keraton kaibon menengok kembali sisa kejayaan kesultanan banten - News | Good News From Indonesia 2026

Keraton Kaibon, Menengok Kembali Sisa Kejayaan Kesultanan Banten

Keraton Kaibon, Menengok Kembali Sisa Kejayaan Kesultanan Banten
images info

Dok. Kodrat Darmawn (Google Maps)


Di kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdiri reruntuhan yang menyimpan salah satu cerita paling dramatis dalam sejarah Kesultanan Banten. Keraton Kaibon dibangun pada 1815 dan dihancurkan hanya 17 tahun kemudian oleh pasukan Belanda.

Yang tersisa sekarang adalah gerbang-gerbang batu, pilar yang masih tegak, fondasi kamar yang menjorok ke dalam tanah, dan bekas bangunan masjid di sisi kanan gerbang. Kondisi fisik yang tersisa memang tidak banyak, tetapi hal tersebut cukup untuk membayangkan seperti apa megahnya keraton ini di masa jayanya.

Nama Kaibon berasal dari kata "keibuan", dan penamaan itu bukan kebetulan. Keraton ini memang dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syafiudin yang naik takhta dalam usia lima tahun. Karena sultan masih terlalu kecil untuk memerintah, sang ibu yang mengendalikan jalannya pemerintahan untuk sementara waktu. Keraton ini dibangun sebagai kediaman resminya, dengan kanal di bagian depan yang juga berfungsi sebagai jalur transportasi menuju Keraton Surosowan di sebelah utara.

Kehancurannya berawal dari konflik antara pihak kesultanan dan Gubernur Jenderal Daendels. Ketika utusan Belanda datang membawa perintah terkait pembangunan megaproyek Jalan Raya Anyer-Panarukan serta pemindahan ibu kota kesultanan, pihak kesultanan menolak keras perintah tersebut sehingga memicu ketegangan besar. Puncak dari perselisihan ini berujung pada perintah penghancuran Keraton Kaibon pada 1832 bersamaan dengan Keraton Surosowan, dan sejak saat itu hanya reruntuhan yang tersisa di kawasan tersebut.

 

Sekilas Mengenai Keraton Kaibon

Keraton Kaibon berdiri di atas lahan seluas sekitar 2 hingga 4 hektar di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, dibangun menggunakan batu bata dari campuran pasir dan kapur. Arsitekturnya memadukan beberapa pengaruh sekaligus. Gerbang utamanya berbentuk candi bentar yang khas Banten, dengan gaya yang juga memperlihatkan sentuhan Jawa dan Bali. Gerbang ini dikenal dengan sebutan gerbang bersayap karena bentuk fisiknya, serta memiliki tinggi sekitar 2 meter.

Yang cukup menarik dari arsitekturnya adalah jumlah pintu di bagian depan, yakni lima buah, yang mengikuti jumlah waktu salat dalam sehari. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun dibangun sebagai tempat tinggal keibuan, identitas Islam tetap menjadi bagian penting dari desainnya. Di bagian inti keraton terdapat masjid dengan pilar-pilar tinggi sebagai bangunan utama.

Satu ruangan yang masih bisa diamati adalah kamar yang dasarnya menjorok ke dalam tanah. Ruangan ini diduga adalah kamar tidur Ratu Aisyah, dan cekungan ke bawah itu berfungsi sebagai sistem pendingin alami dengan cara mengalirkan air di dalamnya sebelum bagian atasnya diberi balok kayu sebagai lantai. Bekas penyangga papan di dinding ruangan itu masih terlihat hingga sekarang.

Pada 1998, Keraton Kaibon secara resmi ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya di Kota Serang.

Daya Tarik Utama Keraton Kaibon

Keraton Kaibon menarik bukan karena kemegahannya yang utuh, melainkan karena kondisinya yang berupa reruntuhan membuat cerita sejarahnya terasa lebih dekat dan nyata bagi pengunjung.

Gerbang-gerbang batu yang masih berdiri adalah hal yang paling mencolok saat memasuki kawasan. Pintu paduraksa dengan bagian atasnya yang tersambung masih bisa dilihat dalam kondisi cukup utuh. Gerbang candi bentar bersayap yang menjadi pintu masuk utama juga masih tegak, sehingga memberikan gambaran bagaimana kemegahan keraton ini dahulu menyambut siapa pun yang datang.

Bangunan yang menyerupai masjid di sisi kanan gerbang masih menyisakan pilar kokoh dan sisa struktur mihrab di dalamnya, sebuah pengingat bahwa keraton ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga pusat kehidupan keagamaan keluarga kerajaan. Kamar yang menjorok ke dalam tanah memberikan satu lagi titik yang bisa diamati, karena teknologi pendingin alami abad ke-19 yang terdapat di sana tidak banyak ditemukan di bangunan lain dari periode yang sama.

Kawasan ini juga cukup sering dikunjungi oleh pencinta fotografi lanskap dan arsitektur kuno. Kombinasi gerbang batu dan reruntuhan bata merah memberikan nuansa historis dan artistik tersendiri sebagai latar foto.

Akses Menuju Keraton Kaibon

Keraton Kaibon terletak di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Kawasan ini masuk dalam wilayah Banten Lama yang juga menjadi rumah bagi situs bersejarah lain seperti Keraton Surosowan, Masjid Agung Banten, dan Pelabuhan Karangantu.

Dari pusat Kota Serang, perjalanan menuju kawasan Kasemen bisa ditempuh sekitar 10 hingga 15 minut menggunakan kendaraan bermotor. Kendaraan pribadi adalah pilihan yang paling praktis, meskipun angkutan kota menuju kawasan Banten Lama juga tersedia dari beberapa titik di pusat kota. Jalanan menuju lokasi sudah beraspal baik dan ramah untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Keraton Kaibon sebagai situs cagar budaya terbuka untuk dikunjungi setiap hari sepanjang pagi hingga sore hari. Tidak ada tiket masuk berbayar yang dikenakan untuk memasuki kawasan ini alias gratis. Fasilitas di sekitar lokasi masih terbatas, sehingga Kawan sebaiknya membawa persediaan air minum sendiri terutama jika datang pada siang hari.

Ayo Berkunjung ke Keraton Kaibon!

Kalau Kawan GNFI sedang berada di Serang atau merencanakan perjalanan ke kawasan Banten Lama, Keraton Kaibon layak dimasukkan dalam rencana perjalanan. Kunjungan ini bisa sekaligus digabungkan dengan Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten yang letaknya tidak jauh. Datang pagi hari agar tidak kepanasan, dan luangkan waktu untuk menelusuri setiap sudut reruntuhan sambil membayangkan cerita sejarah yang melekat di tempat ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.