Silat merupakan salah satu seni bela diri tradisional khas yang berasal dari Indonesia. Seni bela diri ini bahkan sudah diakui menjadi Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia oleh UNESCO pada 2019 silam.
Selain berkembang di Indonesia, silat juga bisa dijumpai di negara tetangga, seperti Malaysia dan sekitarnya. Bahkan silat sudah menjadi salah satu cabang olahraga yang dilombakan dalam beberapa helatan internasional.
Mundur beberapa dekade silam, tepatnya pada 1980-an, ternyata seni bela diri ini menarik minat orang-orang yang ada di Eropa. Pada periode tersebut, seni bela diri silat diketahui berkembang pesat di Benua Biru pada waktu ini.
Perkembangan ini ternyata juga dipengaruhi oleh helatan akbar yang digelar di Indonesia pada periode tersebut. Lantas bagaimana momen saat seni bela diri silat berkembang pesat di Eropa pada periode 1980-an?
Perkembangan Silat di Eropa pada 1980-an
Dikutip dari artikel "Silat Berkembang Pesat di Barat" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 12 Desember 1987, Kejuaraan Dunia Silat yang keempat digelar di Kuala Lumpur, Malaysia pada 1987. Terdapat 19 negara yang saling bertanding memperebutkan gelar terbaik pada waktu itu.
Uniknya negara yang ikut tidak hanya berasal dari daerah Asia Tenggara dan sekitarnya. Banyak negara barat yang juga ikut terlibat pada waktu itu.
Beberapa negara barat yang ikut serta dalam kejuaraan internasional tersebut di antaranya Jerman Barat, Prancis, Yugoslavia, Spanyol, Belanda, dan Amerika Serikat.
Keterlibatan banyak negara ini sejalan dengan perkembangan olahraga tersebut di beberapa negara bahkan. Bahkan dalam artikel tersebut dijelaskan, di Spanyol saja pada waktu itu sudah ada 2.800 pesilat yang tersebar di 22 klub yang ada di sana.
Bermula di Indonesia
Perkembangan pesat silat di Eropa ini tidak terpisahkan dari helatan Kejuaraan Dunia Silat pertama yang digelar di Indonesia pada 1982. Pada waktu itu, ada 11 negara yang ikut serta.
Angka ini meningkat pada Kejuaraan Dunia Silat kedua yang juga digelar di Indonesia pada 1984. Tren serupa juga terjadi pada Kejuaraan Dunia Silat ketiga yang digelar di Austria yang diikuti oleh 15 negara.
Perkembangan ini juga dipengaruhi oleh peran guru-guru silat di Indonesia. Hal ini sebagaimana yang digambarkan oleh Juan I. Barreneta Sagardui, salah seorang guru silat dari Spanyol.
Pesilat yang menekuni silat aliran Harimau Minangkabau ini menuntut ilmu dari guru Indonesia yang bernama Adyto Hanafi. Pertemuan Juan dengan Adyto Hanafi terjadi saat dirinya berusia 9 tahun di Prancis.
Pertemuan ini berlanjut pada bimbingan silat aliran Setia Hati yang diajarkan langsung oleh Adyto Hanafi. Untuk memperdalam ilmunya, Juan bahkan pergi langsung ke Sumatra dan belajar silat di sana.
Bekal ilmu inilah yang membuat Juan mulai membuka kelas silat pada 1979 silam.
Tidak Hanya Sekadar Seni Bela Diri
Ketertarikan orang-orang Eropa pada silat ternyata tidak terbatas pada seni bela diri saja. Ada nilai lain yang menarik minat dari seni bela diri tersebut.
Juan menyebutkan jika silat berbeda dengan seni bela diri lainya. Dia merasa jika silat merupakan seni bela diri yang lebih lengkap, baik dalam hal jasmani maupun rohani.
Hal senada juga disampaikan oleh atlet silat asal Prancis pada waktu itu, yakni Mariel Kavos. Dirinya belajar langsung seni bela diri ini ke Indonesia dengan guru Muhamad Raban.
Mariel merasa jika ilmu silat memberikan pegangan hidup terhadapnya. Ilmu silat yang juga dekat dengan ajaran Islam membuatnya tertarik untuk mendalami wawasan terkait agama, tidak terbatas pada seni bela diri saja.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


