasaan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.
Mulai sekarang, sebelum scroll berlanjut dan tombol bagikan ditekan, berhenti sejenak. Verifikasi dulu. Di tengah arus informasi yang terus bertambah setiap detik, memilih untuk berpikir kritis adalah salah satu tindakan paling bertanggung jawab yang bisa kita lakukan, untuk diri sendiri, keluarga, dan bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


