sorakiyun ketika doa untuk ternak jadi nyanyian bersama di dengok yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Sorakiyun! Ketika Doa untuk Ternak jadi Nyanyian Bersama di Dengok, Yogyakarta

Sorakiyun! Ketika Doa untuk Ternak jadi Nyanyian Bersama di Dengok, Yogyakarta
images info

Tradisi Gumbregan Pada Masyarakat Desa Dengok, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta


Di sebuah desa yang namanya lahir dari rasa kagum, sebuah tradisi tua terus hidup — bukan sekadar dihafalkan, tapi dirayakan.

Menjelang petang di Desa Dengok, Kapanewon Playen, Gunungkidul, ada suara yang hanya terdengar delapan bulan sekali. Bukan bunyi gamelan, bukan tembang dari masjid. Melainkan sorak anak-anak yang mengelilingi kandang ternak, berbalasan dengan ucapan seorang sesepuh yang berdiri di halaman rumah.

"Kembang alang-alang bleduge koyo dluang—"

"Sorakiyun!"

"Kembang gude ecek-ecek kebaraten—"

"Sorakiyun!"

Itulah Gumbregan. Tradisi selamatan untuk hewan ternak yang masih dijalankan hampir 90 persen warga Desa Dengok setiap kali wuku Gumbreg tiba dalam sistem penanggalan Jawa.

Umumnya jatuh pada malam Selasa Wage, setelah matahari terbenam dan aktivitas di ladang selesai.

baca juga

Dengok: Desa yang Lahir dari Rasa Terpesona

Untuk memahami Gumbregan, perlu lebih dulu mengenal Dengok, desa yang nama dan jiwanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Berdasarkan sejarah yang dicatat situs resmi Kalurahan Dengok, wilayah ini dahulu merupakan kawasan hutan belantara yang mulai dibuka oleh kelompok masyarakat Kalang Blandong (para ahli menebang kayu) bersama sosok spiritual bernama Eyang Regol Boyo. Dari kolaborasi membuka alas itulah lahir permukiman pertama yang disebut Kalongan.

Seiring waktu, perkampungan tumbuh subur dan makmur hingga tampilannya dari kejauhan begitu memikat. Siapa pun yang melintas konon akan ndengongok — mendongakkan kepala dengan rasa kagum. Dari kata itulah nama "Dengok" berasal dan bertahan hingga hari ini.

Kisah ini bukan sekadar legenda. Dalam setiap tuturan warga yang masih diturunkan secara lisan, ada benang merah antara sejarah pembukaan hutan, nilai kebersamaan, dan cara masyarakat memperlakukan alam, termasuk ternak yang menjadi tulang punggung kehidupan mereka.

Raja Kaya yang Perlu Disyukuri

Suyanto, Lurah Desa Dengok, menggunakan istilah yang sangat fasih untuk menggambarkan kedudukan ternak di mata masyarakatnya, rojokoyo — "raja kaya."

Pak Suyanto, Lurah Desa Dengok | Dokumen Pribadi
info gambar

Pak Suyanto, Lurah Desa Dengok


"Petani-petani pedesaan itu yang diandalkan, harta kekayaan itu rojokoyo atau kewan-kewan itu, umpamanya lembu, kambing," kata Mbah Prapto, sesepuh desa berusia 85 tahun yang masih aktif memimpin ritual Gumbregan.

Bagi masyarakat Dengok yang menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan, ternak bukan sekadar aset ekonomi. Sapi, kerbau, kambing adalah mitra hidup yang turut menanggung beban musim kering, gagal panen, dan segala ketidakpastian alam di lahan tadah hujan Gunungkidul.

Maka wajar bila ada hari khusus untuk bersyukur atas keberadaan mereka, sekaligus memohonkan keselamatan dan keberkahan untuk masa depan.

Gumbregan adalah hari itu.

