Penanganan residu sampah plastik jenis kemasan berlapis (multilayer) dan kantong kresek campuran selama ini menjadi beban berat bagi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Karakteristik jenis plastik ini dikategorikan bernilai ekonomi rendah sehingga sering kali diabaikan oleh sektor industri daur ulang konvensional.
Guna memecah kebuntuan tersebut, periset BRIN memperkenalkan teknologi pirolisis Fastpol untuk mengolah tumpukan residu menjadi bahan bakar cair yang dinamai Petasol.
Periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa pirolisis bekerja melalui proses dekomposisi termokimia. Sederhananya, material plastik dipanaskan pada rentang suhu 250 hingga 350 derajat Celsius di dalam ruang hampa dengan sedikit atau tanpa oksigen sama sekali.
Melalui rantai pemanasan tersebut, material plastik yang sejatinya berbahan dasar minyak bumi dikembalikan lagi ke wujud asalnya menjadi bahan bakar cair.
Dalam hitungan di lapangan, satu kilogram sampah plastik residu yang telah dibersihkan mampu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter Petasol. Proses pengolahan dari tahap pemanasan awal hingga selesai membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam.
Setelah melewati tahapan penjernihan dan penyaringan berkala, cairan tersebut sudah berada dalam kondisi siap pakai untuk menggerakkan mesin-mesin bermesin diesel.
Kualitas Pembakaran dan Pengujian Angka Setana
Meskipun statusnya berasal dari olahan limbah domestik, bahan bakar alternatif ini mencatatkan performa mekanis yang cukup bersaing. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, kualitas pembakaran cairan hasil pirolisis ini diklaim berada pada level yang aman untuk kebutuhan kendaraan maupun mesin produksi.
Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, menambahkan bahwa parameter keunggulan ini terlihat dari capaian angka setana (cetane number) yang menyentuh angka 51.
Aspek pembandingnya, standar solar komersial yang beredar di pasar domestik umumnya berada pada kisaran angka 48. Angka setana yang lebih tinggi ini menjadi indikator bahwa kualitas pembakaran pada ruang bakar mesin diesel tergolong sangat baik dan efisien.
Kendati mencatatkan performa pembakaran yang memuaskan, formulasi cairan ini masih memerlukan beberapa tahapan penyempurnaan lanjutan.
Peneliti masih berfokus untuk menyelaraskan seluruh parameter teknis agar sesuai dengan regulasi resmi yang berlaku, khususnya pada aspek penyesuaian berat jenis cairan serta kelengkapan payung hukum distribusinya.
Perlu Manajemen Pemilahan dari Sektor Hulu
Aplikasi mesin pengolah limbah ini sudah mulai diuji coba secara riil melalui kolaborasi bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah di Kalurahan Wukirsari, Imogiri, Bantul. Pemilihan wilayah ini didasarkan pada besarnya volume timbulan sampah di Kabupaten Bantul yang menyentuh angka 600 ton per hari, di mana sekitar 30 persen di antaranya disumbang oleh material plastik.
Keberadaan insentif ekonomi berupa hasil bahan bakar alternatif diharapkan bisa memicu ketertarikan para pegiat lingkungan untuk ikut serta mengumpulkan jenis plastik bernilai rendah.
Namun, efisiensi penggunaan mesin pirolisis ini tetap memiliki prasyarat utama yang ketat di sektor hulu, yakni tingkat kebersihan dan pemisahan jenis material sampah sejak dari lingkungan rumah tangga.
Jika proses pemilahan di tingkat warga tidak berjalan konsisten, biaya operasional untuk penyortiran manual di tingkat pengepul akan membengkak dan menurunkan nilai keekonomian proyek.
Peluang kemitraan juga dibuka dengan pemerintah daerah serta sektor industri untuk mereplikasi model pengelolaan sampah terpadu berbasis data real-time ini di berbagai wilayah lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

