aroma bakar sate dan hangatnya tradisi menjelajahi kuliner khas idul adha di banyuwangi - News | Good News From Indonesia 2026

Aroma Bakar Sate dan Hangatnya Tradisi, Menjelajahi Kuliner Khas Iduladha di Banyuwangi

Aroma Bakar Sate dan Hangatnya Tradisi, Menjelajahi Kuliner Khas Iduladha di Banyuwangi
images info

Aroma Bakar Sate dan Hangatnya Tradisi, Menjelajahi Kuliner Khas Iduladha di Banyuwangi


Ada satu momen yang selalu terasa berbeda saat Iduladha tiba di Banyuwangi. Bukan cuma gema takbir atau ramainya pembagian daging kurban, tetapi juga aroma rempah yang perlahan memenuhi dapur-dapur rumah warga.

Di beberapa daerah, Iduladha identik dengan sate dan gulai. Namun, di Banyuwangi, cerita kulinernya jauh lebih kaya. Ada hidangan yang lahir dari tradisi suku Osing, ada resep turun-temurun yang hanya muncul saat momen spesial, hingga sajian sederhana yang justru menyimpan filosofi mendalam.

Menariknya lagi, sebagian kuliner ini bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari identitas budaya, simbol kebersamaan, bahkan cara masyarakat merawat hubungan keluarga saat hari raya.

Kalau selama ini Iduladha identik dengan “olahan daging biasa”, mungkin Banyuwangi bisa membuatmu melihat perayaan kurban dari rasa yang berbeda.

Kuliner Banyuwangi untuk Iduladha

Pecel Pitik: Hidangan Sakral yang Selalu Dicari saat Hari Raya

Kalau berbicara soal kuliner khas Banyuwangi saat Hari Raya Qurban, nama pecel pitik hampir selalu masuk daftar utama.

Berbeda dengan pecel pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang, pecel pitik justru memakai ayam kampung bakar yang disuwir lalu dicampur kelapa berbumbu rempah. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan punya aroma asap yang khas.

IDN Times menyebut bahwa bagi masyarakat suku Osing, pecel pitik bukan makanan biasa. Hidangan ini dulunya hanya disajikan dalam ritual adat dan acara penting seperti selamatan desa. Bahkan, proses memasaknya pun memiliki aturan tersendiri, mulai dari cara memanggang ayam hingga larangan menyuwir menggunakan pisau.

Saat Iduladha, makanan ini menjadi simbol kebersamaan keluarga. Daging yang dibagikan diolah bersama, disantap ramai-ramai, dan menjadi alasan orang-orang berkumpul lebih lama di meja makan.

Yang membuat kuliner ini menarik bukan hanya rasanya, tetapi juga filosofinya. Dalam bahasa Osing, “pecel pitik” dimaknai sebagai “diucel-ucel hang perkara apik”—dikelilingi hal-hal baik. Dan mungkin, itulah esensi hari raya sebenarnya.

baca juga

Sego Tempong, Pedas yang “Menampar”, tetapi Selalu Dirindukan

Tidak lengkap membahas kuliner Banyuwangi tanpa menyebut sego tempong. Dilansir dari TIMES Banyuwangi, nama “tempong” sendiri berarti “tampar” dalam bahasa Osing. Sesuai namanya, sambal pada hidangan ini memang terkenal pedas dan “nendang”.

Biasanya, makanan tersebut terdiri dari:

  • nasi hangat
  • sayuran rebus
  • lauk sederhana seperti tempe, tahu, ikan asin, atau ayam
  • sambal khas Banyuwangi

Saat Iduladha, lauknya sering dimodifikasi menggunakan olahan daging kurban, mulai dari daging sapi goreng hingga sate sederhana buatan rumah.

Yang menarik, makanan ini justru terasa paling nikmat ketika disantap bersama-sama. Ada sensasi akrab yang sulit dijelaskan: keringat karena pedas, suara obrolan keluarga, dan tambahan nasi berkali-kali tanpa sadar. Di Banyuwangi, makanan memang bukan cuma soal kenyang. Ia adalah pengalaman sosial.

