accera kalompoang tradisi unik masyarakat gowa menyambut momen iduladha - News | Good News From Indonesia 2026

Accera Kalompoang, Tradisi Unik Masyarakat Gowa Menyambut Momen Iduladha

Accera Kalompoang, Tradisi Unik Masyarakat Gowa Menyambut Momen Iduladha
images info

Accera Kalompoang, Tradisi Unik Masyarakat Gowa Menyambut Momen Iduladha


Secara kontekstual, negara multietnis seperti Indonesia pastinya menyimpan segudang potensi keberagaman yang layak mendapat perhatian publik. Potensi keberagaman tersebut terejawantahkan dalam berbagai bentuk, mulai dari budaya dan kesenian, adat-istiadat, makanan dan pakaian tradisional, dan sebagainya.

Sebagaimana yang dijelaskan, kali ini kita akan belajar mengenai tradisi dari masyarakat Gowa dalam menyongsong Hari Raya Iduladha. Mari kita kenalan dengan Accera Kalompoang!

Berasal dari Sulawesi Selatan

Alam dkk. (2024) dalam artikel ilmiah yang dimuat pada Jurnal Panggung berjudul “Upaya Pelestarian Tradisi Upacara Accera Kalompoang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan” mengemukakan bahwa tradisi ini adalah upacara tradisional yang dilaksanakan dengan tujuan membersihkan serta merawat benda-benda pusaka bersejarah milik Kerajaan Gowa yang dipajang di Museum Balla Lompoa.

Ditinjau secara historis, Accera Kalompoang dapat ditelusuri sejak era pemerintahan To Manurung Baineya. Selanjutnya, tradisi ini diteruskan oleh Raja Gowa XIV, yaitu I Mangngarrangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung yang juga dikenal sebagai Sultan Alauddin, dengan mengintegrasikan nilai keislaman dalam pelaksanaannya.

Disebut kala itu, Accera Kalompoang belum ditetapkan sebagai tradisi turun-temurun pada rezim Sultan Alauddin. Meskipun demikian, pelaksanaan tradisi ini mencapai puncak monumentalnya pada 10 Dzulhijjah, yaitu setiap selesai salat Iduladha.

Keberlanjutan akan Accera Kalompoang diwariskan kepada Sultan Malikussaid, putra Raja Gowa XV. Dalam keteraturan terhadap aspek adat maupun penekanan keislamannya, tradisi ini terus hidup selama masa jabatan Sultan Hasanuddin selaku Raja Gowa XVI.

Sejak saat itulah, Accera Kalompoang telah melewati arus waktu yang silih berganti dan mampu bertahan sampai sekarang.

baca juga

Susunan Acara serta Dinamika Tradisinya

Accera Kalompoang memiliki serangkaian tahapan acara dalam pelaksanaan tradisi, meliputi allekka je ne, appidalleki, ammolong tedong, dan juga ritual pencucian benda-benda pusaka yang dimulai dengan allangiri, annyossorok, dan annimbang.

Seluruh tahapan ini dilakukan di Balla Lompoa. Dengan mengalihfungsikan Balla Lompoa menjadi museum, diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk melestarikan warisan budaya, yang pada gilirannya mendukung ketahanan kebudayaan nasional.

Secara spesifik, tradisi diawali dengan pengambilan air dari bungung lompoa (sumur tua) yang terletak di kawasan situs Marunga ri Gowa sekitar pukul 09:00 – 10:30 waktu setempat. Tujuan pengambilan ini adalah sebagai media penyucian.

Kemudian, dilanjutkan dengan ritual menuntun kerbau sambil berputar mengelilingi Balla Lompoa, diikuti oleh sekelompok dayang sebelum proses penyembelihan dimulai.

Setelah itu, kerbau yang terpilih disembelih (ammolong tedong) pada sisi timur Balla Lompoa sekitar pukul 11:00 – selesai.

Prosesi berikutnya adalah upacara appidalleki, suatu ritual keagamaan yang dilakukan seusai salat isya dengan menggabungkan penyajian sesajen disertai dengan doa, syukuran, dan lantunan syair-syair berbahasa Makassar yang dinyanyikan oleh tetua Kerajaan Gowa (arroyong).

Ritual diadakan di ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda pusaka kerajaan oleh golongan keluarga inti Kerajaan Gowa.

Pada pagi hari kedua, benda pusaka kerajaan dibawa menuju mimbar atau lokasi pelaksanaan prosesi penyucian (annyossorok). Kemudian, dilakukan penimbangan berat salokoa atau mahkota Raja Gowa yang mencapai 1,768 gram (allangiri).

