Stasiun Gundih adalah stasiun kereta api kelas I di Grobogan, Jawa Tengah. Terletak di ketinggian +54 meter di atas permukaan laut, Stasiun Gundih merupakan stasiun paling selatan yang dioperasikan oleh Daerah Operasi (Daop) IV Semarang.
Dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Stasiun Gundih merupakan stasiun percabangan dari jalur menuju Semarang, Gambringan, dan Solo. NIS sendiri merupakan perusahaan kereta api swasta Belanda yang membuka jalur kereta api perama di Indonesia di tahun 1987. Stasiun ini dibuka sebagai bagian dari proyek jalur kereta api segmen Kedungjati-Gundih.
Sejarah Stasiun Gundih
Stadiun Gundih dibuka sebagai kelanjutan dari jalur KA Samarang-Tanggung pada 10 Agustus 1867. Stasiun Gundih merupakan bagian jalur kereta api pertama NIS yang menghubungkan Semarang dengan Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta).
Merangkum unggahan akun Instagram @btp_semarang, stasiun ini resmi dibuka pada 10 Februari 1870. Stasiun ini juga menjadi tonggak penting dalam perkembangan transportasi kereta api di Pulau Jawa.
Posisi Stasiun Gundih bisa dibilang sangat strategis. Bagaimana tidak, stasiun ini menjadi titik percabangan menuju Semarang, Surabaya, dan Surakarta.
Di awal tahun 1900-an, jalur Gundih-Gambringan-Bojonegoro-Surabaya mulai dibangun. Hal ini membuat aktivitas perkeretaapian di Stasiun Gundih semakin berkembang.
Bahkan, di masa lalu, stasiun ini menjadi salah satu stasiun besar yang dimiliki Hindia Belanda. Terdapat depo lokomotif dan gudang besar di sekitar area stasiun yang bekas bangunannya masih bisa dijumpai hingga saat ini.
Stasiun Gundih dengan Desain Khasnya
Stasiun Gundih memiliki desain yang sangat khas. Arsitekturnya masih mempertahankan gaya jadl khas stasiun-stasiun tua peninggalan Belanda lainnya.
Kanopinya berupa papan teritisan bergerigi yang tampak unik. Disadur dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), Stasiun Gundih memliki gaya arsitektur khas chalet yang merupakan gaya bangunan tradisional khas wilayah pegunungan Alpen.
Arsitektur chalet memiliki ciri seperti penggunaan bahan material yang didominasi dari kayu. Uniknya lagi, lantai di stasiunnya juga masih menggunakan tegel kotak-kotak buatan pabrik Alfred Regout di Belanda.
Tak berhenti di situ, jam dinding di Stasiun Gundih pun merupakan buatan Eropa, tepatnya Strasbourg Prancis. Jam legendaris ini masih berfungsi dengan sangat baik meskipun sudah berusia ratusan tahun.
Overcapping (bangunan atap pelindung di atas peron) stasiunnya dibuat dari besi dengan konstruksi kuda-kuda Belgia. Lebih lanjut, peralatan persinyalan mekanik jenis Alkmaar masih bisa dijumpai.
Stasiun ini memiliki rel berukuran 1.435 mm. Di dalamnya juga diletakkan lagi rel ukuran 1.067 mm. Hal ini bertujuan agar bisa dilewati kereta dengan lebar sepur yang berbeda.
Kawan GNFI, Stasiun Gundih yang sekarang sebetulnya adalah generasi yang kedua. Stasiun ini mulai digunakan di tahun 1900.

Bekas depo lokomotif di Stasiun Gundih | Alqhaderi Aliffianiko/WikimediaCommons
Nah, di dekat stasiun, ada bekas depo lokomotif dan gudang. Hal ini membuktikan bahwa Stasiun Gundih merupakan salah satu stasiun besar yang dimiliki Hindia Belanda di masanya.
Di era modern ini, Stasiun Gundih masih aktif beroperasi. Kereta-kereta yang bertugas menaik-turunkan penumpang di sini adalah KA Sancaka Utara, Brantas, Banyubiru, dan Joglosemarkerto.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


