burung maleo sulawesi pembangun sarang pasir panas - News | Good News From Indonesia 2026

Burung Maleo Sulawesi, Pembangun Sarang Pasir Panas

Burung Maleo Sulawesi, Pembangun Sarang Pasir Panas
images info

Ilustrasi Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Sulawesi (commons.wikimedia.org/Ariefrahman)


Di tengah lebatnya hutan tropis dan pesisir Pulau Sulawesi, terdapat satu satwa endemik yang memiliki cara berkembang biak sangat berbeda dibandingkan burung lainnya. (Macrocephalon maleo) atau lebih dikenal sebagai burung maleo Sulawesi, menjadi simbol kekayaan hayati Indonesia sekaligus bukti bahwa alam mampu menciptakan mekanisme kehidupan yang luar biasa.

Apa Itu Burung Maleo Sulawesi (Macrocephalon maleo)?

Burung maleo Sulawesi (Macrocephalon maleo) adalah satu-satunya anggota dari genus Macrocephalon. Nama ilmiahnya berasal dari bahasa Yunani "macro" berarti "besar" dan cephalon berarti "kepala." Memang, kepala burung ini tampak besar dengan tonjolan keras berwarna hitam di atasnya, seperti helm kecil yang menjadi ciri khasnya yang paling mudah dikenali.

Mereka memiliki ukuran sekitar 55 sentimeter dan beratnya kira-kira dua hingga tiga kilogram. Bagian bawah tubuhnya berwarna merah muda keputihan, dengan bagian atas berwarna hitam pekat. Paruhnya jingga, kakinya abu-abu, dan kulit kekuningan di sekitar matanya. Jantan dan betina sangat mirip, tidak seperti kebanyakan burung lain; namun, jantan lebih "modis".

Yang lebih luar biasa adalah burung maleo biasanya setia pada satu pasangan selama sebagian besar hidup mereka. Karena sifat monogaminya, dia adalah simbol setia yang unik di antara satwa liar.

baca juga

Di Mana Burung Maleo Sulawesi Hidup?

Burung maleo Sulawesi hanya ditemukan di Pulau Sulawesi dantidak ada di tempat lain di seluruh penjuru bumi. Inilah yang menjadikannya spesies endemik sejati. Populasi utamanya tersebar di kawasan hutan tropis dataran rendah, meliputi Gorontalo (Bone Bolango dan Pohuwato), Sulawesi Tengah (Sigi dan Banggai), serta Sulawesi Utara.

Burung ini sangat selektif saat bertelur, ia akan memilih karakteristik tempat seperti pantai, lereng gunung berapi, atau tanah yang dipanaskan oleh panas bumi. Telur tidak akan menetas tanpa suhu tanah 29-34 derajat Celsius dan kelembaban 60-71 persen.

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Sulawesi Utara dan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah adalah kawasan konservasi utama yang berfungsi sebagai benteng perlindungan maleo.

Mengapa Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Begitu Unik dan Penting?

Banyak faktor yang membuat burung Maleo unik. Keunikan terbesar burung maleo Sulawesi terletak pada proses reproduksinya. Berbeda dengan sebagian besar burung yang mengerami telur menggunakan panas tubuh, maleo memanfaatkan sumber panas alami.

Pasangan maleo akan berjalan dari kawasan hutan menuju pantai berpasir atau lokasi yang memiliki sumber panas bumi. Mereka kemudian menggali lubang sedalam sekitar satu meter sebelum meletakkan telur berukuran sangat besar. Setelah itu telur ditimbun kembali menggunakan pasir atau tanah hangat.

Kemampuan luar biasa ini menunjukkan bahwa maleo telah dibentuk menjadi makhluk yang tangguh sejak awal evolusi, tetapi kekuatan mereka tidak cukup untuk menghadapi orang-orang yang membuat mereka tertekan.

Burung maleo mempunyai peran lingkungan yang begitu krusial disebabkan sebagai penyebar biji-bijian dapat membantu regenerasi hutan di ekosistem Sulawesi. Apabila kehilangan satu spesies burung maleo Sulawesi, berdampak pada kerusakan rantai ekologi secara keseluruhan.

Kemudian terdapat keistimewaan saat anak maleo yang baru menetas sudah memiliki kemampuan luar biasa. Setelah menetas dari dalam pasir, anak maleo mampu menggali jalan keluar sendiri menuju permukaan tanah.

Bahkan dalam waktu singkat mereka dapat berlari dan terbang tanpa bantuan induknya. Fenomena ini sangat jarang ditemukan pada spesies burung lain di dunia. Ukuran telur maleo juga menjadi salah satu yang terbesar di antara kelompok burung. Telurnya dapat mencapai lima hingga enam kali ukuran telur ayam biasa.

Kapan Burung Maleo Mulai Terancam?

Sebagai salah satu satwa yang dilindungi burung maleo Sulawesi terancam punah. Melihat sejarahnya sejak tahun 1950-an, populasi burung maleo di Sulawesi telah menurun sebesar 90%. Pada tahun 2004, IUCN memperkirakan populasi burung maleo di seluruh dunia hanya sekitar 8.000 hingga 14.000 ekor, tetapi sekarang lebih dari 10.000.

Menurut IUCN red list, burung maleo dianggap terancam punah pada tahun 2026. Selain termasuk dalam daftar satwa yang dilarang keras diperdagangkan secara internasional dalam CITES Appendix I, Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/2018 adalah undang-undang perlindungan burung yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.

Menurut Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN, burung maleo adalah spesies yang terancam punah dengan hanya 8.000 hingga 14.000 ekor yang tersisa pada tahun 2023.

baca juga

Bagaimana Cara Menyelamatkan Burung Maleo Sulawesi?

Sulawesi sudah melakukan inisiatif konservasi telah dimulai dan mulai bekerja. Program perlindungan berbasis komunitas berhasil mengembalikan populasi lokal di beberapa tempat bertelur. Lebih dari 1.000 maleo bebas hidup di beberapa wilayah Gorontalo.

Berdasarkan catatan dari pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pemerintah daerah setempat, sudah ada ribuan ekor burung maleo hasil penetasan penangkaran yang dilepasliarkan di alam liar Gorontalo. Di Sanctuary Maleo Hungayono (Bone Bolango) dan Cagar Alam Panua (Pohuwato) saja, angka pelepasliaran telah mencapai belasan hingga ribuan ekor sejak program berjalan

Pengembangan inisiatif konservasi in-situ (di habitat asli) dan ex-situ (di penangkaran) terus berlanjut. Ini termasuk penelitian tentang penetasan buatan dan pemantauan habitat berbasis SIG. Dari tahun 2024 hingga 2026, masing-masing akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional.

Program perlindungan berbasis masyarakat telah menunjukkan arah positif dan memiliki efektivitas. Selama konservasi di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) dan Cagar Alam Panua (Kabupaten Pohuwato), BKSDA bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat seperti WCS dan Burung Indonesia.

Orang-orang yang dulunya memburu telur sekarang menjadi pengelola ekowisata dan pelindung tempat bertelur. Telur maleo dipindahkan ke tempat penetasan buatan, di mana mereka dilindungi dari predator. Anak maleo menetas kemudian dilepaskan ke alam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.