Film Pesta Babi ramai diperbincangkan. Bukan sekadar film, Pesta Babi mengajak para penonton untuk sadar akan isu-isu sosial yang ada di Indonesia. Bagaimana proses itu berjalan?
Pesta Babi atau yang berjudul lengkap Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah film dokumenter investigatif karya duo sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Diproduksi lewat kolaborasi antara WatchDoc dan Ekspedisi Indonesia Baru dengan berbagai lembaga, film berdurasi 95 menit ini menyajikan gambaran mengenai lika-liku kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan yang harus menghadapi kenyataan bahwa ruang hidupnya berada di bawah bayang-bayang eksploitasi lahan skala besar atas nama Proyek Strategis Nasional yang dijalankan oleh pemerintah.
Selain karena isu yang diangkat, Pesta Babi juga banyak diperbincangkan lantaran beberapa kali acara nonton bareng atau nobar film tersebut dibubarkan. Misalnya di Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat; pembubaran terjadi pada Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 18.55 WITA. Saat itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram, Sujita, yang didampingi puluhan satpam datang ke lokasi nobar dan meminta acara dibatalkan karena beralasan Pesta Babi tidak layak ditonton. Hal serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain.
Terlepas dari hambatan acara nobar yang ada, Pesta Babi mampu menjangkau penonton dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah dan mahasiswa hingga masyarakat luas. Apalagi, film Pesta Babi yang awalnya hanya bisa disaksikan melalui nobar, kini sudah bisa diakses bebas melalui YouTube.
Pesta Babi agaknya mengalami apa yang disebut dengan Efek Streisand, yakni fenomena ketika upaya untuk menyembunyikan atau menyensor suatu informasi justru membuat informasi tersebut semakin tersebar luas yang biasanya didorong oleh perlawanan dan rasa penasaran publik. Hal tersebut dikonfirmasi oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, yang melihat bahwa semakin besar upaya pembatasan film Pesta Babi, semakin tinggi pula rasa ingin tahu publik.
Tak hanya itu, menurut Fajar, apa yang terjadi juga menunjukkan bahwa film dokumenter punya kekuatan besar dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap isu sosial dan politik. Dengan keberadaannya yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana kritik terhadap kekuasaan, karya audiovisual seperti film dokumenter menawarkan perspektif alternatif di tengah narasi pembangunan yang dibangun negara maupun para elite.
“Film dokumenter menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan fakta sosial dan lingkungan yang sulit disensor sepenuhnya,” katanya sebagaimana dikutip dari laman resmi UMY.
Keberadaan film dokumenter yang berisi kritik keras kepada penguasa sebetulnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelum Pesta Babi, Dandhy Laksono bersama WatchDoc juga pernah membuat film lain yang lebih dulu booming, yakni Sexy Killers dan Dirty Vote. Film Sexy Killers mengangkat topik mengenai dampak industri pertambangan batu bara dan permainan politik di balik proyek infrastruktur kelistrikan nasional, sedangkan Dirty Vote membahas dugaan kecurangan sistematis dan penyalahgunaan kekuasaan dalam Pemilu 2024.
Seperti Pesta Babi, film-film tersebut sukses membawa isu-isu yang diangkat menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Apalagi, tak sedikit pula yang kemudian "tercerahkan" dengan fakta-fakta terselubung yang selama ini tidak diketahuinya.
Dosen Film Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M. Andi Fikri, M.I.Kom., menilai bahwa film dokumenter memang bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan alat pembuka ruang diskusi terhadap isu-isu yang selama ini jarang diketahui masyarakat luas. Senada dengan apa yang disampaikan Fajar mengenai ramainya Pesta Babi, ia menjelaskan jika narasi dokumenter punya kekuatan dalam membangun emosi dan opini publik.
“Film itu sebenarnya medium hiburan, tetapi dia punya kekuatan naratif ataupun persepsi yang lebih kuat untuk menyoroti isu sosial,” katanya dalam laman resmi Umsida.
Dijelaskan Andi, besarnya kekuatan narasi film dokumenter dikarenakan kemampuannya untuk menyampaikan isu sosial, norma, hingga persoalan budaya melalui visual dan pengalaman emosional penonton. Terlebih, sensitivitas masyarakat terhadap ras, agama, budaya, dan simbol tertentu membuat film dokumenter kerap memicu reaksi lebih besar dibanding media komunikasi lainnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