Rujak Soto: Kombinasi yang Terdengar Aneh, tetapi Bikin Ketagihan

Kalau ada kuliner Banyuwangi yang sering membuat wisatawan penasaran, jawabannya mungkin rujak soto.

Bayangkan saja: rujak petis bercampur kuah soto.

Terdengar tidak masuk akal? Justru di situlah keunikannya.

TIMES Banyuwangi menyebut rujak soto itu memadukan rasa gurih, segar, manis, pedas, dan sedikit aroma rempah dalam satu mangkuk. Isinya bisa berupa lontong, sayur, daging, hingga jeroan.

Saat Iduladha, beberapa keluarga Banyuwangi menambahkan olahan daging kurban sebagai pelengkap. Hasilnya adalah sajian kaya rasa yang sulit ditemukan di daerah lain.

Kuliner ini juga menjadi simbol karakter Banyuwangi itu sendiri: berani mencampurkan tradisi, rasa, dan identitas budaya menjadi sesuatu yang unik.

Botok Tawon dan Keberanian Menjaga Tradisi

Banyuwangi juga dikenal dengan kuliner yang mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang: botok tawon. Makanan ini dibuat dari sarang lebah yang masih berisi larva, lalu dibumbui dan dibungkus daun pisang sebelum dikukus.

Meski tidak selalu hadir saat Iduladha, hidangan ini sering muncul dalam momen kumpul keluarga dan acara tradisional masyarakat Banyuwangi.

Bagi warga lokal, botok tawon bukan sekadar makanan unik. Ia adalah warisan budaya yang menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal sejak dulu.

Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern, keberadaan makanan seperti ini menjadi pengingat bahwa tradisi masih hidup.

baca juga

Iduladha di Banyuwangi: tentang Kebersamaan, Bukan Sekadar Daging

Ada alasan mengapa suasana Idul Adha di Banyuwangi terasa hangat.

Karena yang dibagikan bukan hanya daging kurban, tetapi juga cerita, resep keluarga, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Anak-anak membantu membakar sate. Orang tua sibuk meracik bumbu. Tetangga saling bertukar masakan. Dan di sela aroma asap dapur, hubungan antar manusia terasa lebih dekat.

Kuliner menjadi bahasa universal yang menyatukan semuanya. Mungkin itu sebabnya banyak orang selalu rindu pulang kampung saat hari raya tiba.

Kuliner Tradisional dan Tantangan Zaman

Di era makanan viral dan tren instan, kuliner tradisional seperti pecel pitik atau rujak soto menghadapi tantangan baru: perlahan dilupakan generasi muda.

Padahal, di balik setiap resep, ada sejarah panjang yang tidak bisa digantikan algoritma media sosial.

Beruntungnya, kini semakin banyak komunitas, pelaku UMKM, hingga festival daerah yang mulai mengangkat kembali kuliner khas Banyuwangi agar tetap dikenal anak muda. Festival kuliner lokal dan promosi wisata membuat makanan tradisional kembali mendapat tempat di hati masyarakat.

Karena menjaga makanan tradisional sejatinya juga menjaga identitas budaya.

baca juga

Rasa yang Membuat Orang Selalu Ingin Pulang

Pada akhirnya, kuliner Idul Adha di Banyuwangi bukan hanya soal rasa lezat atau rempah yang kuat.

Ia adalah cerita tentang rumah.

Tentang keluarga.

Tentang tradisi yang tetap hidup meski zaman terus berubah.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa satu suapan pecel pitik atau sego tempong bisa terasa begitu membekas.

Bukan karena makanannya semata, tetapi karena ada kenangan yang ikut tersaji di dalamnya.

Kalau menurut Kawan artikel ini menarik, jangan lupa bagikan ke teman atau keluargamu—siapa tahu mereka juga sedang rindu aroma dapur rumah saat Iduladha.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.