Setelah 17 tahun sejak film pertamanya dirilis, Garuda di Dadaku kembali hadir dengan wajah baru. Lewat format animasi, film garapan Ronny Gani yang diproduksi oleh BASE Entertainment dan KAWI Animation ini mengikuti perjalanan Putra, seorang anak yang bermimpi menjadi pemain tim nasional Indonesia dengan berbagai masalah dan tantangan di hidupnya.
Garuda di Dadaku baru saja menggelar press conference dan media screening pada Rabu (3/5/2026) di Epicentrum XXI. Acara ini dihadiri oleh jajaran produser, sutradara, hingga para pemainnya, seperti Quinn Salman yang memerankan Naya, Keanu Azka sebagai Putra, Kristo Immanuel sebagai Gaga, hingga Ibnu Jamil yang mengisi suara Ayah Putra.
Para pemain berbagi pengalaman mereka selama proses produksi sekaligus menyampaikan pesan yang ingin dibawa film animasi keluarga ini kepada para penonton.
Sinopsis Garuda di Dadaku
Garuda di Dadaku mengisahkan Putra, seorang anak laki-laki yang memiliki mimpi besar untuk menjadi pemain tim nasional Indonesia. Dalam perjalanannya mengejar cita-cita, Putra harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rasa takut, keraguan, hingga kegagalan yang membuatnya mempertanyakan kemampuannya sendiri.
Di tengah perjuangannya, Putra ditemani oleh Gaga, sosok Garuda kecil magis yang membantunya menemukan kembali keberanian untuk melangkah. Ia juga didukung oleh Naya, sahabat yang selalu mengingatkannya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diraih selama tidak berjuang sendirian.
Melalui petualangan yang hangat dan penuh tawa, film ini mengajak penonton melihat bahwa keajaiban tidak selalu dimulai dari kemenangan besar, melainkan dari langkah kecil dan dukungan orang-orang yang percaya kepada kita.
Garuda di Dadaku Membawa Pesan Berarti
Dukungan dalam meraih mimpi menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Garuda di Dadaku. Pesan tersebut tidak hanya hadir melalui perjalanan Putra sebagai tokoh utama, tetapi juga tercermin dalam proses produksi film yang melibatkan ratusan kreator animasi Indonesia.
Produser Aoura Lovenson Chandra mengatakan bahwa pesan yang ingin dibawakan oleh film ini adalah bahwa mimpi besar tidak dapat diwujudkan seorang diri. Menurutnya, semangat tersebut juga tercermin dalam proses produksi film yang melibatkan lebih dari 550 animator dan 17 studio dari berbagai daerah di Indonesia.
“Bagaimana kita bisa achieve great things itu nggak sendirian. It takes a village to do some great stuff. Kolaborator kami itu banyak sekali. Ada lebih dari 17 studio, kemudian lebih dari 550 animator yang terlibat. Dan ini semua kita kerjakan bersama-sama dengan spirit yang sama,” ujarnya.
Aoura juga menilai dukungan dari orang-orang terdekat menjadi hal penting agar anak-anak berani mengejar apa yang mereka cita-citakan.
“Kadang-kadang anak-anak itu mimpinya harus didukung. Kita sudah makin berumur, biasanya makin apatis. Tapi jangan biarkan anak-anak kita itu mimpinya mati. Mimpi kita boleh mati, tapi mimpi anak-anak kita nggak boleh mati,” lanjutnya.
Senada dengan Aoura, produser Shanty Harmayn menilai semangat "berani bermimpi" yang menjadi identitas Garuda di Dadaku sejak film pertamanya dirilis pada 2009 masih relevan hingga sekarang.
Menurutnya, saat film pertama dibuat, tidak banyak pihak yang percaya bahwa film keluarga bertema sepak bola dapat diterima oleh penonton. Namun, keberhasilan film tersebut membuktikan bahwa mimpi besar dapat terwujud ketika diperjuangkan bersama.
Karena itu, ia berharap pesan tentang keberanian mengejar mimpi yang dibawa Garuda di Dadaku dapat terus menginspirasi generasi muda di masa mendatang.
Gandeng Talenta Muda Indonesia
Selain menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan anak-anak, Garuda di Dadaku juga menggandeng sejumlah talenta muda untuk menghidupkan karakter-karakternya. Talenta muda ini di antaranya seperti Keanu Azka, yang dipercaya mengisi suara Putra, Quinn Salman sebagai Naya, serta Bima Sena sebagai Aldo.
Bagi Keanu Azka, keterlibatannya dalam film ini menjadi pengalaman yang cukup berkesan. Ia mengaku sempat merasa gugup saat menjalani proses pengisian suara karena merupakan hal baru baginya.
“Aku deg-degan banget karena ini hal yang baru buat aku ya, jadi ngisi suara. Aku takut salah. Tapi Alhamdulillah aku dibantu sama Om Ronny, Kak Kristo, dan Om Ibnu. Jadi mereka semuanya kayaksupport system aku,” ujarnya.
Keanu juga berharap pesan yang dibawa film ini dapat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk terus mengejar cita-citanya.
Sementara itu, Quinn Salman mengaku bangga dapat memerankan Naya, karakter yang digambarkan sebagai sosok perempuan yang kuat dan memiliki jiwa kepemimpinan. Menurutnya, karakter tersebut menunjukkan bahwa perempuan juga mampu berprestasi dan berperan penting dalam sebuah tim, terlebih lagi sepak bola.
Tak hanya menjadi pengisi suara, Quinn juga turut menyanyikan sekaligus terlibat dalam proses penciptaan lagu original soundtrack berjudul "Bersama Sang Garuda".
Film Garuda di Dadaku akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026. Selain menghadirkan soundtrack dari Quinn Salman, film ini juga akan dimeriahkan oleh lagu Garuda di Dadaku yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


