Ada yang membandingkannya dengan Raja Ampat, ada yang menyebutnya seperti Belitung. Tapi Bukit Matang Kaladan punya ceritanya sendiri yang tidak perlu meminjam nama tempat lain untuk menjual diri.
Terletak di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bukit ini berdiri di tepi Waduk Riam Kanan, sebuah waduk buatan seluas lebih dari 90 km2 yang dibendung pada 1973 dan kini menjadi sumber air baku utama Kalimantan Selatan.
Dari puncaknya, yang berada di ketinggian sekitar 400 meter, Kawan GNFI bisa menyaksikan gugusan pulau-pulau kecil yang muncul dari genangan waduk, dikelilingi perbukitan hijau berlapis-lapis di cakrawala, dengan perahu motor yang sesekali melintas jauh di bawah.
Kombinasi itulah yang membuat pemandangan dari sini terasa begitu berbeda dari bukit-bukit lain di Kalimantan.
Bukit Matang Kaladan dibuka sebagai destinasi wisata sejak Mei 2015 sehingga sejak saat itu terus berkembang. Kawasan ini sekarang masuk dalam wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam di bawah Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, sekaligus tercatat sebagai salah satu Geosite dalam kawasan Geopark Meratus yang tengah diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark.
Jaraknya dari Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan, hanya sekitar 30 kilometer, sehingga ini bisa menjadi pilihan wisata sehari yang sangat realistis bagi Kawan yang sedang berada di kawasan Banjarmasin dan sekitarnya.
Sekilas Mengenai Bukit Matang Kaladan
Bukit ini berada di area dermaga Bendungan Riam Kanan, di bagian selatan dari struktur bendungan tersebut. Waduk Riam Kanan sendiri bukan hanya infrastruktur air, melainkan juga ekosistem yang kini dihuni ribuan warga yang menggantungkan hidupnya pada perairan waduk melalui keramba apung, tambak ikan mas dan nila, serta jasa transportasi air antarpulau.
Dari jalur pendakian, Kawan bisa melihat langsung aktivitas keseharian warga ini, mulai dari perahu motor yang berseliweran, keramba apung yang berjejer rapi di atas air, hingga permukiman yang tersebar di beberapa pulau kecil di tengah waduk.
Perjalanan menuju puncak pun terasa seperti menyusuri lapisan kehidupan, bukan sekadar trekking biasa. Pengelolaan destinasi ini melibatkan Pokdarwis Sapta Pesona Riam Kanan yang berbasis di Desa Aranio, sehingga sebagian besar layanan termasuk ojek wisata dijalankan langsung oleh warga setempat.
Daya Tarik Utama Bukit Matang Kaladan
Daya tarik utama Bukit Matang Kaladan ada di puncaknya, yaitu hamparan Waduk Riam Kanan yang membiru dengan gugusan pulau-pulau kecil di tengahnya, dan barisan perbukitan. Pada pagi hari saat langit cerah, kabut tipis kerap masih menggantung di celah perbukitan sehingga membuat pemandangan semakin indah.
Jalur menuju puncak yang dijuluki warga sekitar sebagai "Perjalanan Cinta Seribu Anak Tangga" ini memiliki ketinggian pendakian sekitar 400 meter dan bisa ditempuh dalam 30 hingga 45 menit berjalan kaki.
Bagi yang tidak ingin mendaki, tersedia jasa ojek motor menuju puncak dengan tarif Rp20.000 per orang sekali naik, atau Rp40.000 pulang-pergi. Terdapat dua jalur pendakian berbeda, satu lebih curam namun cepat, satu lagi lebih landai dan cocok untuk yang ingin santai menikmati perjalanan.
Di puncak tersedia spot foto yang sudah dikelola pengelola, hammock untuk bersantai sambil memandang waduk, dan area camping bagi yang ingin bermalam.
Momen matahari terbit dan terbenam dari puncak bukit ini menjadi salah satu daya tarik yang paling banyak disebut oleh pengunjung, dengan siluet perbukitan dan pantulan cahaya di permukaan waduk sebagai latar belakangnya.
Akses Menuju Bukit Matang Kaladan
Dari Banjarbaru, perjalanan menuju Bukit Matang Kaladan berjarak sekitar 30,7 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 50 menit menggunakan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil karena aksesnya berupa jalan beraspal mulus. Rute dari Banjarbaru bisa melalui Jalan Ir. PM Noor.
Dari Banjarmasin, jarak tempuhnya sekitar 60 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam. Dari Kota Martapura sebagai ibu kota Kabupaten Banjar, perjalanan menuju dermaga Desa Tiwingan Lama hanya sekitar 30 menit. Dari Pelabuhan Tiwingan, Kawan masuk sedikit ke kawasan permukiman warga dan melewati jembatan gantung.
Di ujung jembatan itulah gerbang utama Bukit Matang Kaladan berada, sekaligus titik terakhir kendaraan bisa diparkir. Area parkir tersedia cukup luas dan dijaga, sehingga tidak perlu khawatir meninggalkan kendaraan saat mendaki.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Bukit Matang Kaladan buka setiap hari Senin hingga Minggu mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WITA. Waktu terbaik berkunjung adalah subuh hingga pagi hari untuk mengejar momen sunrise, atau sore hari menjelang pukul 17.00 untuk sunset. Untuk menikmati keduanya dalam satu kunjungan, opsi bermalam di area camping adalah pilihan yang tepat.
Tiket masuk dikenakan Rp5.000 per orang dengan biaya parkir Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil. Biaya sewa spot foto dikenakan Rp5.000, dan ojek motor tersedia Rp20.000 per orang sekali jalan atau Rp40.000 pulang-pergi.
Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi area parkir, toilet, musala, warung makan, dan hammock di puncak. Perlengkapan berkemah perlu dibawa sendiri karena fasilitas penyewaan belum tersedia.
Ayo Berkunjung ke Bukit Matang Kaladan!
Bukit Matang Kaladan adalah salah satu destinasi Kalimantan Selatan yang tidak memerlukan perjalanan jauh untuk mendapatkan pemandangan yang berkesan.
Datanglah pagi-pagi, bawa air minum yang cukup, gunakan alas kaki yang nyaman untuk jalur tangga, dan pertimbangkan untuk bermalam jika ingin menikmati sunrise
Kawan GNFI yang sudah terbiasa dengan wisata alam perbukitan mungkin tidak akan kecewa, dan bagi yang belum pernah mencobanya, ini tempat yang cukup ramah untuk memulai!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