Mantra yang Bukan Sekadar Doa

Yang membuat Gumbregan di Desa Dengok istimewa dan berbeda dari pelaksanaan serupa di desa-desa lain di Gunungkidul adalah kehadiran mantra sebagai inti ritual.

Di tempat lain, Gumbregan lebih menonjolkan selamatan dan sesaji tanpa tuturan khusus. Di Dengok, mantra adalah pusatnya.

Sebuah skripsi dari Universitas Gadjah Mada tahun 2026 yang ditulis Erika Az Zahra Nurcahyani mengkaji fenomena ini secara akademis.

Dalam penelitiannya, Erika menemukan bahwa mantra Gumbregan di Desa Dengok merupakan bentuk sastra lisan yang hidup dan berfungsi bukan sebagai teks doa semata, melainkan sebagai "peristiwa tutur kolektif", sebuah pertunjukan yang hanya bermakna ketika dilantunkan bersama dalam ritual.

Mantra itu berbunyi demikian:

Kembang alang-alang bleduge koyo dluang
Kembang gude ecek-ecek kebaraten
Kembang serut wong mluku kurang pecut
Kembang gedhang wong mluku kurang pasangan

Dus dugul anake satus selikur
Dus damplak anake satus swidak

Gendroyono pulang gheni anjasmoro,
baderbang tumpal ing jinggo,
ojo kandhek ojo kampir,
kandheko kandhang lumbunge,
slameto kebo sapine

Setiap baris dilantunkan oleh soma — sesepuh atau orang yang dituakan di setiap rumah — dan langsung disambut seruan "Sorakiyun!" dari anak-anak penggembala yang berdiri mengelilingi kandang.

"Sorakiyun itu meng-amin-kan," jelas Pak Suyanto. "Iyun itu melambangkan iyo ke sana, biar ayunannya sampai dibawa sampai ke Gusti Allah. Sorakiyun — biar kegembiraannya tersampaikan."

Malam Penuh Sorak, dari Rumah ke Rumah

Serangkaian Tradisi Gumbregan
info gambar

Serangkaian Tradisi Gumbregan


Bayangkan, setelah Maghrib, di seluruh padukuhan Dengok yang terdiri dari enam wilayah, anak-anak berkumpul. Mereka masuk ke dalam rumah, menerima mong-mong — nasi ambeng yang dikelilingi gudangan dan urap dari hasil bumi setempat.

Setelah doa pengikraran selesai, mong-mong dibagi-bagikan. Lalu anak-anak itu keluar, bergerombol di depan kandang, dan ritual pun dimulai.

Soma melantunkan mantra. Anak-anak menyahut dengan "Sorakiyun!" sambil berdiri, membawa nasi mong-mong di tangan, bahkan ada yang sambil makan. Tidak kaku, tidak sunyi. Justru riuh dan penuh kegembiraan.

baca juga

Setelah satu rumah selesai, rombongan bergerak ke rumah berikutnya. Dan begitu seterusnya, dari satu padukuhan ke padukuhan lain, hingga larut malam. Mbah Prapto mengisahkan bahwa pada masa lalu, Gumbregan bisa berlangsung sampai jam satu atau dua dini hari karena satu padukuhan diperlakukan sebagai satu ruang ritual yang utuh.

"Cah angon itu keliling, keliling, masuk rumah, masuk rumah, masuk rumah. Kalau waktunya sudah sorakiyun, anak-anak sami berkumpul. Ajak-ajakan gitu lho," kenangnya.

Islam dan Tradisi: Berdampingan Tanpa Bertentangan

Salah satu hal yang menarik dari Gumbregan di Dengok adalah bagaimana masyarakatnya yang mayoritas Muslim, dan berafiliasi dengan tradisi Nahdlatul Ulama, tetap menjalankan ritual agraris ini tanpa merasa ada ketegangan.

"Rata-rata di sini itu masih semuanya melakukan, karena ndilalah kebetulan, komplek ini nahdliyin semua. Jadi adat tradisi masih dijaga," kata Pak Suyanto.

