Di tengah derasnya arus permainan digital dan kebiasaan duduk terlalu lama, sebuah pendekatan sederhana dari permainan tradisional kembali menunjukkan relevansinya di dunia pendidikan.
Di SD Negeri Umbulwidodo, permainan kasti tidak sekadar dihidupkan kembali sebagai aktivitas olahraga. Namun, juga dijadikan media pembelajaran untuk mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari laporan tugas akhir semester 2 mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan yang disusun oleh Kelompok 6 PJKR C 2025 Universitas Negeri Yogyakarta.
Melalui program observasi dan edukasi olahraga berbasis permainan tradisional, kelompok ini berupaya membuktikan bahwa permainan lama tetap bisa memberi manfaat besar jika dikemas dengan cara yang tepat.
Program tersebut bukan hanya soal mengajak anak bergerak, tetapi juga soal membangun kebiasaan sehat, menumbuhkan karakter, dan menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Di lapangan sekolah, Kasti menjadi jembatan antara olahraga, pendidikan, dan budaya lokal.
Menjawab Tantangan Aktivitas Fisik Anak
Latar belakang kegiatan ini berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak masa kini: berkurangnya aktivitas fisik. Penggunaan gawai, permainan digital, dan kebiasaan sedentari membuat banyak anak lebih sering duduk dalam waktu lama dibanding bergerak aktif.
Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat berdampak pada kebugaran jasmani, daya tahan tubuh, koordinasi gerak, hingga kesehatan mental dan sosial anak.
Bagi mahasiswa pelaksana, kondisi tersebut menjadi alasan kuat untuk menghadirkan kegiatan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga bermanfaat secara langsung bagi anak sekolah dasar.
Pendidikan jasmani dianggap tidak boleh berhenti sebagai aktivitas rutin yang sekadar memenuhi jam pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan jasmani harus menjadi ruang untuk membentuk kepribadian, disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan sportivitas.
Karena itulah, permainan tradisional kasti dipilih. Permainan ini dinilai sesuai dengan karakteristik siswa kelas 4–5 SD, yang sedang berada pada masa penting perkembangan motorik.
Di usia ini, anak membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, aktif, dan melibatkan banyak gerak. Kasti memenuhi kebutuhan itu dengan sangat baik.
Kasti sebagai Media Belajar
Dalam pelaksanaannya, permainan ini tidak hanya diperkenalkan sebagai permainan, tetapi juga sebagai media belajar yang mengajarkan banyak hal sekaligus. Anak-anak berlatih berlari, melempar, menangkap, dan memukul. Di saat yang sama, mereka juga belajar memahami aturan, menyusun strategi, mengambil keputusan cepat, dan bekerja sama dalam tim.
Nilai edukatif kasti inilah yang membuat permainan ini tetap relevan meski zaman sudah berubah. Di satu sisi, ia melatih kemampuan fisik.
Di sisi lain, ia juga menjadi sarana pembentukan karakter. Anak belajar bahwa menang bukan satu-satunya tujuan. Ada nilai kejujuran, disiplin, saling menghargai, dan sportivitas yang sama pentingnya.
Pendekatan ini juga mendukung SDG 4, yakni pendidikan berkualitas. Pembelajaran yang baik bukan hanya yang membuat siswa tahu, tetapi juga yang membuat siswa terlibat aktif dan merasa senang.
Dalam aktivitas tersebut, seluruh siswa diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi tanpa dibedakan berdasarkan kemampuan fisik maupun gender. Prinsip inklusif seperti ini penting agar pendidikan olahraga benar-benar bisa menjangkau semua anak.
Kegiatan ini dilaksanakan di SD Negeri Umbulwidodo dan diikuti oleh 28 siswa kelas 4–5. Seluruh peserta mengikuti dari awal hingga akhir dan juga mengisi kuesioner. Hasilnya, 26 siswa memberikan respon positif terhadap kasti yang mereka ikuti.
Hasil yang Terlihat di Lapangan
Dari kegiatan yang dilakukan, ada beberapa hasil yang menonjol. Pertama, siswa menjadi lebih aktif bergerak. Ini terlihat dari antusiasme mereka saat mengikuti latihan dasar dan permainan.
Kedua, siswa menunjukkan ketertarikan yang cukup tinggi terhadap permainan tradisional yang mungkin sebelumnya tidak terlalu akrab bagi mereka.
Ketiga, siswa mulai memahami pentingnya olahraga bagi kesehatan tubuh. Ini sejalan dengan tujuan SDG 3, karena anak didorong untuk menyadari bahwa tubuh yang sehat perlu dijaga melalui gerak aktif dan kebiasaan hidup sehat. Keempat, mereka juga belajar menghargai teman, bekerja sama, dan bermain dengan lebih tertib.
Hasil observasi ini menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat yang kuat dalam pendidikan dasar. Ketika dikemas dengan cara yang sesuai, permainan seperti Kasti bisa menjadi alat pembelajaran yang efektif, murah, dekat dengan budaya lokal, dan mudah diterapkan di sekolah.
Salah satu kelebihan dari kegiatan ini adalah suasana belajar yang terasa lebih cair. Anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mempraktikkan apa yang dipelajari.
Pendekatan ini membuat mereka lebih mudah memahami manfaat olahraga, aturan permainan, dan pentingnya sikap sportif.
Di sela-sela permainan, siswa juga mendapat penjelasan singkat mengenai manfaat gerak bagi kesehatan tubuh. Penjelasannya sederhana, tetapi cukup efektif untuk menanamkan pemahaman dasar bahwa olahraga bukan hanya untuk kesenangan, melainkan juga untuk menjaga kebugaran dan kesejahteraan tubuh.
Bagi tim pelaksana, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang penting. Mereka tidak hanya menjalankan program, tetapi juga melatih kemampuan kerja sama, observasi lapangan, komunikasi dengan pihak sekolah, dan refleksi atas pelaksanaan kegiatan. Dengan kata lain, program ini memberi manfaat dua arah: bagi siswa dan bagi mahasiswa pelaksana.
Permainan Tradisional dan Karakter Anak
Di tengah dominasi permainan digital, permainan tradisional seperti Kasti menawarkan sesuatu yang berbeda. Anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan teman sebaya, bukan dengan layar. Mereka belajar menunggu giliran, mematuhi aturan, menerima kekalahan, dan merayakan keberhasilan bersama.
Nilai-nilai semacam ini sangat penting dalam pembentukan karakter. Anak yang terbiasa bermain secara sehat akan lebih mudah memahami konsep kerja sama dan tanggung jawab.
Dalam konteks pendidikan dasar, hal ini sangat relevan karena karakter tidak dibentuk hanya lewat nasihat, tetapi melalui pengalaman nyata.
Kasti juga menghidupkan kembali warisan budaya lokal yang mulai jarang dikenal generasi muda. Dengan mengenalkan permainan tradisional di sekolah, pendidikan ikut berperan menjaga ingatan budaya agar tidak hilang. Ini menjadi bagian penting dari pendidikan yang tidak hanya memikirkan masa depan, tetapi juga menghargai akar.
Dari sisi keberlanjutan, program ini punya peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara berkala sebagai bagian dari pembelajaran pendidikan jasmani. Permainan kasti juga bisa dimasukkan ke dalam agenda olahraga sekolah, diperluas ke kelas lain, atau dikembangkan bersama guru dan pihak sekolah agar lebih terstruktur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


