Kejadian meninggalnya tiga orang di atas kapal pesiar menyebabkan kepanikan global. Sebuah kapal pesiar yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, ke Tanjung Verde di Samudra Atlantik mencatat tiga kematian yang dikaitkan dengan Hantavirus. Hal ini menjadi perhatian serius bagi seluruh dunia. Banyak orang mengkhawatirkan apakah pandemi akan terjadi kembali layaknya pandemi COVID-19.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Hantavirus merupakan virus yang berasal dari hewan rodensia atau hewan pengerat seperti tikus. Virus ini dapat bertahan di tubuh hewan tanpa menimbulkan gejala, tetapi dapat menularkan ke manusia pada kondisi tertentu. Houck dalam jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases menjelaskan penularan Hantavirus ke manusia dapat terjadi baik melalui kontak dengan hewan reservoir rodensia yang terinfeksi atau kontak dengan ekskresinya seperti air liur, urin, atau feses.
Penularan pada manusia juga dapat terjadi melalui aerosol dari debu atau benda-benda yang telah terkontaminasi oleh urin dan feses rodensia yang mengandung Hantavirus. Seseorang yang terinfeksi Hantavirus akan mengalami gangguan kesehatan berupa kelainan ginjal dan paru-paru, dimulai dengan demam, bintik pendarahan di muka, sakit kepala, kemudian hipotensi, oliguria (sedikit buang air kecil), lalu diuretik (sering buang air kecil).
Hantavirus sudah tersebar luas secara global sejak dulu, termasuk di Indonesia. Pada penelitian Lukman dkk., dalam jurnal viruses dijelaskan bahwa penemuan infeksi Hantavirus di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1991 di kota Maumere pada seorang pekerja pelabuhan, dan selanjutnya ditemukan di kota-kota besar yaitu, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang tahun 2024-2026 tercatat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan, dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan 5 kasus hingga Mei 2026. Penelitian Asadah, Sendow, dan Dharmayanti pada jurnal wartazoa turut menjelaskan bahwa kondisi geografis dan iklim di Indonesia berpengaruh pada peningkatan jumlah vektor/reservoir. Hal ini menimbulkan kemungkinan terjadinya wabah Hantavirus di Indonesia apabila tidak dilakukan berbagai tindakan pencegahan.
Pengalaman pandemi COVID-19 telah meninggalkan jejak psikologis yang mendalam, sehingga munculnya berita mengenai kematian akibat Hantavirus berpotensi memicu kecemasan kesehatan yang berlebihan pada masyarakat. Hal ini dijelaskan oleh Ikawati dan Murtiwidayanti dalam artikelnya yang diterbitkan di Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial bahwa pengalaman menghadapi pandemi memang melahirkan kecemasan pada masyarakat, bahkan hal tersebut bisa sampai menyebabkan gangguan mental seperti stres dan depresi.
Kecemasan dan stres yang dialami seseorang dapat menurunkan imunitas tubuh, sementara pada kondisi ini kekebalan tubuh sangat dibutuhkan untuk melawan virus yang ada di sekitar kita. Dengan begitu, masyarakat harus bisa mengelola kecemasannya dengan baik agar imunitas tubuh tetap terjaga.
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan mengelola pikiran dan emosi agar kita senantiasa merasa senang dan positif. Kita dapat mempersepsikan bahwa pandemi bukanlah ancaman yang menakutkan dan tidak dapat diatasi, melainkan sebagai pengingat untuk diri bahwa kita harus hidup dengan lebih sehat, bersih dan teratur.
Hal ini pun sejalan dengan teori Health Belief Model yang menjelaskan bahwa intervensi yang efektif adalah dengan meningkatkan persepsi masyarakat mengenai pentingnya perilaku pencegahan, sekaligus membangun keyakinan bahwa wabah dapat dikendalikan melalui tindakan yang tepat. Individu cenderung lebih mampu menghadapi ancaman penyakit apabila mereka memahami risiko secara realistis, mengetahui langkah pencegahan yang dapat dilakukan, dan merasa memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri.
Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang jelas, akurat, dan tidak menimbulkan kepanikan menjadi sangat penting dalam menghadapi isu Hantavirus. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat siap siaga dalam menghadapi situasi ini.
Kesiapsiagaan adalah pengetahuan tentang ancaman yang terjadi di sekitar, mengetahui cara melindungi diri, dan melakukan upaya perlindungan diri dan orang lain. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Natalia, Malinti, dan Elon dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis yang menyatakan bahwa semakin baik pengetahuan individu tentang penyakit, semakin baik pula kesiapan psikologis dan perilaku pencegahannya. Edukasi mengenai cara penularan Hantavirus, gejala, serta langkah pencegahan dapat membantu masyarakat merasa lebih memiliki kontrol terhadap situasi sehingga mengurangi rasa takut berlebihan.
Hantavirus bukanlah COVID-19. Ia tidak menular dari manusia ke manusia. Ia bisa dicegah dengan langkah-langkah sederhana. Namun, tanpa pemahaman yang benar, ancaman yang sebenarnya terkelola ini bisa menjadi bencana yang bukan disebabkan dari virusnya, melainkan karena cara kita menanggapinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