Mantra Gumbregan tidak dibaca sebagai mantra gaib dalam pengertian animistis, melainkan sebagai doa yang diorientasikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan bahwa seluruh hewan berada di bawah perlindungan Nabi Sulaiman A.S. menjadi jembatan teologis yang membuat tradisi ini bisa bertahan dalam bingkai keislaman.

Ini bukan kompromi setengah-setengah, ini adalah bukti kecerdasan budaya masyarakat yang mampu menegosiasikan warisan leluhur dengan keyakinan yang mereka anut.

Diwariskan Tanpa Diajarkan

Yang paling mencengangkan dari riset Erika adalah temuan soal cara mantra ini diwariskan. Tidak ada kelas, tidak ada buku panduan, tidak ada pelatihan formal.

Mbah Prapto dan Istri | Dokumen Pribadi
info gambar

Mbah Prapto dan Istri | Warga Setempat


"Saya itu tidak belajar, tidak belajar secara lisan pada sesama orang. Tapi kalau saya disuruh bicarakan atau doa apa, entah saya kok bisa," kata Mbah Prapto tentang dirinya sendiri.

Transmisi terjadi melalui kehadiran. Anak-anak yang sejak kecil ikut dalam Gumbregan—mendengarkan, menyahut sorakiyun, membawa mong-mong, mengelilingi kandang—tanpa sadar menyerap struktur, irama, dan fungsi mantra itu ke dalam diri mereka. Ketika saatnya tiba, mereka pun tahu.

"Sing penting urutane lan sorakiyune, ora kudu podo tembunge persis," kata Mbah Prapto. Yang penting urutan dan sorakiyunnya, tidak harus persis kata-katanya.

Ini adalah kearifan yang dalam. Tradisi dijaga bukan oleh keseragaman teks, melainkan oleh semangat dan makna yang terus hidup.

Lebih dari Sekadar Ritual

Dalam temuan akademis Erika, mantra Gumbregan menjalankan setidaknya tiga fungsi besar secara bersamaan.

  1. Pertama, sebagai pelestari tradisi agraris yang menjaga sistem penanggalan Jawa tetap hidup, mempertahankan pengetahuan tentang alam dan ternak dalam ingatan kolektif, serta memastikan nilai-nilai seperti gotong royong dan rasa syukur terus diwariskan lintas generasi.
  2. Kedua, sebagai pembangun harapan. Bukan harapan yang bersifat pribadi, melainkan doa kolektif seluruh komunitas atas keselamatan ternak, kecukupan rezeki, dan keberlangsungan mata pencaharian di tengah ketidakpastian alam. Larik-larik tentang kambing yang beranak "satus selikur" dan "satus swidak" bukan angka literal. Ini adalah cara masyarakat mengucapkan impian berlimpahnya keberkahan.
  3. Ketiga, sebagai sarana ritual yang mengesahkan. Tanpa mantra dan sorakiyun, Gumbregan dianggap belum selesai. Mantra adalah yang mengubah malam biasa menjadi peristiwa sakral, yang mengubah kandang menjadi ruang doa, yang mengubah sekelompok anak berlarian menjadi penjaga tradisi.
baca juga

Warisan yang Masih Hidup

Di era ketika banyak tradisi lokal memudar karena dianggap ketinggalan zaman atau bertentangan dengan modernitas, Gumbregan di Dengok memilih jalur berbeda, ia terus hidup justru karena masyarakatnya tidak pernah menjadikannya museum.

Gumbregan bukan pajangan. Ia adalah malam yang ditunggu, sorak yang dilepas dengan riang, mong-mong yang dimakan bersama. Ia adalah cara Dengok ,desa yang namanya berarti "mendongak dengan rasa kagum", tetap ingat dari mana mereka berasal.

Dan selama ada anak-anak yang berlarian di halaman sambil berteriak "Sorakiyun!", tradisi itu masih hidup.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.