jejak sejarah bumi sukowati kabupaten sragen - News | Good News From Indonesia 2026

Menyusuri Jejak Pangeran Mangkubumi di Bumi Sukowati, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah

Menyusuri Jejak Pangeran Mangkubumi di Bumi Sukowati, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
images info

Lambang Kabupaten Sragen (Wikipedia)


Kabupaten Sragen, sebuah wilayah yang terletak di ujung timur Jawa Tengah, seringkali dikenal sebagai gerbang penghubung antara Surakarta dan Jawa Timur.

Namun, di balik keramaian jalur transportasinya, wilayah ini menyimpan narasi sejarah yang sangat panjang dan heroik.

Identitas Sragen tidak hanya terbentuk dari letak geografisnya, melainkan dari kepingan peristiwa masa lalu yang melibatkan intrik keraton, perlawanan terhadap kolonialisme, serta loyalitas rakyat terhadap pemimpinnya.

Perlawanan Pangeran Mangkubumi

Sejarah berdirinya Kabupaten Sragen tidak dapat dipisahkan dari gejolak politik yang melanda Keraton Mataram Islam pada pertengahan abad ke-18.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Sragen, ketidakadilan dan dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang semakin mencengkeram kedaulatan keraton memicu ketidakpuasan di kalangan bangsawan, terutama Pangeran Mangkubumi. Adik dari Sunan Paku Buwono II ini melihat bahwa campur tangan Belanda telah melampaui batas kewajaran dan merugikan rakyat.

baca juga

Puncak dari ketegangan tersebut terjadi pada bulan Mei 1746. Pangeran Mangkubumi mengambil keputusan besar untuk meninggalkan kemewahan Keraton Surakarta. Sang Pangeran memilih jalan pedang dan bergerilya melawan kompeni. Rute pelarian tersebut membawa ke sebuah wilayah bernama Desa Pandak, Karangnongko, yang kini masuk dalam wilayah administrasi Sragen.

Di desa inilah, tepatnya pada tanggal27 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi memproklamirkan perlawanannya terhadap Belanda. Tanggal tersebut menjadi momen krusial karena menandai awal mula terbentuknya pemerintahan lokal yang menjadi cikal bakal Kabupaten Sragen.

Oleh karena itu, melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1987, tanggal 27 Mei ditetapkan secara resmi sebagai Hari Jadi Kabupaten Sragen.

Mengupas Makna Julukan Bumi Sukowati

Secara etimologi, dikutip dari laman Detik.com artikel berjudul "Sejarah dan Asal Usul Sragen yang Erat Kaitannya dengan Perang Mangkubumen", Sukowati dipercaya berasal dari gabungan kata yang memiliki makna filosofis mendalam.

Ada yang menafsirkan Suka sebagai kebahagiaan dan Wati sebagai dunia atau jagat raya, menggambarkan sebuah wilayah yang gemah ripah loh jinawi, aman, dan tenteram.

Namun, dalam konteks sejarah perjuangan, nama Sukowati menjadi masyhur karena wilayah ini dijadikan basis pertahanan utama pasukan Pangeran Mangkubumi (yang kelak bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I).

Selama masa perang gerilya yang berlangsung dari tahun 1746 hingga 1757, rakyat Sukowati menunjukkan loyalitas tanpa batas kepada Pangeran Mangkubumi. Wilayah ini menjadi lumbung logistik dan benteng pertahanan yang sulit ditembus oleh pasukan VOC.

Ikatan emosional antara pemimpin dan rakyat yang terjalin di tanah inilah yang membuat julukan Bumi Sukowati tetap abadi hingga detik ini, menyimbolkan tanah perjuangan dan kesetiaan.

baca juga

Asal-Usul Nama Sragen

Perubahan nama dari Sukowati menjadi Sragen memiliki beberapa versi sejarah yang berkembang di masyarakat. Penelusuran asal-usul nama ini seringkali bermuara pada dua narasi besar.

Versi pertama mengaitkan nama Sragen dengan frasa Jawa "pasrah lan legen". Konon, hal ini berkaitan dengan persembahan atau upeti berupa legen (air nira/bahan gula) yang diserahkan oleh masyarakat setempat kepada penguasa. Kata pasrah (berserah) dan legen kemudian mengalami penyusutan pelafalan menjadi Sragen.

Namun, versi kedua dinilai memiliki dasar historis yang lebih kuat, yaitu keterkaitannya dengan tokoh lokal bernama Ki Ageng Srenggi. Beliau merupakan seorang pemimpin atau tokoh masyarakat yang disegani di wilayah tersebut sebelum kedatangan Pangeran Mangkubumi.

Dalam lidah masyarakat Jawa, pelafalan nama seringkali mengalami pergeseran untuk memudahkan penyebutan. Nama Srenggi lambat laun berubah bunyi menjadi Sragen.

Penggunaan nama Sragen sebagai identitas administratif mulai menguat seiring dengan penataan birokrasi kolonial dan keraton pasca berakhirnya perang.

Dampak Perjanjian Giyanti dan Pembagian Wilayah

Perang Mangkubumen yang berkobar selama belasan tahun akhirnya menemui titik penyelesaian melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian ini membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kekuatan besar: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi kemudian naik tahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I dan mendirikan Keraton Yogyakarta. Meskipun Sukowati (Sragen) merupakan basis perjuangan utama Pangeran Mangkubumi untuk mendirikan Yogyakarta, wilayah ini secara administratif justru masuk ke dalam wilayah kedaulatan Kasunanan Surakarta (Sunan Pakubuwono III) setelah pembagian wilayah disepakati.

Keputusan politik masa lalu ini menjadikan Sragen sebagai salah satu daerah penyangga (hinterland) terpenting bagi Surakarta, baik dari sisi ekonomi, pertanian, maupun budaya.

baca juga

Struktur pemerintahan kabupaten pun mulai ditata lebih modern mengikuti pola administrasi Hindia Belanda, namun tetap mempertahankan akar budaya Jawanya.

Sragen adalah bukti nyata bagaimana sebuah wilayah kecil dapat memegang peranan besar dalam sejarah nusantara. Dari hutan belantara tempat Pangeran Mangkubumi menyusun strategi, hingga menjadi kabupaten modern yang dinamis, Sragen terus berevolusi tanpa melupakan akarnya.

Julukan Bumi Sukowati akan selalu menjadi pengingat tentang keberanian dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Sragen bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi yang menawarkan kekayaan cerita dan kearifan lokal yang patut digali lebih dalam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.