Jika kita bertanya kepada AI, tentang apa itu isolated incident (insiden terisolasi), jawabannya adaah "Peristiwa atau kejadian buruk yang terjadi hanya satu kali saja dan bukan bagian dari pola perilaku, tren, atau masalah yang lebih besar. Ini adalah pengecualian, bukan kebiasaan, dan tidak menunjukkan adanya masalah sistemik, kebiasaan buruk, atau rangkaian kejadian serupa". Dulu waktu kecil tahun 1950-an, jari-jari saya dipukul guru ngaji dengan penggaris karena saya selalu salah dalam membaca Al-Qur’an; tajwid saya bletotan. Kejadian itu mungkin kategori isolated incident karena terjadi hanya sekali dan lagi pula orang-orang Jakarta, Papua, atau Aceh tidak tahu kejadian yang saya alami. Kalau ada warga negara Amerika Serikat yang dipukuli preman di Indonesia, kedua negara menganggap insiden itu merupakan isolated incident dan karena itu tidak mengganggu hubungan bilateral kedua negara yang lebih luas.
Namun, di era digital, era artificial intelligence, era IG, FB, WA, dan TikTok, kejadian juri yang menyalahkan murid menjawab tepat di Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat—meskipun itu kejadian isolated incident—penyebaran berita yang viral menyebabkan hal itu tidak menjadi isolated incident lagi karena seluruh orang di Nusantara ini menontonnya. Kejadian itu mendadak menjadi sorotan publik setelah keputusan dewan juri dinilai tidak konsisten dalam memberikan penilaian kepada peserta.
Kompetisi yang berlangsung di Pontianak itu viral di media sosial usai potongan video perlombaan tersebar luas dan menuai kritik dari warganet. Polemik bermula ketika sesi rebutan menghadirkan pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menekan bel dan menjawab pertanyaan. Namun, jawaban mereka justru dinilai salah dan dikenai pengurangan poin lima oleh dewan juri. Tidak lama berselang, Grup B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dinilai publik memiliki substansi serupa. Bedanya, jawaban tersebut justru dianggap benar dan memperoleh nilai sempurna. Perbedaan keputusan itu langsung memicu protes dari peserta maupun penonton yang menyaksikan perlombaan. Dewan juri kemudian menjelaskan bahwa jawaban Grup C dianggap tidak menyebut unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas karena persoalan artikulasi. Penjelasan tersebut justru memicu gelombang kritik baru di media sosial.
Lalu, bermunculan kritik netizen dalam bentuk candaan dan parodi di media sosial yang menggambarkan kejadian serupa. Misalnya, salah satu tayangan di mana dewan juri menanyakan proses pembuatan jus tomat. Seorang peserta menjawab, “Siapkan blender ...,” dan seterusnya, tetapi jawabannya disalahkan juri. Ketika pertanyaan serupa dilontarkan kepada peserta lainnya yang menjawab persis dengan jawaban peserta pertama, juri memberikan nilai. Ketika peserta pertama memprotes, juri menjawab bahwa dia tidak mendengar kata “blender”, melainkan kata “ember”. Juri yang lain dengan nada ketus menasihati peserta yang protes tadi soal perlunya pitch control suara agar jawabannya didengar.
Kemudian, muncul berita bahwa Setjen MPR RI resmi menonaktifkan dewan juri dan pembawa acara (MC) yang bertugas dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat itu. Langkah ini diambil setelah insiden salah penilaian terhadap jawaban peserta SMAN 1 Pontianak viral dan memicu gelombang kritik publik.
Kejadian yang sebenarnya isolated incident itu memunculkan perhatian masyarakat tentang teknik pedagogi atau pengajaran yang lebih humanis kepada anak-anak muda Indonesia. Semua guru atau dosen paham bagaimana memberikan motivasi kepada murid atau mahasiswa yang jawaban atau pendapatnya kurang benar dengan cara memberi motivasi, misalnya, “Jawaban Anda bagus, namun perlu ada perbaikan,” atau “Your ideas are good, but you should improve your reasons,” dan sebagainya.
Perlu diperhatikan bahwa murid-murid SMAN 1 Pontianak itu adalah anak-anak yang muncul dengan percaya diri di tengah-tengah tayangan media sosial yang negatif tentang anak-anak Indonesia yang tidak bisa menjawab perkalian 8x9 itu berapa, atau di tengah berita-berita dari luar negeri yang menyebutkan bahwa IQ orang Indonesia itu salah satu yang paling rendah di dunia.
Murid-murid kita yang cerdas di atas merupakan bagian dari bonus demografi bangsa Indonesia yang digadang-gadang menjadi bagian dari generasi yang berkontribusi pada bangsa Indonesia dalam menyongsong era emas tahun 2045 di mana Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara besar di dunia ini.
Sayangnya, ada pihak birokrasi yang tidak memberikan motivasi, malah memberikan pernyataan yang bernada permisif bahwa kejadian di acara cerdas cermat itu bukan kesalahan juri, melainkan gangguan kesalahan teknis loudspeaker.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


