AIESEC in Universitas Sumatera Utara (USU) kembali melanjutkan rangkaian AIESEC Future Leaders (AFL) Summer Peak melalui pelaksanaan Capacity Building 3 secara offline di Aula Dinas Perpustakaan dan Arsip Sabtu (9/5/2026).
Mengusung tema “The Execution Engine: Mastering Agile Project Management”, sesi ini berfokus pada penguatan kemampuan eksekusi peserta dalam mengubah ide menjadi proyek yang terstruktur, terukur, dan adaptif di tengah dinamika yang terus berkembang.
Hadir sebagai pembicara, Muhammad Rafie Akbar membawakan materi yang menekankan bahwa keberhasilan sebuah inisiatif tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide. Namun, juga bagaimana ide tersebut direalisasikan menjadi langkah nyata yang sistematis dan berkelanjutan.
Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melihat eksekusi sebagai sebuah proses strategis yang membutuhkan kejelasan arah, ketepatan prioritas, serta kemampuan untuk beradaptasi secara cepat terhadap perubahan.
Peserta kemudian dibimbing untuk menerjemahkan ide social impact yang mereka miliki ke dalam project roadmap yang terstruktur.
Roadmap tersebut disusun dengan milestones yang jelas serta target capaian yang terukur agar proses implementasi dapat berjalan lebih sistematis.
Melalui pendekatan ini, peserta memahami bahwa setiap ide dapat dipecah menjadi tahapan-tahapan konkret yang lebih mudah dikelola, dimonitor, dan dievaluasi secara berkala.
Selain itu, sesi ini juga menekankan pentingnya perumusan SMART Goalssebagai fondasi utama dalam memastikan arah proyek tetap terjaga. Dengan menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, relevan, dan berbatas waktu, peserta tidak hanya memiliki panduan dalam menjalankan proyek, tetapi juga mampu membangun portofolio yang kredibel sebagai bukti nyata dari pengalaman mereka.
Dalam proses eksekusi program, peserta kerap dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu pelaksanaan, banyaknya tugas yang harus diselesaikan secara bersamaan, koordinasi antaranggota tim, hingga keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
Oleh karena itu, peserta diperkenalkan dengan kerangka strategic prioritization seperti Eisenhower Matrix untuk membantu mereka menentukan prioritas kerja berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya.
Melalui pendekatan ini, peserta belajar mengelola waktu, tenaga, dan fokus kerja secara lebih efektif, terutama ketika harus menyelesaikan berbagai target program dalam waktu yang terbatas.
Sesi ini juga menyoroti pentingnya pemanfaatan tools digital seperti Notion, Trello, dan Excel sebagai bagian dari sistem manajemen proyek modern. Dengan penggunaan tools tersebut, peserta dapat menjaga transparansi kerja tim, meningkatkan koordinasi, serta memastikan setiap progres dapat terdokumentasi dengan baik. Hal ini menjadi penting dalam menciptakan sinergi tim yang produktif dan terarah.
Lebih lanjut, peserta diajak untuk memetakan kebutuhan sumber daya secara komprehensif, mencakup sumber daya manusia, finansial, maupun material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program. Melalui proses ini, peserta belajar mengidentifikasi kebutuhan utama proyek sekaligus menyesuaikannya dengan kapasitas dan sumber daya yang tersedia agar implementasi program dapat berjalan secara lebih efektif dan terencana.
Pendekatan tersebut membantu peserta memastikan bahwa proyek yang dirancang tidak hanya menarik secara konseptual. Namun, juga realistis, dapat diimplementasikan, serta memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, peserta dibimbing untuk menyusun Agile Action Plan, yaitu rencana aksi yang fleksibel dan memungkinkan adanya literasi cepat.
Pendekatan agile ini menjadi kunci dalam menjaga relevansi proyek di tengah perubahan, sekaligus mendorong peserta untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan selama proses implementasi berlangsung.
Melalui Capacity Building 3, AIESEC in USU berharap peserta tidak hanya mampu berpikir strategis, tetapi juga memiliki kemampuan eksekusi yang matang, terarah, dan berdampak.
Sesi ini menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya visioner, tetapi juga mampu mengimplementasikan ide menjadi aksi nyata yang memberikan kontribusi.
Selaras dengan pembekalan kemampuan eksekusi proyek yang terstruktur dan adaptif dalam sesi ini, peserta juga mulai diperkenalkan pada berbagai peluang untuk mengaplikasikan keterampilan tersebut di konteks nyata. Salah satunya melalui program Global Volunteer, yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk terlibat langsung dalam proyek berdampak di lingkungan lintas budaya.
Pengalaman ini menjadi ruang bagi peserta untuk secara perlahan mengembangkan kemampuan yang telah dipelajari, sekaligus memperluas cara pandang terhadap tantangan global.
Melalui Global Volunteer, setiap peserta tidak hanya berkesempatan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, tetapi juga mengembangkan diri menjadi individu yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berwawasan global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


