Surabaya, 25 Mei 2026 — Lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya mengikuti sesi kedua Capacity Building AFL Summer Peak 2026 yang digelar AIESEC in Surabaya secara daring melalui Zoom pada Sabtu, 2 Mei 2026. AFL Summer Peak 2026 merupakan program kepemimpinan terbuka yang bisa diikuti siapa saja tanpa perlu menjadi anggota AIESEC, dan season kali ini berhasil menarik peserta dari berbagai kampus di Surabaya dalam satu ruang belajar yang sama.

Kawan, pernahkah kita menyadari bahwa sering kali kita terlalu cepat melompat ke solusi tanpa benar-benar memahami inti dari masalah yang dihadapi? Inilah titik tolak sesi yang dipimpin Rendy Aries Fajrin, personal trainer eksekutif di @apci.official sekaligus alumni AIESEC. Dengan latar belakang di dunia pengembangan sumber daya manusia, Rendy mengemas materi yang terasa berat menjadi sesuatu yang langsung bisa dicerna dan dipraktikkan.
Rendy memperkenalkan empat alur berpikir sebagai fondasi sesi ini. Pertama, Cognitive Awareness, yang mengajak para Delegates mengenali cara kerja otaknya sendiri, termasuk jebakan seperti confirmation bias dan pola pikir otomatis yang kerap membawa kita pada kesimpulan yang terburu-buru. Kedua, Problem Deconstruction, yang memandu peserta menelusuri akar masalah melalui pendekatan Problem Tree, metode 5 Whys, serta konsep symptom-versus-cause dari Ken Watanabe.
Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah demonstrasi langsung metode 5 Whys. Rendy menggunakan contoh sederhana, bangun kesiangan setelah tidur siang, lalu menelusuri satu per satu pertanyaan mengapa hingga menemukan akar sesungguhnya, yaitu kebiasaan tidak memeriksa daya baterai ponsel sebelum tidur. Contoh itu terdengar sepele, namun justru di situlah kekuatannya. Para delegates diajak melihat bahwa masalah yang tampak di permukaan hampir selalu memiliki lapisan yang lebih dalam yang luput dari perhatian jika kita tidak mau bertanya cukup keras.
Sesi dilanjutkan dengan Solution Design, modul yang memandu para delegates merancang rencana aksi secara terstruktur menggunakan kerangka Divergent Thinking, analisis SWOT, hingga metode SMART. Terakhir, Cultural Adaptation mengingatkan bahwa solusi yang baik di satu lingkungan belum tentu berjalan mulus di lingkungan lain. Rendy menggunakan enam dimensi budaya Hofstede untuk menjelaskan bagaimana nilai, hierarki, dan kebiasaan kolektif bisa memengaruhi cara sebuah solusi diterima.
Sesi berlangsung interaktif dengan format diskusi dan simulasi kelompok yang membuat materi tidak berhenti di tataran teori. Capacity Building 2 AFL Summer Peak ini menjadi cerminan dari apa yang AIESEC in Surabaya coba bangun, sebuah ruang belajar kepemimpinan yang inklusif, terbuka, dan dirancang serius untuk generasi muda lintas kampus di Surabaya.
Dengan menjangkau lebih dari 200 mahasiswa dalam satu season, AIESEC in Surabaya membuktikan bahwa keterampilan berpikir kritis bukan milik segelintir orang. Ia bisa dipelajari, dilatih, dan dibawa pulang, asalkan ada ruang yang tepat untuk memulainya.
Gimana, Kawan? Penasaran bagaimana proses exchange bisa menjadi ruang belajar dan pembentukan kepemimpinan anak muda? Kawan dapat mengenal lebih jauh program dan inisiatif AIESEC melalui laman resmi AIESEC.org, serta mengikuti cerita kepemimpinan anak muda Surabaya di Instagram @aiesecsurabaya.
(Marsha Muntahir)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


