bandara kertajati mau jadi pusat mro hercules asia adakah untungnya untuk indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Bandara Kertajati Mau Jadi Pusat MRO Hercules Asia, Adakah Untungnya untuk Indonesia?

Bandara Kertajati Mau Jadi Pusat MRO Hercules Asia, Adakah Untungnya untuk Indonesia?
images info

Bandara Kertajati Mau Jadi Pusat MRO Hercules Asia, Adakah Untungnya untuk Indonesia?


Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI berencana menyiapkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, untuk dijadikan pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di kawasan Asia. Hal ini dilakukan setelah kunjungan Menhan di Pentagon, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

C-130 Hercules merupakan pesawat terbang yang ditugaskan sebagai pesawat angkut militer. Pesawat buatan Amerika Serikat ini banyak digunakan di berbagai negara di dunia untuk mendukung operasional kargo atau pasukan, evakuasi medis dan kemanusiaan, dan lain sebagainya.

Indonesia sendiri, armada Hercules tipe ini digunakan oleh TNI AU untuk mendukung operasi militer dan non-militer. Indonesia menerima pesawat ini pada 1960. Bahkan, Indonesia dikatakan sebagai negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan pesawat Hercules, sekaligus menjadi yang pertama di Asia.

Apa Itu MRO?

MRO atau Maintenance, Repair, and Overhaul adalah proses pemeliharaan, perbaikan, dan perawatan menyeluruh untuk pesawat. Secara sederhana, MRO bisa dibilang seperti bengkelnya pesawat.

MRO sangat penting untuk memastikan setiap pesawat yang akan terbang aman (airworthy), mematuhi regulasi penerbangan, dan betul-betul laik untuk diterbangkan. Di bengkel ini, pesawat akan diperiksa oleh para teknisi yang bersertifikat.

Tak hanya itu, industri MRO diatur secara ketat oleh otoritas terkait, seperti Kementerian Perhubungan dan tunduk pada regulasi Civil Aviation Safety Regulation (CASR) demi menjamin keselamatan seluruh penumpang.

Tiap negara memiliki regulasi atau aturan terkait bengkel pesawat terbang. Di Indonesia sendiri, regulasi itu diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan CASR.

Indonesia memiliki beberapa fasilitas bengkel pesawat atau MRO, seperti Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF), Batam Aero Tehcnic (BAT), FL Technics Indonesia, dan sebagainya.

Kenapa Bandara Kertajati Dipilih?

Bandara Kertajati dipilih karena bandara tersebut memiliki lahan yang memadai untuk mendukung industri perawatan pesawat. Bandara ini memiliki luas total sekitar 1.800 hektare, menjadikannya sebagai bandara terluas kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta.

Selain itu, Bandara Kertajati juga sudah memiliki fasilitas pendukung penerbangan yang memadai. Kertajati memiliki dua runways. Tak hanya itu, area terminal penumpangnya juga luas, yakni mencapai 121.000 meter2. Sementara itu, area kargonya memiliki luas 90.000 meter2.

Bandara ini memiliki apron seluas 576 x 151 meter yang bisa menampung empat jet wide body sekelas Boeing 777 atau Airbus 330 serta enam jet narrow body sekelas Boeing 737 atau Airbus 320.

Keuntungan Bandara Kertajati sebagai Pusat MRO Hercules

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, dalam keterangannya yang dimuat ANTARA menyebut bahwa dipilihnya Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat MRO Hercules Asia bisa memberikan dampak baik dalam penguatan pertahanan Indonesia.

Indonesia disebutnya akan semakin mudah untuk membangun kerja sama dan hubungan diplomasi dengan negara-negara Asia pengguna pesawat angkut Hercules. Saat ini, banyak negara di Asia yang menggunakan pesawat Hercules, seperti Filipina, Jepang, Tailan, Malaysia, dan sebagainya.

Artinya, dipilihnya Indonesia sebagai lokasi MRO di kawasan Asia bisa menjadikan negara ini sebagai simpul penting rantai logistik penerbangan militer di kawasan Asia.

"Langkah ini juga sejalan dengan upaya penguatan kemandirian industri pertahanan dan dukungan logistik penerbangan strategis nasional," katanya.

Di sisi lain, proyek MRO berskala Asia ini juga bisa membuka potensi kolaborasi dengan industri lokal demi terwujudnya kemandirian pertahanan RI. Hal ini bisa mempercepat transfer teknologi dirgantara bagi pekerja asal Indonesia.

Lebih dari itu, Bandara Kertajati selama ini dianggap sebagai “beban fiskal” karena minimnya jumlah penumpang dan aktivitas penerbangan di sana. Proyek besar itu bisa mengubah kawasan bandara itu menjadi area yang kebih produktif, termasuk lewat penyerapan tenaga kerja lokal.

Meskipun demikian, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta pemerintah untuk tetap berhati-hati terkait persetujuan menjadikan Bandara Kertajati sebagai MRO di kawasan Asia. Meskipun Indonesia bisa mendapatkan keuntungan banyak, tetapi tetap perlu ada kejelasan seberapa besar cakupan MRO tersebut.

Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, menilai jika MRO tersebut hanya akan digunakan oleh pesawat milik AS di kawasan Asia Pasifik, maka hal itu akan berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan politik strategis.

“Jika fasilitas tersebut eksklusif untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia, maka persepsinya bisa berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia,” katanya melalui dpr.go.id.

Lebih lanjut, ia juga meminta agar ada regulasi, tata kelola, dan pengaturan zonasi yang jelas karena Bandara Kertajati berstatus sebagai bandara sipil, sehingga tidak akan mengganggu fungsi pelayanan sipil.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.