Hari Pelaut Sedunia yang diperingati setiap 25 Juni menjadi momentum untuk mengingat pentingnya sinergi transportasi laut dan darat dalam menjaga konektivitas Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau, mobilitas masyarakat maupun distribusi barang tidak hanya bergantung pada pelayaran, tetapi juga membutuhkan jaringan transportasi darat yang mampu menghubungkan pelabuhan dengan berbagai pusat aktivitas.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) memaknai peringatan yang dicetuskan oleh International Maritime Organization (IMO) sejak 2010 tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada para pelaut yang menjaga kelancaran arus perdagangan dan perjalanan antarpulau. Di sisi lain, kereta api hadir sebagai penghubung perjalanan masyarakat setelah tiba di pelabuhan maupun sebelum melanjutkan pelayaran.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa pembangunan konektivitas Indonesia merupakan hasil kerja bersama berbagai moda transportasi.
“Di negara kepulauan, perjalanan sering kali bersambung dari laut ke darat, atau dari darat ke laut. Kereta api hadir pada bagian darat dari perjalanan itu. Perannya dekat dengan masyarakat, karena membantu pelanggan menjangkau kota, kawasan ekonomi, wisata, dan simpul transportasi lain,” ujar Anne.
Stasiun Dekat Pelabuhan Permudah Mobilitas Masyarakat
KAI mencatat sejumlah stasiun memiliki keterkaitan erat dengan kawasan pelabuhan di berbagai daerah. Di Banten, Stasiun Merak menjadi salah satu akses utama menuju Pelabuhan Merak melalui layanan Commuter Line Rangkasbitung–Merak. Jumlah pelanggan lintas tersebut terus meningkat, dari 43,3 juta pelanggan pada 2022 menjadi 77,5 juta pelanggan sepanjang 2025. Sementara pada Januari hingga Mei 2026, layanan ini telah melayani 1.978.799 pelanggan.
“Di Merak, masyarakat dapat melihat bagaimana perjalanan kereta api bertemu dengan layanan penyeberangan. Pelanggan bisa datang dari wilayah darat, turun di sekitar kawasan Merak, lalu melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya,” kata Anne.
Di Banyuwangi, Stasiun Ketapang juga menjadi simpul penting karena berada dekat dengan Pelabuhan Ketapang yang melayani penyeberangan menuju Bali. Selama Januari–Mei 2026, stasiun tersebut melayani 320.232 pelanggan naik dan turun.
Sementara itu, di Jakarta, Commuter Line Tanjung Priok terus menunjukkan pertumbuhan dengan jumlah pelanggan mencapai 3,53 juta pada 2025. Pada lima bulan pertama 2026, layanan ini telah melayani 1.468.660 pelanggan.
“Di Tanjung Priok, kereta api menjadi bagian dari mobilitas harian masyarakat perkotaan. Layanan ini digunakan pelanggan untuk bekerja, beraktivitas, mengakses kawasan permukiman, serta menjangkau area yang dekat dengan pelabuhan dan pusat ekonomi,” ujar Anne.
Selain itu, Semarang Tawang dan Semarang Poncol mencatat total 3.163.617 pelanggan naik-turun selama Januari–Mei 2026. Di Jawa Tengah, Stasiun Plabuan di Kabupaten Batang juga mulai melayani masyarakat dengan total 398 pelanggan pada April–Mei 2026. Sementara di Lampung, Stasiun Tanjungkarang melayani 322.451 pelanggan dan turut mendukung konektivitas menuju kawasan logistik Pelabuhan Panjang serta Tarahan.
Angkutan Barang Jadi Penopang Rantai Pasok Nasional
Tidak hanya melayani pelanggan, KAI juga berperan dalam distribusi logistik nasional. Selama Januari–Mei 2026, volume angkutan barang mencapai 26.486.417 ton. Batu bara menjadi komoditas terbesar dengan 21,56 juta ton, diikuti peti kemas sebanyak 2,42 juta ton, BBM 1,09 juta ton, semen dan klinker 977.983 ton, hasil perkebunan 268.728 ton, retail 48.684 ton, serta berbagai komoditas lainnya.
Menurut Anne, angkutan barang berbasis rel menjadi bagian penting dalam mendukung rantai pasok yang terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, dan pusat distribusi.
“Pada layanan barang, kereta api membantu menghadirkan kapasitas besar dan jadwal yang lebih terukur. Bagi pelaku usaha, kepastian jadwal dan kapasitas menjadi penting. Bagi masyarakat, kelancaran distribusi ikut berpengaruh pada ketersediaan barang dan aktivitas ekonomi daerah,” jelasnya.
Secara keseluruhan, KAI Group melayani 214.045.803 pelanggan selama Januari–Mei 2026 atau meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menunjukkan semakin besarnya peran transportasi berbasis rel dalam mendukung perjalanan harian, antarkota, wisata, hingga konektivitas menuju berbagai simpul transportasi nasional.
Menutup peringatan Hari Pelaut Sedunia, Anne menegaskan bahwa konektivitas Indonesia merupakan hasil kolaborasi seluruh insan transportasi.
“KAI menyampaikan apresiasi kepada para pelaut dan seluruh Insan transportasi yang menjaga konektivitas Indonesia. Dari laut sampai darat, dari pelabuhan sampai stasiun, perjalanan masyarakat dan barang dapat terus tersambung karena banyak pihak menjalankan perannya masing-masing,” tutup Anne.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


