Membicarakan aspek pedagogisnya, pendidikan tinggi di Indonesia menganut ‘ideologi’ yang dikenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Dilansir dari suteki.co.id (12/12/2023), Tridharma Perguruan Tinggi merupakan konsep yang menjadi suatu pedoman baku dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi.
Konsep ini sendiri pertama kali dicetuskan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang selanjutnya disahkan melalui pelbagai kebijakan pemerintah.
3 Pokok Konseptual Tridharma Perguruan Tinggi
Mengenai substansinya, Tridharma Perguruan Tinggi dikelompokkan dalam tiga pokok konseptual, yaitu:
Pendidikan dan Pengajaran
Pendidikan dan pengajaran adalah pilar pertama sekaligus utama dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Adapun perguruan tinggi selaku pelaksana pendidikan berperan dalam memastikan proses belajar-mengajar memberikan hasil berupa lulusan yang kompeten dan berdaya saing di lingkup sosial maupun industri.
Penelitian
Tidak kalah penting, penelitian dapat diibaratkan seperti “jiwa” pada perguruan tinggi. Karena bermula dari sinilah, berbagai macam inovasi hingga temuan konstruktif dilahirkan melalui pemikiran para akademisi yang piawai seturut bidangnya masing-masing.
Tanpa aspek penelitian, dipastikan umat manusia akan lebih terlambat bahkan berpotensi tidak berkembang akibat adopsi teknologi yang tidak diakselerasi dengan maksimal.
Pengabdian kepada Masyarakat
Pilar ini mencerminkan kontribusi aktif perguruan tinggi terhadap masyarakat luas. Pengabdian kepada masyarakat dalam konteks pendidikan merujuk pada penyelesaian pelbagai masalah sosial yang sekiranya mampu dientaskan melalui pendekatan berbasis sains.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya, ketiga pokok tersebut merupakan template dalam melaksanakan proses pendidikan tinggi di universitas, politeknik, institut, sekolah kedinasan, dan yang setingkat lainnya.
Pada kali ini, tema tulisan akan mengangkat dinamika KKN yang biasanya sudah diprogram sebagai mata kuliah yang wajib dipenuhi oleh mahasiswa.
KKN dan Era Digital: Menyibakkan yang Selama Ini (Mungkin) Terjadi
Menyitat icc.unism.ac.id, KKN adalah akronim dari Kuliah Kerja Nyata; program yang umum ditujukan bagi mahasiswa S1 untuk mengabdi kepada masyarakat dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral dalam kurun waktu tertentu.
Program ini diberlakukan untuk mahasiswa yang jelang menempuh semester akhir, misalnya seperti semester 5 atau 6.
Mereka akan merasakan bagaimana suasana pembelajaran secara langsung di luar ruang kelas dan berdampingan dengan masyarakat setempat, sembari menunaikan ‘kewajiban’ yang kampus berikan sebagai bagian dari proses akademik.
Barangkali bagi mereka yang termasuk golongan Generasi X, keguyuban selama menjalani KKN akan lebih terasa, mengingat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kala itu masih belum secanggih sekarang.
Namun, dengan menjamurnya layanan telekomunikasi seperti hadirnya wi-fi/wi-fi corner, ditambah dengan ponsel pintar, laptop serta tablet yang kian mutakhir, sedikit-banyak telah memengaruhi metode praktis kita untuk berinteraksi dengan orang lain dewasa ini.
Jika dulunya harus membuat janji temu, kini lebih mudah mengoperasikan aplikasi sebagai pihak ketiga yang menjembatani interaksi kita.
Maka dari itu, sangatlah relevan akan ungkapan yang mengatakan bahwa TIK mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat.
Artinya, ironi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa digitalisasi membikin orang terus terikat guna berkomunikasi dengan lawan bicaranya yang jauh entah ada di mana, sedangkan orang yang berada di dekatnya justru seolah-olah “menghilang” sosok hadirnya.
Sayangnya, pola ini semakin tampak pada kalangan generasi muda yang kini berkuliah, menguatkan asumsi rendahnya kecakapan dalam bersosialisasi.
Tak ayal, generasi muda diketahui lebih cenderung berkutat dengan hp-nya ketimbang membangun upaya komunikasi yang nyata terhadap sesama.
Pada akhirnya, timbullah tendensi untuk menonjolkan individualisme di antara masyarakat, terutama bagi yang berdomisili di kawasan metropolitan.
