Teluk Bintuni adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua Barat. Ibu kota kabupaten ini berada di Distrik Bintuni.
Kabupaten Teluk Bintuni dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Kabupaten ini memiliki 11 distrik yang meliputi 95 kampung dan dua kelurahan.
Seperti halnya kabupaten-kabupaten lain di Tanah Papua, Teluk Bintuni juga sangat luas. Berdasarkan Kepmendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025, uas Kabupaten Bintuni mencapai 19.947 km2.
Teluk Bintuni termasyhur dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah ruah. Mulai dari perikanan, pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, sampai pertambangan, semuanya ada di kabupaten ini.
Tanah Tujuh Suku Teluk Bintuni: Penjaga Alam Bintuni
Disadur dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat, Teluk Bintuni hidup dengan tujuh suku besar di dalamnya. Konon, dikatakan awalnya Suku Wamesa, si penutur laut yang lihai membaca bitang dan arus, datang di kawasan itu.
Seiring berjalannya waktu, lahirlah suku-suku lain, seperti Kuri dan Irarutu di pesisir rawa. Mereka “bertugas” menjaga tanah dan sagu sebagai sumber kehidupan.
Kemudian, di bagian selatan, ada suku Sebyar dan Samuri. Mereka hidup berdampingan dengan laut. Sementar itu, di arah pedalaman, ada suku Moskona dan Sough yang hidup menyatu dengan hutan.
Uniknya, tujuh suku ini memiliki bahasa dan adat yang berbeda. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga tanah, alam, dan sesama mereka. Dari siniah kemudian muncul wilayah adat yang dikenal dengan Tanah Tujuh Suku Teluk Bintuni.
Teluk Bintuni yang Punya Hutan Mangrove Besar
Melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Fakfak, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL), Kementerian Perhubungan RI, Teluk Bintuni adalah kawasan konservasi mangrove yang sangat penting secara ekologis. Mangrove Bintuni ditetapkan sebagai tempat tumbuh bakau terbaik di dunia setelah Raja Ampat.
BPS Papua Barat mencatat, luas hutan mangrove di Teluk Bintuni mencapai 2,25 hektare. Jumlah ini sama dengan 8,9 persen dari seluruh mangrove di Indonesia.
Hutan mangrove Bintuni menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk kepiting bakau, ikan-ikan endemik, dan berbagai jenis burung. Saking berharganya, masyarakat setempat sampai menganggap bahwa mangrove bukan sekadar pohon, tapi “ibu tanah dan air” yang menjadi tempat hidup berbagai jenis hewan sekaligus pelindung kampung dari abrasi.
Sayangnya, kawasan mangrove ini mengalami ancaman serius akibat semakin masifnya pembalakan kayu, alih fungsi lahan, hingga proyek pembangunan. Padahal, Teluk Bintuni menyimpan karbon yang tinggi yang berperan penting dalam memitigasi krisis iklim.
Cadangan Gas Bintuni yang Melimpah
Selain terkenal karena mangrovenya, Teluk Bintuni juga memiliki cadangan gas bumi yang sangat besar, bahkan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Wilayah ini memiliki kilang LNG (Liquified atural Gas) yang bernama Kilang LNG Tangguh.
Kilang LNG Tangguh merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berperan sebagai produsen gas terbesar di Indonesia. Kilang ini memasok sepertiga total produksi gas nasional.
Sebagian besar LNG dari Bintuni juga diekspor ke berbagai negara sahabat, mulai dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan.
Proyek LNG ini menjadi denyut nadi perekonomian Bintuni. Tahun 2024, ekonomi Teluk Bintuni tumbuh pesat sampai 29,22 persen. Nilai PDRB-nya juga mencapai Rp52,36 triliun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


