jembatan kota intan jembatan tertua di indonesia yang sudah ada sejak tahun 1600 an - News | Good News From Indonesia 2026

Jembatan Kota Intan: Jembatan Tertua di Indonesia yang Sudah Ada Sejak Tahun 1600-an

Jembatan Kota Intan: Jembatan Tertua di Indonesia yang Sudah Ada Sejak Tahun 1600-an
images info

Jembatan Kota Intan: Jembatan Tertua di Indonesia yang Sudah Ada Sejak Tahun 1600-an


Di kawasan Kali Besar, Kota Tua, Jakarta, berdiri sebuah peninggalan bersejarah yang sudah ada selama hampir empat abad. Adalah Jembatan Kota Intan. Jembatan ini disebut sebagai jembatan tertua di Indonesia.

Jembatan legendaris ini dibangun pada tahun 1600-an oleh Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC. Jembatan Kota Intan dikategorikan sebagai jembatan jungkit dan difungsikan agar kapal dagang bisa melintas di bawahnya.

Dengan usianya yang sudah sangat uzur, saat ini Jembatan Kota Intan sudah tidak dioperasikan secara aktif. Namun, disadur dari situs resmi Budaya Kita milik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Jembatan Kota Intan sudah dijadikan Cagar Budaya berdasarkan SK: 475 Tahun 1993.

Sejarah Jembatan Kota Intan

Pembangunan tata ruang di muara Ciliwung pada abad ke-17 tidak lepas dari ambisi VOC yang mengambil visi Ideal Stadt atau Kota Ideal karya Simon Stevin. Inti dari ide itu adalah membuat Batavia mirip dengan Belanda yang memiliki banyak kanal. Konsep ini mengharuskan adanya jembatan agar orang-orang bisa melintas di atasnya.

Dalam catatan Ensiklopedi Jakarta, Jembatan Kota Intan diklaim memiliki struktur yang sama dengan Engelsebrug atau Jembatan Inggris yang dibangun pada tahun 1928, yang konon berganti nama menjdi de Hoenderpasarbrug, dan kemudian berubah lagi menjadi Het Middelpuntsburg.

Akan tetapi, dalam buku Titian Bandar, Jembatan Kota Intan Menantang Punah, klaim itu dipatahkan. Dijelaskan melalui peta kuno Batavia tahun 1627, 1628, dan 1667, terungkap bahwa Middelpuntsburg dan Hoenderpasarbrug adalah dua entitas jembatan yang berbeda. Engelsebrug dan Middelpuntsburg ternyata berada jauh di sisi selatan.

Sementara itu, Jembatan Kota Intan saat ini merupakan penerus dari de Hoenderpasarbrug alias Jembatan Pasar Ayam yang baru lahir di tahun 1655. Jembatan tersebut dinamakan demikian karena posisinya berhimpitan dengan pasar unggas Batavia tempo dulu.

baca juga

Lebih lanjut, sepanjang perjalanannya, jembatan ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa genting. Tahun 1740, jembatan ini pernah “menyaksikan” peristiwa kelam Geger Pecinan atau pembantaian masyarakat Tionghoa.

Pasca-tragedi itu, de Hoenderpasarbrug secara de facto menjadi gerbang pemisah antara orangorang Eropa yang dianggap eksklusif (binnenstad) dengan pusat ekonomi pribumi dan Tionghoa yang diasingkan (buitenstad).

Uniknya lagi, di masa itu jembatan ini juga pernah dijuluki dengan Gauwdiefsbrug atau jembatan pencopet karena kerumunan pasar yang sering dimanfaatkan oleh pencuri.

Jembatan Jungkit Tua yang Masih Gagah Berdiri

Secara teknis, Jembatan Kota Intan adalah sebuah ophaalbrug atau jembatan jungkit ganda. Keunikannya terletak pada sepasang gerbang kembar yang disebut dengan gerbang hamei (hameipoort), yang berfungsi sebagai tumpuan balok penyeimbang (rocker beam) dan sistem katrol.

Teknologi ini memungkinkan dek jembatan diangkat secara vertikal untuk memberi jalan bagi kapal dagang yang hendak melintas di Kali Besar menuju hulu Ciliwung. Desain ini merupakan replika arsitektur Barok Belanda yang sangat populer di abad ke-17.

Struktur kayu asli jembatan ini pernah roboh di tahun 1933 akibat dihantam di bagian belakang perahu yang melintas. Dinas Purbakala saat itu, Oudheidskundige Dienst, yang menyadari nilai sejarah peninggalan leluhur mereka ini kemudian melakukan rekonstruksi pada jembatan itu di tahun 1939.

Material kayu yang rentan lapuk diganti dengan kerangka besi dan baja modern. Meskipun demikian, insinyur-insinyur kala itu melapisi kerangka baja itu dengan papan kayu untuk mempertahankan siluet tradisionalnya.

Jembatan ini sempat diberi nama dengan Ophaalbrug Juliana sebagai bentuk penghormatan pada Ratu Belanda. namun, setelah Belanda minggat dari Indonesia, namanya diganti menjadi Jembatan Kota Intan.

Nama “Intan” konon dipilih karena merepresentasikan lokasinya yang berada di bekas Bastion Diamant (Benteng Intan) milik Kastil Batavia dahulu.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.