Pelukan terakhir dengan kedua orang tuanya hanya tinggal kenangan. Dalam rentang waktu sekitar 100 hari, Devi Ridho Syavitri kehilangan ayah dan ibunya. Mimpi yang sejak kecil ia rawat untuk kuliah dan menjadi dosen sempat terasa mustahil. Namun, perempuan itu memilih bertahan. Lima tahun kemudian, ia berdiri di panggung Wisuda ke-262 Universitas Airlangga (UNAIR) sebagai salah satu lulusan terbaik dengan IPK 3,90.
“Sejak kecil, saya memiliki keinginan yang besar untuk bisa berkuliah dan menjadi seorang dosen,” ujar Devi dalam sambutannya pada wisuda Unair, dikutip dari Humas UNAIR.
Di hadapan Rektor, senat universitas, dan ribuan wisudawan lainnya, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu membagikan kisah tentang kehilangan, keraguan, dan keputusan untuk bangkit.
Mimpi yang Nyaris Padam Setelah Kehilangan Orang Tua
Tahun 2021 menjadi masa paling berat dalam hidup Devi. Saat sedang mempersiapkan masa depan dan berharap bisa melanjutkan pendidikan tinggi, ayahnya meninggal dunia. Kesedihan itu belum selesai, tapi semakin menjadi ketika sekitar 100 hari kemudian, ibunya menyusul berpulang.
Peristiwa tersebut membuat cita-cita yang selama ini ia simpan terasa sangat jauh.
“Kala itu, bermimpi menjadi seorang dosen atau bahkan mencapai pendidikan tinggi bukan lagi sebuah tujuan, melainkan angan-angan panjang yang terasa sulit untuk didapatkan,” kenang Devi.
Kehilangan dua orang tua dalam waktu berdekatan membuatnya sempat meragukan masa depan. Situasi seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai masa berduka atau grieving, yakni proses seseorang menghadapi kehilangan orang terdekat. Pada fase tersebut, tidak sedikit orang yang mengalami kebingungan, kehilangan arah, bahkan kesulitan melihat harapan di masa depan.
Namun, pada akhirnya Devi tidak menyerah pada keadaan.
Bertahan dengan Beasiswa dan Menuntaskan Kuliah di Unair
Ya, Devi memilih untuk bangkit tanpa pendampingan dari kedua orang tuanya. Devi lantas berhasil diterima di Universitas Airlangga dan memperoleh dua beasiswa selama menjalani perkuliahan. Dukungan tersebut membuatnya dapat melanjutkan studi tanpa harus menghentikan mimpinya.
Perjalanan kuliah tentu tidak selalu mudah. Namun, satu demi satu tantangan berhasil ia lewati. Hingga akhirnya, pada Wisuda ke-262, namanya tercatat sebagai salah satu wisudawan terbaik dengan IPK 3,90.
Pencapaian itu pun bukan akhir dari perjalanannya. Ia juga memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa yang diberikan langsung oleh Rektor UNAIR.
Mimpinya untuk menjadi dosen kini semakin dekat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