Antonucci dkk. (2017) dalam artikel ilmiahnya berjudul “Social Relations and Technology: Continuity, Context, and Change” menandaskan bahwa TIK itu bagaikan ‘pedang bermata dua’, tergantung dari cara kita memanfaatkannya.
Dikemukakan munculnya berbagai aplikasi sosial seperti Skype, Facebook, WhatsApp, email, dan sejenisnya dapat mengurangi hambatan tradisional dalam berkomunikasi lintas jarak geografis.
TIK—yang termasuk juga dengan internet—semakin memudahkan integrasi interaksi tanpa terbatas oleh lokasi.
Potensi keuntungan akan kemajuan teknologi ini mayoritas dijumpai pada kaum lansia yang terisolasi dari dunia luar dan tentunya anak muda yang hidup sezaman.
Meskipun demikian, jika tidak diimbangi dengan penggunaan yang bijak, TIK mampu memberikan implikasi negatif. Contohnya: meningkatnya cyberbullying yang berujung pada depresi, mengikis kualitas bersosialisasi, menumpulkan kemampuan berempati, bahkan memicu seseorang untuk melakukan tindakan yang tidak diinginkan.
Pada realitasnya, mahasiswa sekarang pun cenderung grogi dalam berekspresi, lebih nyaman untuk berkomunikasi dengan yang sefrekuensi tanpa mau belajar memahami yang lain.
Banyak pewartaan yang menyebut generasi muda kurang menunjukkan hospitality aktif dan justru mengisolasi diri dari relasi sosial yang konkret.
Solusi yang Direkomendasikan
Oleh karena itulah, mahasiswa yang merupakan generasi muda patut memerhatikan beberapa poin di bawah ini:
Bersikap Sopan dan Ramah terhadap Teman Kelompok serta Warga
Walaupun mungkin mahasiswa memiliki latar belakang yang masing-masing berbeda, itu seharusnya tidak menghilangkan aspek keramahtamahan dan toleransi.
Menggunakan istilah Jawa, mahasiswa perlu menerapkan sikap srawung, tidak hanya kepada teman KKN, melainkan yang terpenting juga kepada warga yang nantinya akan terus membersamai selama pelaksanaan KKN.
Menghormati Adat dan Kebiasaan Kolektif yang Berlaku
Barangkali masyarakat setempat punya suatu adat atau budaya yang tampaknya aneh bagi kita.
Dalam konteks ini, selama itu dinilai baik dan membawa berkah bagi semua, mahasiswa diwajibkan untuk menghargai bahkan mengapresiasi terhadap kegiatan rutin dan/atau norma tertentu yang berkembang secara regional.
Secara Teratur Belajar Mengurangi Ketergantungan pada 'Gadget'
Ini yang harus diperhatikan. KKN lekat dengan jalinan interaksi sosial yang kuat; tidaklah elok apabila mahasiswa terus-terusan memantau notifikasi hingga mencari hiburan daring yang tidak melihat waktu dan kondisi yang ada.
Jika ada kesempatan, gunakanlah untuk saling bersenda gurau atau membuat pembicaraan yang hangat dan sewajarnya.
Untuk tambahan, operasikan media sosial dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Tentunya kita tidak ingin terjadinya viralitas yang tidak perlu, bukan?
Memerhatikan Etika Berbusana
Mode masyarakat desa biasanya terkesan tradisional atau kuno, yang serasa “tidak masuk” bagi mahasiswa. Janganlah sampai terpancing untuk ‘bertanding’ dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai norma setempat. Ingatlah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menjaga Amanah, Tanggung Jawab, serta Kedisiplinan
Mahasiswa patut menunjukkan teladan baik terhadap masyarakat, karena tidak semuanya pernah berkuliah. Misalkan, hadirlah tepat waktu apabila diajak pada kenduri desa, jalankan program kerja dengan sungguh-sungguh dan berkesan baik di mata warga, dan hindari suka mangkir tatkala diadakan rapat evaluasi secara internal maupun dihadapan dosen pembimbing.
Tidak Mengharapkan Pamrih
Jangan timbulkan niat hati untuk melakukan pencitraan terhadap masyarakat, dengan imbalan sebagai jaminannya. KKN itu dijalani dengan maksud memberi dan bukan menerima.
Mahasiswa dilarang untuk bertindak sesuatu demi hadiah, fasilitas tambahan, hingga perlakuan Istimewa hanya karena menyandang status sebagai “mahasiswa”.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


