Bagi sebagian besar masyarakat, Harmonized System atau yang lebih akrab dikenal sebagai HS Code mungkin terdengar seperti istilah teknis kepabeanan yang asing. Namun, dalam dunia perdagangan internasional, mengenalnya adalah sebuah keharusan.
HS Code adalah sistem klasifikasi produk yang berlaku secara universal di seluruh dunia. Deretan angka ini berfungsi sebagai identitas resmi setiap barang yang melewati batas negara, menentukan besaran tarif bea masuk, hingga mengatur regulasi pengapalan.
Masalahnya, selama ini ada tembok pembatas yang cukup tebal antara dunia riset dan dunia perdagangan. Para peneliti di laboratorium sering kali menciptakan inovasi mutakhir tanpa memikirkan bagaimana produk tersebut akan diklasifikasikan dalam kode perdagangan global.
Keterputusan ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak barang lokal kesulitan menembus pasar internasional.
Langkah BRIN bersama Kementerian Perdagangan menggelar sesi pengenalan HS Code bertujuan untuk menjembatani jurang pemisah tersebut agar inovasi dalam negeri bisa berjalan selaras dengan kebutuhan pasar.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan bahwa penguasaan terhadap kode internasional ini sangat penting.
Mengenal cara kerja sistem klasifikasi ini akan membantu pemerintah dan pelaku usaha dalam menyusun pohon industri yang jelas, mempermudah pemetaan rantai pasok, serta mempercepat proses hilirisasi berbasis data yang akurat.
Membaca Struktur Digit, Dari Standar Global Hingga ASEAN
Untuk memahami bagaimana sistem ini bekerja, kita perlu melihat strukturnya secara teknis. Analis Perdagangan Kementerian Perdagangan, Umar Fahrudin, menjelaskan bahwa di tingkat internasional, klasifikasi ini menggunakan standar enam digit angka.
Namun, untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia mengadopsi sistem delapan digit yang disebut ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN). Tambahan dua digit ini memberikan spesifikasi yang lebih detail untuk menyesuaikan dengan karakteristik komoditas di pasar regional.
Mengenal dan mengintegrasikan kode delapan digit ini dengan tabel Input-Output (I-O) menjadi solusi penting untuk menghitung nilai tambah ekonomi secara presisi. Langkah tersebut menjadi jawaban bagi Indonesia yang sedang gencar memetakan industri strategis masa depan, seperti ekosistem kendaraan listrik, produksi baterai litium, hingga pemasangan panel surya.
Dengan membaca data perdagangan berbasis kode ini, perencana kebijakan bisa melacak komponen apa saja yang masih harus diimpor dan bagian mana yang bisa diproduksi secara mandiri di dalam negeri.
Akurasi data dari pengenalan kode barang ini juga menjadi kompas penting agar Indonesia bisa segera keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Kita tidak bisa memenangkan persaingan industri jika tidak mengetahui posisi produk kita dalam peta pasokan global.
Melindungi Produk Lokal
Mengenal HS Code secara mendalam juga memiliki fungsi perlindungan bagi ekonomi domestik.
Melalui akurasi klasifikasi barang, pemerintah dapat mendeteksi potensi praktik perdagangan yang tidak sehat, seperti isu anti-dumping atau membanjirnya barang impor murah yang mengancam eksistensi UMKM lokal.
Pendekatan berbasis kode internasional ini akan menjadi fondasi dalam melakukan analisis hilirisasi mineral kritis, valuasi teknologi, hingga transisi energi yang terhubung dengan pasar global.
Hal ini memastikan bahwa anggaran riset negara tidak terbuang sia-sia untuk membiayai proyek yang secara regulasi internasional sulit untuk dikomersialkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


