Bandara Pitu Morotai adalah sebuah bandar udara kecil di Kabupaten Morotai, Maluku Utara. Bandara ini sudah ada sejak era kependudukan Jepang.
Konon, bandara ini merupakan salah satu dari tujuh landasan terbang milik Jepang yang dibangun pada 17 Oktober 1944. Dari tujuh landasan itu, salah satunya dioperasikan menjadi Bandara Pitu Morotai.
Sejarah Bandara Pitu Morotai
Di masa Perang Dunia II, Pulau Morotai memegang peranan yang sangat penting. Lewat tujuh landasan terbang yang disebut dengan Pitu Street, Amerika Serikat pernah menjadikan kawasan ini sebagai lokasi pendaratan mereka.
Pasca-Jepang kalah di Perang Dunia II, beberapa wilayah di Indonesia, utamanya di kawasan Timur, memang sempat diduduki oleh Sekutu. Banyak bandara atau landasan udara yang sebelumnya dibangun Jepang dipakai oleh Sekutu untuk mendukung operasi militer mereka.
Disadur dari Jurnal Sipil Statik karya Angelica Lydia D.T. dkk., bulan September 1944, Jenderal Douglas MacArthur membawa pesawat-pesawat milik sekutu ke Morotai. Pemilihan Morotai sebagai pangkalan militer bukan tanpa sebab.
Morotai dianggap sangat dekat dengan Fiipina dan ada di sisi Samudra Pasifik. Saat itu, Douglas ingin melancarkan serangan pembebasan wilayah Mindanao, Filipina.
Posisinya sangat strategis. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, Morotai disulap menjadi pulau militer. Pulau ini kemudian menjadi pangkalan militer yang sangat penting.
Saking penting dan besarnya, landasan pacu di Morotai sampai bisa menampung fasilitas logistik super besar. Bahkan, fasilitas ini bisa menaungi hingga 60.000 pasukan.
Setelah Perang Dunia II usai dan Indonesia juga mendapatkan kemerdekaannya, hanya satu dari tujuh landasan yang aktif digunakan hingga saat ini. Satu landasan itu kini digunakan oleh Bandara Pitu Morotai.
Bandara ini juga disebut sebagai Bandara Leo Wattimena oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU). Bandara ini dijadikan sebagai Pangkalan Udara TNI AU Morotai.
Pintu Masuk ke Morotai
Bandara Pitu Morotai dikategorikan sebagai bandara kelas III. Bandara ini dikelola oleh Unit Penyelenggara Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Meskipun kecil, Bandara Pitu Morotai memiliki peran sentral dalam mobilitas masyarakat dan barang di Indonesia Timur. Berdasarkan Data Kementerian Perhubungan, bandara berkode ICAO WAEW ini memiliki landasan pacu eksisting sepanjang 2.400 meter dengan lebar 45 meter.
Bandara ini hanya diperuntukkan bagi penerbangan domestik. Tak banyak pesawat yang menaik-turunkan penumpang di sini.
Pesawat yang beroperasi adalah penerbangan dari dan menuju Ternate (Bandara Sultan Baabullah) yang dioperasikan oleh Wings Air (tipe AT75 dan AT76). Penerbangan ini dilakukan setiap hari Rabu pukul 13.05 WIT dari Morotai menuju Ternate.
Meskipun saat ini operasionalnya masih didominasi pesawat baling-baling, potensi Bandara Pitu sangat besar mengingat statusnya sebagai pintu masuk ke kawasan yang kaya akan potensi emas, biji besi, dan keindahan bahari yang mempesona.
Lokasinya yang strategis menjadikannya titik penting dalam strategi geopolitik nasional sebagai gerbang Indonesia menuju kawasan Pasifik, sekaligus menjadi penunjang utama bagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai.
Bandara ini turut berperan penting di sektor pariwisata, mengingat bidang ini merupakan salah satu tumpuan untuk peningkatan pendapatan nasional dan daerah. Ditambah lagi, pemerintah juga menetapkan Pulau Morotai sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional (DPP) berkat keindahan dan sejarahnya yang unik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


