Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan pendidikan dasar tidak lagi hanya tentang bagaimana siswa mampu membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana mereka dapat belajar secara aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Sayangnya, proses pembelajaran di sekolah dasar masih sering didominasi metode konvensional yang membuat peserta didik cepat bosan dan kurang terlibat selama pembelajaran berlangsung.
Kondisi tersebut turut berdampak pada rendahnya minat literasi dan kurang optimalnya penguatan karakter peserta didik di sekolah.
Berangkat dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa Program Asistensi Mengajar (AM) dari Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang menghadirkan berbagai program inovatif selama menjalankan penugasan di SDN 3 Gedog.

Tidak hanya membantu kegiatan belajar mengajar di kelas, mahasiswa juga berupaya menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, humanis, dan dekat dengan dunia anak melalui pemanfaatan teknologi digital, program literasi, hingga pendampingan karakter peserta didik.
Pada aspek akademik, setiap mahasiswa melakukan praktek mengajar di kelas yang berbeda sebanyak tiga kali. Lintang Mashduriah melakukan praktek mengajar pada kelas 3 dengan mata pelajaran Matematika, IPAS, dan Pendidikan Pancasila.
Adapun media pembelajaran yang digunakan meliputi media digital dan media konkret, salah satunya adalah Papan Tally Chart.
Sementara itu, Annisa Anggun Luqmana melakukan praktek mengajar di kelas 4 pada mata pelajaran Matematika dan IPAS. Salah satu teknologi digital yang digunakan adalah media game digital interaktif “Kirun Missions” dengan menggunakan fasilitas Chromebook.
Sedangkan, Rifdah Lutfiya melakukan praktek mengajar di kelas 5 pada mata pelajaran IPAS dan Matematika. Metode eksperimen dan model game based learning diterapkan dalam praktik untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa.

Tidak hanya fokus pada pembelajaran berbasis teknologi, mahasiswa Asistensi Mengajar juga menghadirkan program “Pojok Baca” untuk mendukung budaya literasi di sekolah. Program ini dilakukan dengan mengisi sudut baca di setiap kelas menggunakan berbagai buku bacaan menarik yang dirotasi setiap minggu agar siswa tidak merasa bosan.
Kemudian untuk mendukung penguatan karakter siswa, mahasiswa juga merancang program bimbingan dan konseling sederhana melalui jurnal “Isi Hatiku” untuk kelas rendah dan “Ayo Curhat” bagi kelas tinggi.
Program ini menjadi media bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan dan menceritakan pengalaman mereka, baik melalui tulisan maupun konsultasi langsung.
Mahasiswa juga turut mendampingi berbagai kegiatan nonakademik seperti English Club, Pramuka, ekstrakurikuler seni, hingga kegiatan pembiasaan sekolah.
Dalam English Club, misalnya, siswa diajak belajar bahasa Inggris melalui permainan interaktif, bernyanyi bersama, dan metode fun games agar pembelajaran terasa lebih menyenangkan.

Mahasiswa juga aktif membantu berbagai program sekolah seperti Pondok Ramadan, Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, kegiatan ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), hingga kunjungan literasi dari perpustakaan keliling.
Seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter disiplin, kepedulian sosial, nasionalisme, dan budaya literasi peserta didik.
Tidak hanya itu, mahasiswa turut membantu sekolah dalam bidang administrasi dan publikasi. Berbagai kegiatan sekolah didokumentasikan dan dipublikasikan melalui media sosial program Asistensi Mengajar sebagai bentuk penyebarluasan praktik baik pendidikan kepada masyarakat.
https://www.instagram.com/p/DXUgRc2koYg/
(Preview akan muncul di halaman artikel)Kehadiran mahasiswa Asistensi Mengajar di SDN 3 Gedog menjadi contoh bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah mampu menghadirkan inovasi pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan siswa saat ini.
Dengan pendekatan yang kreatif, humanis, dan berbasis teknologi, pendidikan dasar tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang tumbuh yang menyenangkan bagi peserta didik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


