Kisah Inspiratif Mohamad Imam Sobirin terlahir saat tidak semua mimpi lahir dari keadaan yang ideal. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang sempit yang dipenuhi keraguan, kehilangan, dan keterbatasan.
Mohamad Imam Sobirin menjadi salah satu contoh nyata bahwa dari keterbatasan dan keraguan masa depan tidak ditentukan oleh kondisi yang dimiliki hari ini, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah.
Perjalanan hidupnya bermula dari Desa Tamanan, Kota Kediri, Jawa Timur. Saat duduk di bangku kelas XII SMA, hidupnya berubah drastis setelah sang ayah meninggal dunia. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia harus menghadapi kenyataan bahwa kondisi ekonomi keluarga semakin sulit, terlebih ketika pandemi Covid-19 memperburuk keadaan.
Di tengah keterbatasan tersebut, muncul berbagai keraguan. Bahkan, ada suara-suara yang menyarankan agar dirinya tidak melanjutkan pendidikan tinggi karena dianggap hanya akan menjadi beban biaya keluarga. Namun, Imam memilih jalan berbeda. Ia percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengubah nasib sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan.
Pendidikan menjadi Jalan Mengubah Nasib

Mohamad Imam Sobirin (Dok. Pribadi Imam Sobirin/Mohamad Imam Sobirin)
Keyakinan itu membawanya mendaftar ke Program Studi Kehutanan Universitas Gadjah Mada melalui jalur Beasiswa Bidikmisi. Keputusan tersebut menjadi titik penting yang mengubah langkah dari keraguan menjadi keberanian meraih mimpi. Menurut Imam, pendidikan sebagai tonggak penting dalam proses kehidupan untuk membahagiakan keluarganya.
Bagi Imam, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar akademik. Pendidikan adalah sarana untuk memahami berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks dan mencari solusi nyata bagi keberlanjutan masa depan.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada tahun 2024, ia berhasil lulus sebagai wisudawan tercepat dan terbaik Departemen Silvikultur Universitas Gadjah Mada dengan masa studi 3 tahun 4 bulan dan predikat cumlaude. Prestasi tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih mimpi.
Belajar Memimpin Melalui Aksi Lingkungan

Proses awal Imam saat memimpin tim lintas fakultas dalam Program Kreativitas Mahasiswa (Dok. Pribadi Imam Sobirin/Mohamad Imam Sobirin)
Perjalanan Imam tidak berhenti di ruang kuliah. Sejak awal perkuliahan, ia sudah aktif dalam keterlibatannya di berbagai kegiatan aksi yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu langkah awalnya adalah memimpin tim lintas fakultas dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bertajuk “Pengembangan Eco Value Waste untuk Pengelolaan Sampah Daerah Sungai Perkotaan”. Program tersebut berawal dari keresahan terhadap persoalan sampah yang terus menumpuk di kawasan sungai perkotaan.
Pengalaman memimpin tim secara daring di tengah pandemi mengajarkannya banyak hal tentang kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi. Dari sana, Imam memahami bahwa pemimpin bukan hanya tentang memberi arahan, melainkan menjaga semangat bersama untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi lingkungan.
Semangat itu terus berlanjut melalui program pemberdayaan Wanita Tani Desa Hutan. Bersama timnya, ia membantu mengembangkan potensi lokal pohon melinjo menjadi produk UMKM berbasis sociopreneurship.
Program tersebut membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Dari Pengelolaan Limbah hingga Gerakan Seribu Pohon

Imam Sobirin bersama temannya (Dok. Pribadi Imam Sobirin/Mohamad Imam Sobirin)
Kepedulian terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui inovasi pemanfaatan limbah agroindustri menjadi briket ramah lingkungan yang mendukung konsep ekonomi sirkular. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa limbah bukan selalu masalah, melainkan dapat menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.
Puncak pengabdiannya selama masa kuliah terlihat ketika menjalankan program Kuliah Kerja Nyata di Desa Kimak, Bangka Belitung. Selama 50 hari, Imam menginisiasi gerakan penanaman seribu pohon di lahan terdegradasi, program kampung iklim, serta pengelolaan sampah menjadi barang yang bermanfaat bagi perpustakaan desa.
Melalui kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, kampus, dan sektor swasta, lahan yang sebelumnya kurang produktif mulai berubah menjadi kawasan yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi. Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kelestarian Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Dari banyaknya kontribusi dan pencapaian imam di tengah isu lingkungan yang sedang ramai di Indonesia, Sekarang, fokus kontribusi Imam mengarah kepada reklamasi lahan pasca tambang. Ia menyaksikan banyak daerah yang dulunya digunakan untuk tambang telah kehilangan fungsi ekologisnya, dan diperlukan upaya pemulihan berkelanjutan.
Imam terus mengembangkan kapasitasnya untuk menyediakan solusi berbasis ilmu pengetahuan melalui studi lanjutan Profesi Insinyur Kehutanan di Universitas Gadjah Mada. Imam sendiri percaya bahwa reklamasi tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menghidupkan kembali harapan bagi lingkungan dan komunitas di sekitarnya.
Setiap bibit memiliki arti yang lebih dalam. Bibit ini menunjukkan keyakinan positif bahwa alam dapat diperbaiki jika manusia menunjukkan perhatian dan tindakan. Lalu menjadi simbol optimisme bahwa alam dapat pulih apabila manusia mau peduli dan bertindak.
Relevansi Data Lingkungan Indonesia, Mengapa Perjuangan Ini Penting?
Kisah Inspiratif Imam menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi lingkungan Indonesia saat ini.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 24,8 juta ton per tahun. Namun, hanya sekitar 34,55 persen yang berhasil dikelola dengan baik, sementara sisanya masih belum tertangani secara optimal.
Kementerian Lingkungan Hidup bahkan menyatakan Indonesia masih menghadapi kondisi darurat sampah nasional pada 2026. Produksi sampah harian mencapai sekitar 143 ribu ton, sedangkan tingkat pengelolaan nasional baru berkisar seperempat dari total timbulan sampah yang ada.
Di sisi lain, tantangan terhadap kelestarian lingkungan juga datang dari ancaman deforestasi. Analisis terbaru menunjukkan sekitar 26 juta hektare hutan alam Indonesia berada dalam risiko alih fungsi lahan melalui berbagai skema perizinan.
Data dan fakta tahun 2026 tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang tidak hanya peduli, tetapi juga berani berkontribusi mengambil tindakan nyata seperti yang dilakukan Imam.
Menanam Harapan untuk Generasi Mendatang
Pada akhirnya, cerita ini bukan hanya tentang perjuangan seorang pemuda meraih pendidikan tinggi. Namun, juga bagaimana keterbatasan dapat berubah menjadi kekuatan, keraguan dapat menjadi bahan bakar perjuangan, dan satu langkah kecil mampu menghadirkan perubahan besar bagi lingkungan.
Di tengah berbagai tantangan ekologis yang dihadapi Indonesia, sosok seperti Imam mengingatkan kita bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar wacana.
Ia adalah aksi nyata yang dimulai dari keberanian untuk peduli, kemauan untuk belajar, dan tekad untuk terus menanam harapan bagi bumi yang lebih hijau, produktif, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


