Legenda Wa Aka dan Wa Andi menjadi salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang dua kakak beradik yang baik hati, walau menghadapi kehidupan yang sulit pada awalnya.
Berikut kisah dari legenda Wa Aka dan Wa Andi dalam cerita rakyat Sulawesi Tenggara.
Legenda Wa Aka dan Wa Andi, Kisah Kakak Beradik Baik Hati, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, alkisah pada zaman dahulu hiduplah dua orang kakak beradik perempuan. Kedua kakak beradik itu bernama Wa Aka dan Wa Andi.
Kedua kakak beradik ini hidup bersama ayah dan ibu tiri mereka. Sang ayah sangat menyayangi kedua anak gadisnya itu.
Dirinya menganggap kedua anak gadisnya ini menjadi pengganti mendiang istrinya yang sudah meninggal dunia. Namun sayang, kasih sayang dari sang ayah tidak sejalan dengan ibu tiri Wa Aka dan Wa Andi.
Alih-alih memberikan kasih sayang, ibu tiri Wa Aka dan Wa Andi justru sangat membenci mereka. Tidak jarang rasa benci ini justru menimbulkan pertengkaran di antara kedua suami istri tersebut.
Jika pertengkaran ini terjadi, Wa Aka dan Wa Andi akan pergi ke sungai yang tidak jauh dari rumah mereka. Di sana mereka akan menghibur diri dan melupakan masalah yang terjadi.
Pada suatu hari, Wa Aka dan Wa Andi pergi ke sungai seperti biasa. Sesampainya di sana, tiba-tiba Wa Aka mendapatkan seekor ikan lancudu.
Kedua kakak beradik ini kemudian memelihara ikan luncudu ini di sebuah lubang. Setiap hari mereka akan pergi ke sana sambil bernyanyi dan memberi makan ikan lancudu tersebut.
Lama kelamaan, ikan lancudu milik Wa Aka dan Wa Andi mulai tumbuh besar. Kabar ini ternyata sampai di telinga ibu tiri mereka.
Ibu tiri kemudian memberitahu sang ayah jika ada ikan besar di lubang dekat sungai. Sang ayah pun pergi ke sana dan menemukan ikan yang dimaksud oleh istrinya.
Dengan cepat, sang ayah langsung mengambil ikan tersebut dan membawanya pulang. Ibu tiri kedua gadis tersebut langsung memasak ikan lancudu itu dan menyantapnya bersama sang suami.
Ketika makanan ini habis, hanya tersisa tulang ikan di atas piring. Saat membersihkan sisa makanan ini, Wa Aka menyisihkan tulang ikan tersebut.
Setelah itu, Wa Aka pergi ke sungai bersama Wa Andi. Mereka datang dengan maksud memberi makan ikan lancudu seperti biasa.
Namun ikan tersebut tiba-tiba hilang begitu saja. Setelah mengumpulkan informasi, barulah Wa Aka dan Wa Andi sadar jika ikan tersebut sudah disantap kedua orang tua mereka.
Wa Aka kemudian bergegas kembali ke rumah dan mengambil sisa tulang ikan tersebut. Bersama Wa Andi, Wa Aka kemudian pergi ke hutan dan menanam tulang ikan itu layaknya sebuah benih.
Ajaibnya, tumbuh sebuah pohon dari bekas tulang ikan itu. Tidak hanya itu, pohon itu juga memiliki buah emas berkilauan.
Kabar tentang pohon ini kemudian sampai di telinga sang raja. Tidak lama berselang, sang raja mendatangi langsung lokasi tempat pohon berbuah emas tersebut.
Sesampainya di sana, sang raja bertemu dengan Wa Aka dan Wa Andi. Sang raja jatuh hati dan menikahi kedua kakak beradik tersebut.
Hidup Wa Aka dan Wa Andi langsung berubah drastis. Kini mereka hidup dengan segala kecukupan di istana raja.
Nama mereka pun makin mashyur di negeri tersebut. Sebab sang raja sangat menyayangi kedua istrinya, baik Wa Aka dan Wa Andi.
Meski begitu, Wa Aka dan Wa Andi tetap menjadi pribadi yang baik hati. Hak ini membuat kedua permaisuri raja tersebut makin dicintai oleh masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


