AIESEC in UIN Jakarta kembali melanjutkan rangkaian program AIESEC Future Leaders (AFL) Summer Peak 2026 melalui penyelenggaraan Capacity Building 3 yang dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026 di D’Este Coffee and Eatery, Tangerang Selatan. Mengangkat tema “From Vision to Action: Turning the Ideas into Project Blueprints,” kegiatan ini dirancang untuk membantu delegates memahami bagaimana sebuah ide dan isu sosial dapat dikembangkan menjadi project plan yang lebih realistis, terstruktur, dan siap diimplementasikan.
Kegiatan ini dihadiri oleh delegates AFL Summer Peak 2026, coaches, organizing committee, serta stakeholders dari AIESEC in UIN Jakarta. Pada kesempatan tersebut, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan Sharon Serafim Stevanvirta, Project Manager PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Gunung Sewu Group), sebagai pembicara utama. Melalui sesi ini, Sharon membagikan wawasan mengenai project management, strategic planning, hingga pentingnya risk mitigation dalam menjalankan sebuah proyek.
Acara dibuka oleh MC Dyon dan Muti yang menyambut seluruh peserta dengan suasana hangat dan penuh antusiasme. Untuk membangun energi peserta, kegiatan diawali dengan energy check dan sesi check-in interaktif yang membantu delegates lebih mengenal satu sama lain. Berbagai engagement activities juga dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih santai, aktif, dan menyenangkan selama kegiatan berlangsung.
Pada sesi expectation setting, peserta diperkenalkan pada fokus utama Capacity Building 3, yaitu bagaimana mengubah ide menjadi project blueprint yang executable dan berdampak. Delegates diajak memahami bahwa sebuah ide yang baik membutuhkan perencanaan yang matang agar dapat dijalankan secara efektif dan memberikan impact yang nyata bagi masyarakat.
Memasuki sesi utama, Sharon menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam sebuah proyek bukan hanya terletak pada proses menciptakan ide, tetapi bagaimana ide tersebut dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan. Delegates diperkenalkan pada berbagai konsep dasar project management, seperti execution planning, role distribution, stakeholder coordination, hingga strategi mitigasi risiko dalam pelaksanaan proyek.
Selain itu, peserta juga mempelajari berbagai tantangan yang umum terjadi selama proses implementasi proyek, mulai dari keterbatasan sumber daya, participant engagement yang rendah, kendala timeline, hingga koordinasi tim dan sponsorship. Sharon menekankan bahwa kemampuan mengidentifikasi risiko serta menyiapkan solusi alternatif menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan sebuah proyek.
Melalui simulasi dan studi kasus yang diberikan, delegates didorong untuk berpikir lebih realistis dalam menyusun project execution plan. Peserta belajar bagaimana menyusun strategi, menentukan prioritas, serta menyesuaikan solusi dengan kapasitas tim yang dimiliki. Aktivitas ini membantu delegates mengembangkan kemampuan critical thinking, problem solving, dan teamwork dalam menghadapi berbagai tantangan proyek.
Sesi berlangsung semakin interaktif ketika peserta mulai menghubungkan materi dengan pengalaman mereka di organisasi maupun proyek sebelumnya. Delegates aktif mengajukan pertanyaan terkait cara membangun teamwork yang efektif, menghadapi perubahan mendadak dalam proyek, hingga menjaga keberlanjutan program di tengah keterbatasan sumber daya.
Untuk memperdalam pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan practical case discussion. Delegates dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta menganalisis berbagai tantangan project execution serta menyusun strategic mitigation plan agar proyek tetap dapat berjalan secara optimal. Beberapa kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusinya di hadapan seluruh peserta.

Menanggapi presentasi tersebut, Sharon memberikan feedback mengenai pentingnya logical problem framing, kejelasan solusi, serta keterkaitan antara strategi yang dibuat dengan impact yang ingin dicapai. Ia juga menegaskan bahwa project planning yang baik harus tetap realistis dan mempertimbangkan kapasitas tim secara menyeluruh.
Selain sesi pembelajaran utama, kegiatan ini juga menghadirkan partnership session bersama Cakap. Pada sesi tersebut, perwakilan Cakap memperkenalkan company profile, platform pembelajaran, serta berbagai program edukasi yang dimiliki. Delegates juga mengikuti audience engagement activities dan memperoleh voucher sebagai bagian dari kolaborasi partnership.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Final Project Recalling Session yang bertujuan membantu delegates meninjau kembali perkembangan Project ARC yang sedang mereka jalankan. Facilitators mengingatkan peserta mengenai phase berikutnya serta berbagai deliverables yang perlu diselesaikan dalam waktu dekat. Setelah itu, delegates kembali melanjutkan diskusi kelompok terkait progres proyek masing-masing.
Menjelang akhir acara, peserta mengikuti sesi refleksi untuk membagikan insight yang diperoleh selama Capacity Building 3 berlangsung. Melalui sesi tersebut, delegates menyampaikan bahwa mereka memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya strategic thinking, project planning, dan komunikasi yang efektif dalam menjalankan sebuah proyek.
Melalui Capacity Building 3 ini, AIESEC in UIN Jakarta berharap seluruh delegates mampu mengembangkan kemampuan project planning, strategic thinking, serta problem solving dalam menciptakan proyek yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan, terukur, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program lainnya, ikuti Instagram @growthenabler.uinjkt atau bergabung melalui bit.ly/CommunityAIESECinUINJakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


