kenaikan bi rate menjaga rupiah atau menambah beban masyarakat - News | Good News From Indonesia 2026

Kenaikan BI-Rate: Menjaga Rupiah atau Menambah Beban Masyarakat?

Kenaikan BI-Rate: Menjaga Rupiah atau Menambah Beban Masyarakat?
images info

Nataliya Vaitkevich, Pexels.com


Di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, Bank Indonesia (BI) kembali menjadi perhatian publik setelah memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026.

Keputusan ini diambil di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang biasanya telah ditentukan sebelumnya. Kebijakan tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat karena dinilai akan berdampak pada berbagai sektor, mulai dari perbankan, investasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat secara umum.

Di satu sisi, langkah ini dianggap perlu untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun, di sisi lain muncul pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pelaku usaha, khususnya sektor agribisnis yang masih menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia.

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, keputusan menaikkan BI-Rate dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan eksternal yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

baca juga

Dalam konferensi pers yang disampaikan setelah pengumuman kebijakan tersebut, Perry menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga inflasi tetap berada pada target 2,5 ± 1 persen, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan BI-Rate, Bank Indonesia juga memperkuat strategi stabilisasi melalui peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), optimalisasi intervensi di pasar valuta asing, serta penguatan instrumen lindung nilai (hedging). Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa bank sentral berupaya menjaga kestabilan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Dari sudut pandang ekonomi publik, kebijakan ini merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah melalui instrumen moneter untuk menjaga keseimbangan ekonomi makro. Ketika tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi meningkat, bank sentral memiliki kewenangan untuk mengendalikan jumlah uang beredar melalui penyesuaian suku bunga.

Secara teori, kenaikan suku bunga dapat mengurangi konsumsi dan permintaan kredit sehingga mampu meredam inflasi. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap sektor riil karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Oleh sebab itu, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan sektor produktif.

Sebagai mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, saya melihat bahwa sektor agribisnis termasuk salah satu sektor yang cukup rentan terhadap perubahan kebijakan suku bunga. Banyak pelaku usaha pertanian, peternakan, maupun usaha pangan yang masih mengandalkan pembiayaan dari lembaga keuangan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja.

Modal tersebut digunakan untuk membeli benih, pupuk, pakan ternak, alat pertanian, hingga membiayai distribusi hasil produksi. Ketika suku bunga mengalami kenaikan, bunga pinjaman perbankan juga berpotensi meningkat sehingga biaya produksi menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi petani skala kecil dan pelaku UMKM agribisnis yang memiliki keterbatasan modal. Tidak sedikit pelaku usaha yang akhirnya harus menunda perluasan usaha atau mengurangi kapasitas produksi karena mempertimbangkan tingginya biaya pembiayaan.

Dalam jangka pendek, keadaan ini dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian dan bahkan berdampak pada ketersediaan pangan apabila tidak diantisipasi dengan baik. Selain itu, meningkatnya biaya produksi juga dapat berpengaruh terhadap harga jual produk pertanian di tingkat konsumen sehingga daya beli masyarakat ikut terdampak.

Di sisi lain, saya juga memahami bahwa kebijakan Bank Indonesia tidak hanya melihat kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi pada masa mendatang. Apabila nilai tukar rupiah terus melemah, harga berbagai barang impor akan semakin meningkat.

Kondisi ini tentu akan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap sektor agribisnis karena Indonesia masih mengimpor beberapa komoditas penting, seperti bahan baku pakan ternak, pupuk, mesin pertanian, hingga obat-obatan hewan. 

Jika harga barang impor melonjak akibat pelemahan rupiah, biaya produksi juga akan meningkat meskipun suku bunga tidak dinaikkan. Oleh karena itu, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebenarnya juga menjadi kepentingan bagi sektor pertanian dalam jangka panjang.

Menurut saya, kebijakan kenaikan BI-Rate merupakan langkah yang cukup rasional apabila dilihat dari kondisi ekonomi global saat ini. Namun, kebijakan moneter tersebut sebaiknya diimbangi dengan kebijakan fiskal yang lebih berpihak kepada sektor-sektor produktif.

baca juga

Pemerintah dapat memperluas akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), memberikan subsidi bunga bagi pelaku usaha pertanian, serta meningkatkan berbagai program pendampingan agar petani mampu meningkatkan efisiensi usahanya. Dengan adanya dukungan tersebut, pelaku usaha tidak akan terlalu terbebani oleh kenaikan biaya modal, sementara tujuan menjaga stabilitas ekonomi tetap dapat tercapai.

Pada akhirnya, kenaikan BI-Rate bukan sekadar persoalan naik atau turunnya angka suku bunga, tetapi merupakan kebijakan yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Setiap kebijakan ekonomi tentu memiliki manfaat sekaligus konsekuensi yang perlu dipertimbangkan secara matang.

Sebagai mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, saya berpendapat bahwa menjaga stabilitas ekonomi memang penting, tetapi perhatian terhadap sektor riil juga tidak boleh diabaikan. Sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal menjadi kunci agar perekonomian nasional tetap stabil tanpa menghambat perkembangan sektor agribisnis yang memiliki peran besar dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.