mengenal battered women syndrome - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Battered Women Syndrome, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Mengenal Battered Women Syndrome, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
images info

Battared Woman Syndrome (Department of Foreign Affairs and Trade)


Harus mulai dari kata seperti apa untuk mendefinisikan wanita? Apakah cukup dengan kata "manusia" agar semuanya setara?

Artikel ini ditulis sebagai bentuk psikoedukasi kepada wanita di luar sana yang sedang berada di dalam ruang hampa pada cinta yang dulunya hadir, kemudian berubah menjadi duka. Pada mereka korban kekerasan baik secara fisik, psikis, seksual, dan pengontrolan dari pasangan hidupnya.

Mungkin belum banyak wanita yang mengetahui sindrom ini. Namanya adalah Battered Women Syndrome.

baca juga

Mengenal Battered Women Syndrome

Sindrom ini dikenal sebagai respons atau sekumpulan pola perilaku yang terlihat akibat paparan dari kekerasan fisik maupun psikis yang berulang.

Dalam panduan DSM-5, sindrom ini tidak termasuk dalam kriteria khusus atau penegakan diagnosis sendiri. Battered Women Syndrome masuk ke dalam payung Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

BWS saat ini dikonseptualisasikan sebagai gangguan mental yang merupakan subtipe dari Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Mengenal 4 Tahap Battered Women Syndrome

Pada mereka yang mengalami BWS terdiri dari beberapa tahap yang mencerminkan proses psikologis. Menurut Khanna dan Sachdeva dalam jurnal Battered Woman Syndrome (2015), terdapat 4 tahap psikologis utama yang dialami korban:

1. Denial (Penolakan)

Di tahap pertama, para korban akan menolak untuk mengakui bahwa dirinya telah menerima kekerasan tersebut di dalam hubungannya. Mereka cenderung untuk menyalahkan diri sendiri dan menganggap hal tersebut (kekerasan) hanya kejadian sementara yang akan berubah nantinya.

2. Guilt

Setelah individu menolak kenyataan, individu akan dihadapkan pada rasa bersalah dan menganggap diri mereka memang pantas diperlakukan sedemikian. Mereka percaya bahwa perlakuan tersebut karena memang diri mereka yang memiliki kekurangan tertentu.

3. Enlightenment

Setelah rasa bersalah yang muncul dan penolakan, akan timbul rasa bahwa diri mereka sebenarnya tidak pantas untuk diperlakukan sedemikian. Mereka tidak layak "dipukul". Meskipun telah sadar, mereka memilih untuk mempertahankan hubungan mereka. Beribu alasan diciptakan untuk membuat mereka mempertahankan hubungan.

4. Responsibility

Individu akan menerima kenyataan bahwa pasangan mereka mungkin tidak akan berhenti melakukan kekerasan dan bisa mendorong individu membuat keputusan untuk tidak menyerah dan memulai hidup yang baru tanpa kekerasan.

baca juga

Peran Kita sebagai Wanita dalam Menghadapi BWS

Khanna dan Sachdeva (2015) menjelaskan bahwa wanita bisa berperan dalam mengatasi kekerasan dalam rumah tangga atau dalam hubungan serta memperjuangkan hubungan yang sehat. Apa saja?

Mengurangi rasa bersalah dan mengambil tanggung jawab secara seimbang

Wanita harus menyadari bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas kekerasan yang dialami dan harus menolak persepsi bahwa mereka harus mentoleransi kekerasan demi menjaga hubungan.

Perjuangkan apa yang menjadi hak diri itu penting. Jangan pernah merasa bersalah dan merasa menjadi penyebab atas kekerasan yang diterima.

Menciptakan kesadaran dan menjaga diri sendiri

Penulis menulis ini, tujuannya setidaknya menciptakan kesadaran pada diri pembaca. Wanita harus mengenali tanda-tanda kekerasan dan memahami bahwa pentingnya untuk melindungi diri sendiri serta anak-anak. Apabila ini terasa berat, carilah bantuan pada profesional atau lembaga sosial dan hukum.

Berperan dalam membangun dan menjaga hubungan yang sehat

Wanita berperan sebagai pendukung dan pasangan yang setara secara aktif, bukan pasif. Utarakan pendapat, bangunlah komunikasi yang efektif dan empatis kepada pasangan. Pasangan harus memahami dari sisi kita untuk menghindari terjadinya konflik.

baca juga

Mengedukasi dan memberdayakan diri sendiri dan komunitas

Wanita harus mengetahui hak-hak mereka dan proses penanganan kekerasan.

Mengadvokasi dan menggunakan hak-hak hukum

Langkah hukum seperti pengajuan permohonan perlindungan dan perceraian ketika kondisi hubungan menjadi tingkat yang berbahaya. Itulah mengapa pentingnya untuk wanita mengetahui hak-hak hukum mereka.

Menjaga diri dari kekerasan dan meminta bantuan

Salah satu pilihan yang berat dan keputusan yang tidak mudah adalah berani keluar dari hubungan yang abusif dan mencari bantuan dan perlindungan dari lembaga sosial, polisi, dan keluarga agar kekerasan tidak terus berlanjut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.