AIESEC in UIN Jakarta kembali mengadakan AIESEC Future Leaders (AFL) Capacity Building 1 sebagai bagian dari rangkaian AFL Summer Peak 2026 pada Sabtu, 2 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh delegates AFL Summer Peak 2026, coaches, serta panitia internal AIESEC in UIN Jakarta. Capacity Building 1 menjadi sesi pembuka yang dirancang untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan generasi muda, khususnya dalam membangun resilience, kemampuan self-management, dan pola pikir strategis di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB hingga 12.30 WIB dengan suasana yang interaktif dan penuh partisipasi. Acara dibuka oleh Master of Ceremony (MC) melalui sesi check-in, dilanjutkan dengan pengenalan agenda serta peraturan kegiatan untuk menciptakan ruang belajar yang nyaman dan kondusif bagi seluruh peserta. Sejak awal sesi, peserta didorong untuk aktif berpartisipasi sekaligus memahami tujuan utama AFL Capacity Building 1 sebagai wadah pengembangan kepemimpinan yang relevan dengan dinamika organisasi maupun proyek sosial.
Pada sesi utama, AFL Capacity Building 1 menghadirkan Fayanna Ailisha Davianny, Founder Self Grow Indonesia, sebagai pembicara utama. Dengan mengangkat tema “Resilient Leadership: Building Emotional Resilience for Global Challenges”, Fayanna membahas pentingnya self-management, people management, dan emotional resilience dalam proses kepemimpinan. Peserta juga diperkenalkan dengan SQCA Framework sebagai metode untuk menganalisis tantangan dan menyusun solusi secara strategis dan terarah.
Dalam pemaparannya, Fayanna menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan tugas, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi, serta membangun relasi yang sehat dengan orang lain. Peserta diajak memahami bahwa pemimpin yang baik bukan hanya berfokus pada hasil, melainkan juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan berdampak positif bagi timnya. Selain itu, materi mengenai manajemen waktu dan pengambilan keputusan strategis turut menjadi pembahasan penting dalam sesi tersebut.
“Menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Justru, pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mengenali emosinya, memahami timnya, dan tetap bertumbuh di tengah tekanan maupun tantangan,” ujar Fayanna dalam sesi pemaparannya.

Setelah sesi materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendiskusikan berbagai tantangan nyata yang sering mereka hadapi di organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Peserta secara aktif mengajukan pertanyaan terkait pengelolaan tekanan, membangun motivasi tim, hingga cara menghadapi burnout dalam lingkungan kerja kolaboratif.
Sebagai bentuk implementasi materi, peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa breakout room untuk mengerjakan studi kasus berdasarkan berbagai skenario, seperti low impact program, team burnout, hingga keterbatasan sumber daya dalam mencapai target yang tinggi. Dalam sesi ini, setiap kelompok diminta mengidentifikasi akar permasalahan menggunakan root cause analysis dan Theory of Change framework sebelum menyusun solusi yang relevan dan berdampak. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh kelompok terpilih dan mendapatkan umpan balik langsung dari panitia maupun pembicara.
Putri Halimah selaku Local Committee Vice President of Engagement with AIESEC menyampaikan bahwa AFL Capacity Building 1 diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya memberikan teori, tetapi juga pengalaman praktis bagi para peserta.
“Melalui Capacity Building 1 ini, kami berharap peserta dapat memahami bahwa leadership bukan hanya soal memimpin orang lain, tetapi juga bagaimana memimpin diri sendiri dan tetap resilien dalam menghadapi tantangan. Harapannya, pembelajaran ini bisa mereka terapkan selama AFL maupun di kehidupan organisasi ke depannya,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama kegiatan berlangsung, baik dalam sesi diskusi, presentasi kelompok, maupun permainan interaktif yang diselenggarakan panitia. Selain menjadi ruang belajar, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi peserta untuk memperluas koneksi, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperkuat kemampuan kolaborasi dengan peserta lain dari berbagai latar belakang.
“Sesi ini membuat saya sadar kalau leadership itu bukan sekadar memberi arahan, tapi juga tentang bagaimana memahami diri sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Materinya sangat relate dengan tantangan yang sering aku alami di organisasi,” ujar Naila, salah satu peserta AFL Summer Peak 2026.
Kesan positif juga disampaikan oleh peserta lainnya. “Saya suka karena sesi ini nggak cuma teori, tapi juga ada studi kasus yang bikin kita belajar langsung menyelesaikan masalah bersama tim. Jadi lebih kebayang bagaimana menerapkannya di project nanti,” ungkap Putri.
Menjelang akhir kegiatan, panitia mengarahkan peserta untuk mengisi survei umpan balik sebagai bagian dari evaluasi acara. Selain itu, diumumkan pula agenda AFL selanjutnya, termasuk coaching session dan tahapan lanjutan Project ARC Phase 1 yang akan menjadi implementasi nyata dari materi yang telah dipelajari selama Capacity Building 1.
Melalui AFL Capacity Building 1, AIESEC in UIN Jakarta terus berkomitmen menghadirkan ruang pengembangan kepemimpinan yang relevan, aplikatif, dan berdampak bagi generasi muda. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya AIESEC in UIN Jakarta dalam membentuk pemimpin masa depan yang resilien, kolaboratif, dan mampu menciptakan kontribusi positif bagi masyarakat.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program lainnya, ikuti Instagram @growthenabler.uinjkt atau bergabung melalui bit.ly/CommunityAIESECinUINJakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


