Kabupaten Wonogiri sering kali dikenal masyarakat luas melalui ikon pariwisata Waduk Gajah Mungkur atau kuliner khasnya seperti bakso dan mie ayam yang telah melegenda. Namun, di balik pesona alam pegunungan dan kekayaan kulinernya, wilayah ini menyimpan narasi sejarah yang sangat mendalam.
Wonogiri bukan sekadar nama geografis yang berarti "hutan di pegunungan" (Wana berarti hutan, Giri berarti gunung), melainkan sebuah simbol perjuangan panjang melawan kolonialisme yang melahirkan identitas daerah yang kuat hingga hari ini.
Akar Sejarah: Lahirnya Wonogiri dari Dusun Nglaroh
Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri tidak dapat dipisahkan dari sosok Raden Mas Said, seorang pangeran Keraton Mataram yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Sambernyawa. Sosok ini menjadi figur sentral karena keberaniannya menentang ketidakadilan penjajah Belanda dan intrik politik keraton pada abad ke-18.
Sebagaimana dikutip dari laman resmi pemerintah Kabupaten Wonogiri, cikal bakal pemerintahan Wonogiri bermula dari sebuah wilayah kecil yang strategis bernama Dusun Nglaroh, yang terletak di Desa Pule, Kecamatan Selogiri. Di kawasan inilah, Raden Mas Said menyusun kekuatan dan strategi perang gerilya yang sangat merepotkan pasukan kompeni Belanda. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; kontur alam Wonogiri yang berbukit-bukit dan tertutup hutan lebat menjadi benteng pertahanan alami yang sempurna bagi pasukan gerilya.
Momen bersejarah terbentuknya pemerintahan Wonogiri ditandai pada hariRabu Kliwon, tanggal 3 Rabiulawal Tahun Jimakir 1666 (dalam penanggalan Jawa), yang bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1741 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan dan diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonogiri. Di tempat ini pula terdapat situs Watu Gilang, sebuah batu yang diyakini sebagai tempat Raden Mas Said mengatur siasat pertempuran dan memberikan arahan kepada pasukannya.
Keberhasilan perjuangan Pangeran Sambernyawa tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, tetapi juga pada kekuatan mental dan filosofi kepemimpinan yang ditanamkan kepada para pengikutnya. Salah satu ajaran yang paling melekat dan menjadi warisan budaya hingga kini adalah semboyan"Tiji Tibeh". Frasa ini merupakan singkatan dari “Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh.”
Secara harfiah, kalimat tersebut bermakna: jika satu mati maka semua mati, dan jika satu mulia (sejahtera) maka semua ikut mulia. Filosofi ini mengajarkan nilai kesetiakawanan yang luar biasa tinggi, rasa senasib sepenanggungan, dan kebersamaan antara pemimpin dengan rakyatnya. Tidak ada sekat feodal yang memisahkan nasib sang pemimpin dengan prajurit di lapangan.
Mengurai Makna Wonogiri Sukses
Bagi masyarakat umum, kata "sukses" mungkin terdengar sebagai sebuah harapan keberhasilan semata. Namun, dalam konteks tata kelola pemerintahan Kabupaten Wonogiri, Sukses merupakan sebuah akronim yang memuat enam pilar utama pembangunan daerah. Berikut adalah penjabaran mendalam dari setiap elemen dalam semboyan tersebut:
1. S - Stabilitas (Kondusivitas Wilayah)
Stabilitas. Pembangunan ekonomi dan sosial tidak akan dapat berjalan di tengah kekacauan. Oleh karena itu, prioritas utama adalah menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Suasana yang aman, damai, dan kondusif menjadi prasyarat mutlak agar aktivitas ekonomi warga dapat berputar, investor berani menanamkan modal, dan pelayanan publik dapat berjalan tanpa gangguan.
2. U - Undang-Undang (Kepatuhan Hukum)
Undang-Undang. Hal ini menegaskan bahwa segala bentuk kebijakan pemerintah daerah, serta perilaku aparatur dan masyarakat, harus senantiasa berlandaskan pada hukum yang berlaku. Pembangunan tidak boleh melanggar aturan negara. Kepatuhan terhadap regulasi memastikan bahwa roda pemerintahan berjalan di atas rel yang benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sehingga terhindar dari praktik penyalahgunaan wewenang.
3. K - Koordinasi (Sinergi Lintas Sektoral)
Koordinasi. Tantangan pembangunan yang kompleks tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerjasama yang erat dan komunikasi yang lancar antar-satuan kerja perangkat daerah (SKPD), lembaga vertikal, sektor swasta, dan elemen masyarakat. Koordinasi yang baik mencegah tumpang tindih program dan memastikan semua pihak bergerak menuju tujuan yang sama dengan harmonis.
4. S - Sasaran (Efektivitas Program)
Sasaran. Setiap program kerja yang dirancang harus memiliki target yang jelas, terukur, dan tepat guna. Penggunaan anggaran daerah harus benar-benar menyasar kebutuhan riil masyarakat. Prinsip ini menekankan efisiensi dan efektivitas, di mana setiap rupiah uang rakyat harus memberikan manfaat yang maksimal bagi kesejahteraan umum, bukan habis untuk kegiatan seremonial semata.
5. E - Evaluasi (Perbaikan Berkelanjutan)
Evaluasi. Dalam manajemen modern, perencanaan dan pelaksanaan harus diikuti dengan pengawasan. Evaluasi diperlukan untuk mengukur keberhasilan sebuah program dan mendeteksi kekurangan yang ada. Sikap terbuka terhadap kritik dan kemauan untuk melakukan koreksi adalah kunci dari peningkatan kualitas pelayanan publik. Tanpa evaluasi, kesalahan yang sama akan terus terulang.
6. S - Semangat Juang (Etos Kerja Keras)
Semangat Juang. Poin ini menarik kembali benang merah sejarah ke era Pangeran Sambernyawa. Semangat pantang menyerah dan etos kerja keras yang diwariskan oleh para pendahulu harus tetap menyala dalam konteks kekinian. Perjuangan hari ini adalah perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Aparatur pemerintah dan masyarakat didorong untuk memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi dalam membangun daerah.
Semboyan Wonogiri Sukses bukan sekadar slogan kosong di pinggir jalan, melainkan manifestasi dari nilai-nilai luhur yang diterjemahkan ke dalam bahasa birokrasi modern. Perpaduan antara stabilitas, kepatuhan hukum, koordinasi yang solid, sasaran yang tepat, evaluasi yang ketat, serta semangat juang yang tak pernah padam, menjadi modal utama Wonogiri untuk terus tumbuh.
Dengan memahami sejarah dan makna filosofis di balik semboyannya, masyarakat luas diharapkan dapat lebih mengapresiasi Kabupaten Wonogiri tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki karakter kuat dan visi yang jelas menatap masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


