gaungkan keadilan iklim dan gender muda mudi sukabumi berdinamika bersama climate warrior iv - News | Good News From Indonesia 2026

Gaungkan Keadilan Iklim dan Gender: Muda-mudi Sukabumi Berdinamika Bersama Climate Warrior IV

Gaungkan Keadilan Iklim dan Gender: Muda-mudi Sukabumi Berdinamika Bersama Climate Warrior IV
images info

Gaungkan Keadilan Iklim dan Gender: Muda-mudi Sukabumi Berdinamika Bersama Climate Warrior IV


Gerakan pemberdayaan kaum muda, Speak Out Youth Indonesia merangkul para pelajar SMA di Sukabumi untuk menjadi pelopor isu keadilan iklim dan gender melalui Climate Warrior IV: “Rural Women for Climate Resilience.” Program ini diawali dengan workshop yang usai digelar secara bergantian pada 14, 15, dan 18 Mei lalu dengan melibatkan sebanyak 50 pelajar di dua sekolah. Segenap pelajar ini dibekali pemahaman dasar perubahan iklim, kaitannya dengan isu gender, dan peran perempuan muda dalam aksi iklim hingga didorong untuk memetakan aksi nyatanya lewat student-led mini projects di sekolah masing-masing.

Perpaduan kedua isu tersebut diangkat karena melihat kondisi kerusakan yang signifikan di wilayah Kabupaten Sukabumi dalam lima tahun terakhir. Menurut data BNPB, wilayah Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan jumlah kejadian bencana hidrometeorologi tertinggi di Indonesia seperti banjir dan longsor. Di sisi lain, ketidaksetaraan dampak iklim pun kian mengiringi.

Laporan UN Women (2022) menyebut, perempuan dan kelompok rentan seringkali mengalami dampak yang lebih besar akibat krisis iklim, baik dari segi akses terhadap sumberdaya pangan, keamanan ekonomi, maupun keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. 

Merespons urgensi tersebut, Alya Sabira selaku Founder & Chairwoman Speak Out Youth Indonesia turut menyoroti kerentanan para perempuan yang bermata pencaharian sebagai petani di daerah suburban tepatnya selingkung Sukabumi. Bahkan, tak jarang juga keluarga yang masih berpenghidupannya berasal dari alam.

Salah satu kelompok warrior pada batch pertama sedang berdiskusi

Alya juga menegaskan, “Mulai dari ancaman kesehatan, penghasilan, makanan segala macam itu jauh lebih rentan. Itulah kenapa kita memilih khusus di Sukabumi temanya adalah rural woman, agar kita bisa empower anak-anak perempuan terutama untuk mereka bisa menjadi pemimpin di komunitasnya, di sekolah, ataupun di jangkauan yang lebih luas agar isu-isu perubahan iklim ini juga tetap berkaitan dengan kesetaraan gender."

Tak dapat dimungkiri, memadukan kedua isu yang cukup serius ini pastinya tidak terlepas dari beragam hiruk-pikuk tantangan. Project Officer Climate Warrior IV, Noor Ana menyebut tantangan awal yang ia temui, “Tentunya adalah manajemen waktu, di mana kita cukup hectic ketika teman-teman yang lainnya masih ingin nambah sesi atau harusnya masih bisa menjelaskan lebih banyak, tapi ternyata terkendala oleh waktu. Terus yang kedua, ternyata masih ada beberapa hal yang perlu kita selaraskan, terutama karena ini topiknya mengenai gender dan iklim. Itu yang menjadi tantangan yang lebih krusial untuk sekarang."

baca juga

Perubahan iklim menjadi isu pertama yang ditekankan dalam school workshop ini. Memulainya dengan interactive games mengenai apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Aktivitas ini bertujuan menggali seberapa aware mereka terhadap perubahan iklim sebelum diperdalam lagi nantinya bersama para fasilitator. Berlanjut ke kaitannya dengan kesetaraan gender. Antusiasme peserta terkemuka ketika sesi ini didukung dengan aktivitas bermain peran. Hal ini dapat melatih empati para peserta ketika dihadapkan dengan suatu peristiwa dan mereka harus menghadapi sesuai dengan perannya masing-masing.

