Kabar membanggakan datang dari industri perfilman Indonesia. Film animasi Garuda di Dadaku (Garuda: Dare to Dream) resmi terpilih untuk berkompetisi dalam kategori Golden Goblet Award – Animation Competition di ajang bergengsi Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.
Terpilihnya film ini menjadi pencapaian penting bagi dunia animasi Tanah Air. Di festival film internasional tersebut, Garuda di Dadaku akan bersaing dengan berbagai karya animasi dari sejumlah negara yang turut memperebutkan penghargaan Golden Goblet Award. Keikutsertaan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kualitas animasi Indonesia terus berkembang dan semakin mendapat perhatian dunia.
Partisipasi Garuda di Dadaku di Shanghai International Film Festival juga diharapkan membuka jalan bagi lebih banyak karya animasi Indonesia untuk tampil di panggung global. Selain menjadi kebanggaan bagi para kreator, pencapaian tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan industri animasi yang terus bertumbuh dan semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
Film Animasi tentang Mimpi dan Sepak Bola
Garuda di Dadaku dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 11 Juni 2026, bertepatan dengan momentum libur sekolah dan dimulainya Piala Dunia 2026. Waktu perilisan tersebut dinilai menjadi kesempatan strategis untuk menjangkau lebih banyak penonton keluarga.
Produser film, Shanty Harmayn, berharap momen tersebut dapat mendorong orang tua dan anak menikmati film bersama.
"Kebetulan Piala Dunianya bareng-bareng sama liburan sekolah. Jadi harapan saya orang tuanya malam nonton bola, siangnya mengajak anaknya nonton film," ujar Shanty dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Selasa (7/4/2026).
Menurut Shanty, kesamaan momentum antara film dan pesta sepak bola terbesar di dunia tersebut menjadi keuntungan tersendiri. Pasalnya, keduanya sama-sama membawa pesan tentang mimpi, perjuangan, dan semangat meraih cita-cita.
"Piala Dunia adalah selebrasi daripada sepak bola yang selebrasi terbesar, di mana mimpinya dibangun. Jadi ini sangat, istilahnya, mari kita rayakan bersama," kata Shanty.
Film animasi ini menjadi babak baru dari waralaba Garuda di Dadaku yang pertama kali hadir dalam format live-action pada 2009. Berbeda dengan versi sebelumnya, Garuda: Dare to Dream menghadirkan pendekatan baru dengan sentuhan fantasi.
Cerita berfokus pada Putra, remaja berusia 14 tahun yang bercita-cita menjadi pesepak bola nasional. Dalam perjalanannya mengejar mimpi, ia ditemani Gaga, seekor burung Garuda kecil yang memiliki kekuatan magis. Kisah persahabatan dan perjuangan keduanya menjadi inti cerita yang ingin menginspirasi generasi muda Indonesia.
Film ini disutradarai oleh Ronny Gani, animator dan seniman efek visual yang pernah terlibat dalam sejumlah produksi Hollywood, termasuk beberapa film di Marvel Cinematic Universe. Produksi Garuda di Dadaku juga melibatkan ratusan animator lokal serta didukung pengisi suara seperti Keanu Azka, Quinn Salman, Kristo Immanuel, dan Revalina S. Temat.
Dukungan Pemerintah untuk Industri Animasi Lokal
Perjalanan Garuda di Dadaku tidak hanya mendapat dukungan dari industri kreatif, tetapi juga pemerintah. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) melihat film ini sebagai salah satu Intellectual Property (IP) lokal yang memiliki potensi besar untuk berkembang.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menilai momentum penayangan film yang berdekatan dengan libur sekolah dan Piala Dunia 2026 dapat dimanfaatkan untuk membangun promosi yang berkelanjutan.
"Film animasi seperti Garuda di Dadaku punya momentum untuk tayang saat libur sekolah dan awal Piala Dunia 2026 sehingga kita bisa melakukan suatu promosi yang berkelanjutan dengan berbagai pihak," kata Teuku Riefky Harsya.
Ia juga mengusulkan berbagai langkah promosi, termasuk penyelenggaraan nonton bareng bersama jajaran pemerintah dan berbagai komunitas.
"Selanjutnya, film dengan talenta kreatif Indonesia ini juga bisa diadakan nonton bareng (nobar) dengan jajaran Kabinet Merah Putih dan keluarganya sehingga gaung film bisa dipersiapkan lebih awal sebelum rilis," lanjutnya.
Lebih jauh, pemerintah ingin memastikan Garuda di Dadaku tidak hanya sukses sebagai film layar lebar, tetapi juga berkembang menjadi IP yang memiliki nilai ekonomi jangka panjang.
"Kementerian Ekraf akan memastikan bahwa IP dari film animasi ini tidak berhenti di layar lebar, tetapi bisa berkembang menjadi produk turunan yang bermacam-macam seperti merchandise, konten edukatif, hingga aktivasi di berbagai daerah supaya memberi dampak semakin luas," ujar Teuku Riefky.
Dukungan tersebut disambut positif oleh pihak produksi. Co-founder BASE Entertainment Ben Soebiaktomengungkapkan bahwa film ini merupakan hasil kerja panjang selama tiga tahun dan melibatkan hampir 550 animator dari berbagai daerah di Indonesia.
"Proses Film Garuda di Dadaku sudah sampai ujungnya atau selesai setelah selama 3 tahun melalui produksi, editing animasi, hingga dilengkapi mixing sound and music, sampai proses pembuatan Digital Cinema Package (DCP). Film animasi ini sudah ready untuk tayang dengan melibatkan hampir 550 animator dari Batam, Malang, Bogor, Bali, Jogja, dan wilayah lain yang terus mendukung industri film animasi di Indonesia," ucap Ben Soebiakto.
Dengan keberhasilan menembus kompetisi Shanghai International Film Festival serta dukungan penuh dari pemerintah dan industri kreatif, Garuda di Dadaku kini menjadi salah satu simbol kebangkitan animasi Indonesia. Film ini tidak hanya membawa kisah tentang sepak bola dan mimpi, tetapi juga menjadi representasi kemampuan kreator lokal untuk bersaing di panggung dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


