Piala Dunia 2026 resmi bergulir mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hal ini menjadi turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Di tengah gegap gempita itu, ada satu hal yang diam-diam ditunggu oleh banyak jurnalis olahraga internasional: kapan kamera akan kembali menangkap suporter Jepang bersih-bersih stadion?
Ini bukan pertanyaan satir. Aksi suporter Jepang memunguti sampah dan membersihkan tribun setelah pertandingan sudah menjadi tradisi yang terus berulang sejak Jepang pertama kali tampil di Piala Dunia pada 1998. Setiap edisi, tanpa pernah absen. Bagi kita di Indonesia, fenomena ini bukan sesuatu yang hanya dilihat dari layar televisi.
Momen GBK yang Tidak Terlupakan
15 November 2024. Indonesia kalah 0–4 dari Jepang dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Namun, bukan skor itu yang paling lama dibicarakan warganet.
Usai peluit panjang berbunyi, suporter Jepang tidak langsung beranjak pulang. Mereka mengambil sampah yang berserakan di area bangku penonton SUGBK menggunakan kantong plastik biru yang sudah mereka bawa sejak sebelum pertandingan dimulai.
Kantong plastik biru itu semula digunakan sebagai kode dukungan kepada para pemain Jepang di lapangan. Setelah pertandingan usai, plastik yang sama digunakan untuk mengumpulkan sampah di sekitar tribun. Terencana, terbiasa, dan tanpa perlu ada yang menyuruh.
Atarimae: Satu Kata yang Mengubah Cara Pandang
Kalau Kawan GNFI bertanya kepada suporter Jepang itu mengapa mereka melakukannya, jawabannya tidak akan panjang.
Atarimae (当たり前).
Dilansir dari website resmi Tanoshi Japanese, Atarimae berarti "sudah seharusnya", artinya sebuah konsep yang diterapkan sehari-hari oleh warga Jepang, terutama dalam hal menjaga kebersihan. Pola pikir ini ditanamkan sejak kecil, sudah seharusnya kita menjaga kebersihan, karena kita pula yang membuat lingkungan menjadi kotor.
Bagi masyarakat Jepang, tindakan menjaga kebersihan tempat yang digunakan bersama adalah hal yang wajar dan sudah semestinya dilakukan, bukan sesuatu yang luar biasa, justru aneh jika tidak dilakukan.
Bukan karena takut denda. Bukan karena ingin dipuji kamera. Melainkan karena ada keyakinan yang sudah mengakar kuat. "ini memang tanggung jawabku sebagai orang yang menggunakan ruang ini bersama orang lain."
Kebiasaan ini berakar dari sistem pendidikan Jepang. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak diajarkan untuk bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan kelas dan memastikan area yang ditinggalkan tetap bersih. Nilai tersebut tumbuh bersama mereka hingga dewasa hingga ke tribun stadion internasional.
Kita Punya Nilai Ini, Tetapi Belum Menjadi Cara Hidup
Sebelum Kawan GNFI terlalu lama mengagumi Jepang dari kejauhan, ada pertanyaan yang lebih produktif untuk dijawab: apakah kita punya nilai yang setara?
Jawabannya: ya, bahkan lebih kaya.
Kita mengenalnya "gotong royong", "tepa selira" dalam tradisi Jawa, yaitu rasa segan menyusahkan sesama hingga nilai malu dalam pengertian yang sesungguhnya. Bukan malu karena ketahuan, melainkan malu karena melakukan hal yang tidak pantas meski tidak ada yang menyaksikan.
Persoalannya bukan pada absennya nilai. Persoalannya ada pada jarak antara nilai yang kita yakini dan tindakan yang kita pilih setiap hari.
Kawan GNFI tahu membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi tetap dilakukan karena "toh yang lain juga begitu." Kawan GNFI tahu menerobos lampu merah itu berbahaya, tetapi tetap dilakukan karena "jalanan sepi, aman kok." Kawan GNFI tahu antre itu adil, tetapi begitu ada celah, kaki lebih cepat melangkah maju.
Ini bukan soal kurangnya pengetahuan. Ini soal nilai yang belum benar-benar menjadi cara kita bergerak secara otomatis.
Momentum Piala Dunia 2026 Jangan Hanya Jadi Penonton
Setiap pujian yang diterima suporter Jepang dari media internasional turut memperkuat kebiasaan ini hingga berkembang menjadi simbol kebanggaan nasional. Namun, mereka tidak memulainya dari skala besar. Mereka memulainya dari satu kantong plastik, satu tribun, satu pertandingan.
Kini Piala Dunia 2026 sedang berlangsung. Jutaan pasang mata dunia menonton, bukan hanya permainan di lapangan, tetapi juga sikap di luar lapangan.
Ini bukan ajang kompetisi dengan Jepang. Ini tentang kita sebagai bangsa memilih mau menjadi masyarakat seperti apa.
Kalau Kawan GNFI menonton bersama di kafe atau warung, tinggalkan meja lebih rapi dari saat pertama duduk. Kalau Kawan GNFI berkendara pulang setelah pertandingan selesai, berhentilah di lampu merah meski jalanan sepi dan tidak ada kamera. Kalau Kawan GNFI berada di ruang publik mana pun, bawa pulang sampahmu sendiri.
Bukan karena ada yang melihat, tapi karena sudah seharusnya. Itulah atarimae versi kita. Itulah gotong royong dan tepa selira yang sesungguhnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


