pasar malam zaman jepang cermin pola eksploitasi yang masih berulang - News | Good News From Indonesia 2026

Pesta Rakyat, Pesta Kebohongan: Rahasia Kelam di Balik Pasar Malam Zaman Jepang

Pesta Rakyat, Pesta Kebohongan: Rahasia Kelam di Balik Pasar Malam Zaman Jepang
images info

Dokumentasi Pribad


Di tengah krisis ekonomi global dan inflasi yang masih melanda banyak negara, terdapat satu fenomena yang tak pernah benar‑benar hilang sejak era kolonial: Hiburan rakyat yang berfungsi sebagai pelarian singkat dari beban hidup, sekaligus menjadi alat propaganda penguasa untuk menutupi penderitaan sesungguhnya.

Cerpen “Pasar Malam Zaman Jepang” karya Idrus, bagian dari Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, menampilkan gambaran yang meskipun berlatar belakang pendudukan Jepang mengejutkan karena masih relevan dengan kondisi masyarakat kita kini, di mana hiburan murah dan judi daring merambah kalangan ekonomi lemah, sementara narasi “bantuan” dari pihak berwenang terus dikuatkan tanpa menyentuh penyebab utama masalah.

Cerpen ini menegaskan satu gagasan utama, hiburan rakyat di tengah kemiskinan struktural bukanlah kebahagiaan sejati, melainkan narkotika yang sengaja dipertahankan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari penderitaan mereka, sekaligus menjadi lahan baru bagi eksploitasi baik oleh penguasa maupun oleh sesama rakyat yang berebut secercah kesempatan.

baca juga

Idrus secara tajam menggambarkan ironi kegembiraan di tengah kehancuran. Ia menuliskan bagaimana orang‑orang berduyun‑duyun menuju Pasar Malam Rakutenci “bagai ikan yang tertarik pada umpan”, semua tampak riang meski pakaian mereka tipis dan lusuh. Gambar ini menjadi kritik halus terhadap masyarakat yang dipaksa mencari kebahagiaan sekejap sebagai pelarian dari kemiskinan nyata, pola yang masih kita saksikan ketika lapisan ekonomi bawah mengorbankan uang terakhir mereka untuk hiburan, undian, atau judi daring demi secercah harapan sesaat.

Tulisan “bantuan Sendenbu” (propaganda Jepang) yang terpampang besar‑besar di gerbang pasar malam menjadi simbol penting. Warga dalam cerita “memahami arti Sendenbu… namun mereka belum mengerti mengapa Sendenbu selalu harus terlibat” dalam segala hal sandiwara, musik, hingga pertandingan bola. Ini merupakan kritik terhadap kekuasaan yang menempelkan namanya pada setiap ruang kehidupan rakyat, menciptakan kesan seolah‑olah kesejahteraan datang dari pemberian penguasa, padahal pada kenyataannya rakyat hanya menerima remah hiburan sebagai gantinya hak‑hak dasar yang dirampas. Fenomena tersebut bergema dalam konteks kini, ketika bantuan sosial atau subsidi sering diperlakukan sebagai komoditas politik dan citra, bukannya solusi struktural atas kemiskinan.

Bagian yang paling menyentak adalah kisah seorang Indonesia kurus “seperti tiang telepon” yang kalah dalam rolet sehingga terpaksa menjual pakaian, sepatu, bahkan celananya di tempat umum. Idrus melukiskan tubuhnya yang “kuning‑kuning seperti kunyit” dan “tulang‑tulangnya bagai kaki ayam jago”, citra kelaparan dan kemiskinan ekstrem yang kontras brutal dengan suasana pesta yang gemerlap.

Tragedi berujung pada kabar bahwa orang tersebut menggantung diri karena kalah judi. Sementara itu, pejabat Jepang justru tertawa melihat angka‑angka inflasi sambil berkata sinis bahwa rolet adalah “obat mujarab untuk memberantas inflasi”. Sindiran Idrus di sini sangat tajam: judi yang menghancurkan rakyat justru dibungkus penguasa sebagai solusi ekonomi, sebuah kebohongan yang menegaskan betapa nyawa rakyat kecil tidak dihargai oleh kekuasaan.

Detail‑detail kecil seperti pelayan rumah makan yang “matanya tertuju pada kantong tamunya”, pedagang yang menjual pakaian bekas dengan harga tinggi, hingga kontras antara “tempat terang dan tempat gelap” di pasar malam, semuanya menampilkan bagaimana di tengah krisis manusia saling memangsa demi kelangsungan hidup. Ini bukan sekadar potret masa lalu melainkan cermin abadi tentang bagaimana ketimpangan ekonomi memunculkan rangkaian eksploitasi berlapis, dari penguasa ke rakyat, dan dari rakyat ke rakyat lainnya.

baca juga

Cerpen “Pasar Malam Zaman Jepang” bukan sekadar catatan sejarah tentang kekejaman penjajahan Jepang, melainkan sebuah cermin yang tetap relevan: hiburan yang dibungkus propaganda kekuasaan, ketimpangan ekonomi yang dipoles dengan kegembiraan semu, dan judi yang dipasarkan sebagai “solusi” merupakan pola berulang yang masih hidup dalam berbagai wujud hingga hari ini. Idrus mengajarkan kita untuk membaca dengan tajam di balik gemerlap hiburan dan slogan “bantuan” karena di baliknya sering tersembunyi tangisan yang dibungkam, hak yang dirampas, dan nyawa yang dianggap remeh.

Tugas kita sebagai pembaca masa kini bukan hanya mengingat derita masa lalu, tetapi menjadikannya peringatan: jangan biarkan hiburan dan narasi kesejahteraan menutupi ketidakadilan yang masih berlangsung di sekitar kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.