Darah kerbau yang sudah disembelih ditorehkan pada benda pusaka kerajaan (accera kalompoang), disucikan satu persatu menggunakan darah tersebut. Kegiatan penyucian ini dikerjakan oleh keluarga inti dari Raja Gowa.

Mengenai makna simbolisnya, annyossorok dan allangiri masing-masing merepresentasikan proses transformasi sifat-sifat negatif manusia, seperti hawa nafsu dan kemudaratan lainnya menuju pada kodrat yang lebih utuh dan sempurna.

Ritual penimbangan salokoa dipercaya memberikan implikasi yang berdampak pada nasib wilayah. Ketika berat salokoa menurun dari tahun sebelumnya, diyakini wilayah Gowa akan menghadapi tantangan atau bencana.

Sebaliknya, jika beratnya bertambah, maka Gowa akan mengalami kemajuan. Sementara itu, Accera Kalompoang dinilai sebagai simbol yang menyiratkan bahwa darah memegang peranan krusial dalam mewujudkan segala hal yang baik serta menciptakan kondisi yang menguntungkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Keseluruhan rangkaian acara Accera Kalompoang dianggap sebagai suatu manifestasi dari kekayaan budaya Kerajaan Gowa, termasuk di dalamnya penyelenggaraan ganrang pa’balle (tabuhan gendang).

Ganrang pa’balle bertujuan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan entitas gaib yang diyakini bersemayam (akkamming) di dalam benda pusaka kerajaan.

Maka dari itulah, Accera Kalompoang boleh dianggap sebagai perayaan serta penghargaan atas warisan budaya yang mengandung nilai spiritual dan sejarah yang mendalam bagi masyarakat Gowa.

baca juga

Daftar Benda Pusaka Kerajaan

Adapun benda-benda pusaka Kerajaan Gowa berjumlah lima belas artefak bersejarah yang langka, antara lain:

  • Salokoa: mahkota Raja Gowa dari emas murni yang berhiaskan berlian
  • Sudanga: senjata Raja Gowa dari besi
  • Tobo Kalukua: kalung yang tersusun dari emas empat buah
  • Ponto Janga – Jangayya: gelang berbentuk kepala naga sebanyak empat buah
  • Kolara: kalung dari emas murni
  • Bangkarak Taroe: anting emas murni
  • Kancing Gaukang: piringan emas sebanyak empat buah
  • Tatarapang: pusaka berbentuk keris dari besi dengan gagang dan sarung emas yang bertakhtakan berlian
  • Cincing Gaukang: cincin emas dan batu mustika sebanyak dua buah
  • Lasippo: parang besi
  • Mata Tombak: senjata terbuat dari besi dengan guratan emas bernama Tamaddakkayya, I Bukle, dan I Jingga
  • Berang Manurung: parang panjang sejenis kelewang
  • Poke Panyanggayya: tombak dari besi dengan batangnya dari kayu khusus
  • Panning Emas: cendera mata dari Kerajaan Inggris untuk Raja Gowa XIV
  • Medali Emas: pemberian resmi nan simbolis Pemerintah Belanda sebagai tanda persahabatan
baca juga

Pentingnya Menjaga Kelestarian Tradisi di Era Digital

Accera Kalompoang tidak terlepas dari berbagai kendala yang ada. Perbedaan dalam hal interpretasi, kepentingan, dan konflik internal di antara anggota Kerajaan Gowa, terutama soal kepemilikan aset budaya serta pendistribusian kekuasaan sering menjadi kepelikan yang mesti dihadapi.

Dampak yang nyata adalah pernah berhentinya penyelenggaraan tradisi ini selama dua tahun berturut-turut, yaitu pada 2017 dan 2018.

Dalam konteks pemerintahan, penjelasan yang tegas dan konkret mengenai perlindungan hukum dan pelestarian tradisi ini harus disusun dalam bentuk undang-undang, peraturan, maupun kebijakan yang kokoh dan andal. Melalui hal tersebut, eksistensi Accera Kalompoang dapat terpelihara secara efektif dan berkelanjutan.

Dengan demikian, diharapkan generasi muda memiliki rasa tanggung jawab kolektif guna menjaga dan melestarikan tradisi bagi anak-cucu di masa depan. Sebab, teknologi barangkali boleh terus berkembang, namun Accera Kalompoang patut menjadi suatu identitas nasional yang membanggakan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.