Kedua sesi ini, tak lepas dari suguhan materi para fasilitator muda yang sebelumnya usai melalui Training of Facilitator. Beragam persiapan untuk workshop ini usai mereka lalui seperti mempelajari modul bersama. Afsya salah satu fasilitator pada batch ketiga berujar, “Kalau dari pendekatan itu aku melalui adaptif, supportif gitu, personal langsung kepada teman-teman. Apalagi kan yang aku berikan itu kepada teman-teman SMA ya, sehingga aku tuh menggunakan pendekatan lewat bahasa-bahasa yang emang mudah untuk bisa teman-teman mengerti gitu seperti itu."

Lantas, di balik pendekatan yang usai fasilitator persiapkan sebelumnya, apakah para peserta menikmatinya dengan baik?

"Jujur sangat sesuai dan justru malah melebih ekspektasi karena guys, anak-anak sekolah Hatoy itu benar-benar have fun dan enjoying the event banget. Thank you so much. Respect buat anak-anak,” seru Kamila salah satu fasilitator batch kedua.

Kemudian, seusai kedua isu ini disosialisasikan saatnya masuk ke bab 3 sesuai modulnya yaitu “Memulai Aksimu.” Pada sesi ini, setiap kelompok peserta akan memetakan suatu masalah di sekitar yang berkaitan dengan iklim dan gender untuk nantinya dijadikan mini project yang akan digelar di sekolahnya masing-masing. 

Salah satu kelompok warrior bacth kedua sedang memetakan masalah dan aksinya.

Alya juga berharap, “semoga setelah nanti post project-nya dilaksanakan, itu memberikan manfaat bagi mereka sendiri sebagai ilmu ke teman-temannya yang juga penerima manfaat, bahkan mungkin di sekolahnya masing-masing. Dan semoga post project mereka enggak berhenti sampai di situ, bisa dilanjutkan kembali dalam bentuk apapun itu dengan dukungan dari manapun sehingga dampak dari Climate Warrior season keempat ini masih terus berlanjut.”

baca juga

Di sisi lain, menilik respons para peserta terkait kegiatan ini pastinya tak dapat disamaratakan perspektifnya. Kalau melirik respons salah satu peserta batch pertama, George meyebut, “So, from this program we can gain a multiple perspective about the new and how we can protect our nature. Beside that, kita juga bisa belajar tentang cara kita peran sebagai masyarakat di lingkungan baik laki-laki maupun perempuan. Juga kita harus tahu bahwa laki-laki dan juga perempuan juga memiliki hak dan juga kesetaraan yang bisa terlibat di dalam masyarakat sendiri. Jadi tidak ada ketimpangan dalam hal tersebut.”

Setelah diberi waktu untuk memetakan masalah dan menyusun solusi melalui aksi nyata lalu saatnya para warrior memaparkan hasil diskusinya. Dari beberapa kelompok di setiap batch-nya, akan dipilih dua kelompok dengan ide terbaik yang nantinya akan diberi grants untuk mendukung aksi nyata segenap warrior tersebut.

Salah satu kelompok warrior batch kedua usai memaparkan hasil diskusinya

Selain kelompok terbaik, para fasilitator Climate Warrior juga mengapresiasi bagi individu atau peserta yang aktif selama workshop berlangsung. Setiap batch-nya dipilih satu warrior perempuan dan satu laki-laki dan nantinya akan mendapat special gift dari tim Climate Warrior 4. Nah, saatnya Kawan GNFI juga memulai dari aksi yang sederhana, tetapi berdampak bagi sekitar. Karena jika mengutip dari buku yang bertajuk "A Bigger Picture: My Fight to Bring a New African Voice to the Climate Crisis,” Vanessa Nakate seorang aktivis iklim muda menegaskan, “We cannot have climate justice without gender justice."

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.