Kawan GNFI, pernahkah ketika membeli camilan atau makanan kemasan, kamu membaca informasi nilai gizi di bagian belakang kemasan? Lalu bertanya-tanya, apakah klaim “tinggi serat” atau “rendah gula” itu benar? Atau, apakah makanan yang kita konsumsi sehari-hari benar-benar aman?
Di balik jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, ada satu proses ilmiah yang sangat vital namun sering luput dari perhatian, namanya analisis pangan. Menurut Mary Ellen Camire (2024), analisis pangan mencakup aspek kimia, mikrobiologi, fisik, sensoris, dan nutrisi pangan, yang menjadi fondasi utama untuk menilai keamanan pangan.
Sebagai sebuah bidang ilmu, analisis pangan merupakan disiplin interdisipliner yang diarahkan pada karakterisasi nutrisi, keamanan, mutu, dan sifat sensoris (yang berhubungan dengan indra) dari pangan.
David Rodríguez-Lázaro (2025) mendefinisikan ruang lingkup analisis pangan meliputi pengembangan metode analitik untuk memantau keamanan dan mutu pangan, termasuk kimia dan toksikologi pangan, keaslian pangan, serta ketertelusuran pangan. Proses yang berlangsung di laboratorium ini bertujuan untuk memastikan makanan yang kita konsumsi aman, bergizi, dan berkualitas.
Kenapa Analisis Pangan Sangat Penting?
1. Menjaga Keamanan Pangan dari Bahaya Tersembunyi
Seperti yang diulas oleh Nabi Shariatifar (2025) , Editor-in-Chief jurnal Journal of Food Safety and Hygiene, keamanan pangan mencakup berbagai aspek, termasuk analisis komponen pangan, mikotoksin, kontaminan lingkungan, racun alami, infeksi mikroba pada pangan, dan higiene dalam rantai pangan.
Makanan yang tampak lezat belum tentu aman. Tanpa analisis pangan, produsen tidak akan tahu apakah produknya terkontaminasi.
Lebih jauh lagi, Ralf Greiner (2025) , menegaskan bahwa analisis bahaya, HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points), dan tujuan keamanan pangan merupakan bagian penting dari pengendalian proses pangan yang berkontribusi langsung pada kesehatan masyarakat.
2. Menjamin Kandungan Gizi yang Akurat
Setiap klaim gizi pada kemasan seperti “rendah lemak” bukan sekadar kata manis marketing. Arun K. Bhunia (2025) ,menyoroti bahwa teknik analitik canggih seperti kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), kromatografi cair-spektrometri massa (LC-MS), spektroskopi inframerah (IR), dan pencitraan digital digunakan untuk mempelajari komposisi pangan, termasuk makronutrien, mikronutrien, molekul bioaktif, dan kontaminan.
3. Mendorong Inovasi Pangan yang Lebih Sehat
Pernahkah kamu membayangkan ada susu nabati, daging nabati, atau camilan sehat dari rumput laut? Inovasi ini tidak akan mungkin terwujud tanpa data dari analisis pangan.
José Manuel del Valle (2025), menerbitkan penelitian bernilai ilmiah tinggi yang mencakup kimia, mikrobiologi, nutrisi, rekayasa, dan aspek sensoris pangan, termasuk inovasi dalam mikrobiologi, keamanan, dan kualitas pangan.
Selain itu, Andrew Waterhouse dan Mark Shepherd (2025), menerbitkan penelitian inovatif yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pangan dan pertanian, termasuk produksi, pemrosesan, gizi, dan keamanan pangan.
Contoh Nyata Pentingnya Analisis Pangan
Kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pengingat pahit. Sebuah studi oleh Henry Surendra, Arif Sujagat, dan Grace Wangge (2026) yang mengungkapkan bahwa hingga 31 Desember 2025, program MBG telah menyebabkan 177 wabah keracunan makanan, berdampak pada kesehatan lebih dari 20.000 anak sekolah di 127 kabupaten/kota di 33 dari 38 provinsi di Indonesia.
Investigasi lain di Wonogiri, Jawa Tengah, yang dipublikasikan oleh Fajrin Rahmadani A, et al. (2025) , melaporkan bahwa 340 dari 516 siswa yang terpapar (tingkat serangan 66%) mengembangkan gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Analisis laboratorium mendeteksi kontaminasi Escherichia coli pada sampel telur, saus, dan sayuran, serta dugaan kontaminasi bersama oleh Salmonella spp. Investigasi lingkungan mengidentifikasi penanganan makanan yang tidak tepat, pengendalian suhu yang tidak memadai, dan penyimpanan makanan yang terlalu lama sebelum didistribusikan.
Kasus ini membuktikan bahwa tanpa uji laboratorium untuk mendeteksi cemaran seperti bakteri E. coli, insiden serupa bisa lebih meluas dan berbahaya.
Peran Aktif Pemerintah dan Kita Sebagai Konsumen
Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus berupaya memperketat aturan. Selain itu, pelaku usaha pun didorong menerapkan sistem keamanan pangan seperti Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) .
Ralf Greiner (2025) menegaskan bahwa HACCP dan analisis bahaya merupakan komponen penting dalam pengendalian keamanan pangan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya sejak dini.
Kawan, marilah kita menjadi konsumen yang cerdas!, kesadaran akan pentingnya keamanan pangan harus datang dari semua pihak. Sebagai konsumen, kita bisa berperan aktif dengan:
- Membaca Label Kemasan: Biasakan membaca informasi nilai gizi, komposisi, tanggal kedaluwarsa, dan nomor izin edar BPOM.
- Memilih Pangan yang Jelas Informasinya: Belilah produk dari sumber terpercaya.
- Memahami Kandungan: Gunakan informasi pada label untuk memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatanmu.
- Menjadi Konsumen Kritis: Jangan ragu melaporkan jika menemukan produk pangan yang mencurigakan.
Analisis pangan adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan setiap suapan kita aman dan bernutrisi. Mulai sekarang, yuk, kita lebih peduli! Karena, pangan yang aman adalah investasi untuk masa depan yang lebih sehat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


