ketika keburukan menjadi hal yang biasa membaca ulang cerpen wabah karya ahmad tohari - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Keburukan Menjadi Hal yang Biasa: Membaca Ulang Cerpen Wabah Karya Ahmad Tohari

Ketika Keburukan Menjadi Hal yang Biasa: Membaca Ulang Cerpen Wabah Karya Ahmad Tohari
images info

"Ilustrasi : AI-generated"


Di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan yang tak pernah berhenti, ada satu kebiasaan yang tampaknya semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari: kecenderungan untuk menunjuk orang lain sebagai sumber masalah. Ketika sesuatu berjalan tidak semestinya, mencari pihak yang dapat disalahkan sering kali terasa lebih mudah dibandingkan menengok ke dalam diri sendiri.

Fenomena tersebut terasa begitu dekat ketika membaca cerpen Wabah karya Ahmad Tohari. Sastrawan yang dikenal lewat karya-karyanya yang sarat dengan kehidupan masyarakat pedesaan ini menghadirkan kritik sosial dengan cara yang sederhana, tetapi mengena. Melalui satire yang halus, Ahmad Tohari mengajak pembaca melihat bagaimana manusia kerap terjebak dalam kebiasaan saling mencurigai tanpa pernah benar-benar melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Cerita bermula dari sebuah keluarga besar yang diliputi keresahan akibat munculnya bau aneh yang tidak diketahui sumbernya. Semua anggota keluarga sama-sama mencium bau tersebut, tetapi tak seorang pun merasa dirinya mungkin menjadi penyebab. Kecurigaan pun tumbuh dari satu orang ke orang lain. Berbagai cara dilakukan demi menemukan jalan keluar, mulai dari menjaga kebersihan, memeriksakan kesehatan, hingga mencari bantuan dari orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus. Namun, semua usaha itu tidak membawa jawaban yang mereka harapkan.

baca juga

Situasi menjadi semakin ironis ketika mereka menyadari bahwa persoalan serupa ternyata tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga mereka. Bau aneh tersebut telah menyebar ke seluruh negeri dan menjadi pembicaraan banyak kalangan. Para ahli, tokoh agama, budayawan, aktivis, hingga politisi mencoba memberikan penjelasan sesuai bidang masing-masing. Akan tetapi, satu hal yang tampaknya sama dari semuanya adalah kecenderungan untuk mencurigai pihak lain, sementara kemungkinan bahwa masalah itu juga melibatkan diri sendiri nyaris tidak pernah dipertimbangkan.

Di sinilah kekuatan cerpen Wabah terasa begitu menarik. Ahmad Tohari tidak sedang berbicara tentang bau busuk dalam arti sebenarnya. Bau tersebut dapat dibaca sebagai metafora dari berbagai persoalan yang hadir dalam kehidupan sosial, mulai dari korupsi, hilangnya empati, intoleransi, hingga budaya saling menyalahkan yang masih sering dijumpai. Melalui simbol yang sederhana, ia memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan dapat terus membesar ketika semua orang sibuk mencari kambing hitam.

Pesan yang disampaikan cerpen ini terasa tetap relevan hingga hari ini. Kehadiran media sosial, misalnya, membuat ruang diskusi semakin terbuka, tetapi di saat yang sama juga melahirkan kecenderungan untuk saling menyerang dan mempertahankan pandangan masing-masing. Tidak sedikit perdebatan yang akhirnya berubah menjadi ajang saling menyalahkan. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk mengakui kekurangan diri sendiri justru menjadi sesuatu yang semakin langka.

Menariknya, Ahmad Tohari tidak menyampaikan kritiknya dengan nada yang keras. Ia memilih ironi sebagai cara bercerita. Pembaca mungkin akan tersenyum melihat berbagai upaya yang dilakukan para tokohnya untuk menemukan penyebab masalah. Namun, di balik senyum tersebut, ada pertanyaan yang perlahan muncul: jangan-jangan sikap yang sama juga hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagian yang paling mengusik justru hadir menjelang akhir cerita. Setelah sekian lama hidup berdampingan dengan bau tersebut, masyarakat perlahan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu. Mereka terbiasa. Sesuatu yang pada awalnya dianggap sebagai masalah akhirnya diterima sebagai bagian dari keseharian.

baca juga

Barangkali, di situlah letak sindiran paling tajam dari cerpen ini. Bukan semata-mata tentang hadirnya keburukan, melainkan tentang bagaimana manusia dapat kehilangan kepekaan ketika terlalu lama hidup di tengah keadaan yang tidak sehat. Ketika sesuatu yang semestinya dipertanyakan terus-menerus dibiarkan, ia perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Membaca kembali Wabah terasa seperti bercermin. Cerpen ini mengingatkan bahwa persoalan bersama tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menunjuk siapa yang salah. Ada kalanya, perubahan justru berawal dari kesediaan untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur. Sebab, sebelum bertanya siapa yang menyebabkan masalah, mungkin ada baiknya kita terlebih dahulu bertanya: apakah kita benar-benar terbebas darinya?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.