viral tapi kehilangan arah ketika budaya fomo mengikis nalar dan nurani generasi digital - News | Good News From Indonesia 2026

Viral tetapi Kehilangan Arah, ketika Budaya FOMO Mengikis Nalar dan Nurani Generasi Digital

Viral tetapi Kehilangan Arah, ketika Budaya FOMO Mengikis Nalar dan Nurani Generasi Digital
images info

Viral tetapi Kehilangan Arah, ketika Budaya FOMO Mengikis Nalar dan Nurani Generasi Digital


Di zaman digital ini, jika sebuah video diunggah, dalam hitungan jam, sangat mungkin video tersebut ditonton, ditiru, dan diunggah kembali oleh jutaan orang. Tidak ada pertanyaan mengapa ini viral dan apakah layak tiru? Yang terbesit dalam pikirian hanya dorongan jangan sampai ketinggalan.

Inilah gambaran generasi kita saat ini, sebuah generasi tumbuh berdampingan dengan notifikasi, algoritma, dan tekanan sosial yang berjalan tanpa jeda.

Menurut laporan Digital 2025: Indonesia yang diterbitkan DataReportal/Kepios (Februari 2025), terdapat 143 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia; ini mencakup lebih dari separuh populasi nasional.

Di tengah denyut viral culture yang semakin cepat munculah fenomena psikologis Bernama FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut atau khawatir tertinggal dari tren yang sedang ramai di media sosial.

Istilah FOMO bukan hanya sekedar rasa ingin ikut-ikutan. Ini merupakan mekanisme yang bekerja di bawah batas sadar kita, kondisi ini dibentuk dan diperkuat oleh algoritma media sosial yang dirancang untuk mempertahankan atensi pengguna pada layar digital tanpa henti.

Data APJII (2025) mencatat bahwa pengguna internet Indonesia di dominasi oleh Generasi Z dengan kontribusi sekitar 25,54 persen dari total 229 juta pengguna dan kelompok ini yang paling rentan terhadap tekanan viral culture.

baca juga

Viral culture bekerja dengan logika sederhana dengan siklus yang menghebohkan akan tersebar, yang tersebar akan dianggap penting, yang dianggap penting akan ditiru.

Dalam hal ini pertanyaan benar atau salah, baik atau buruk akan dipinggirkan dan dianggap tidak penting.

Dapat kita lihat bagaimana konten merendahkan orang lain justru menjadi trending topik dengan jutaan views. Kita melihat kasus perundungan yang dibungkus humor untuk dijadikan sebagai hiburan.

Di sinilah titik awal dimana nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi cara kita bersikap sebagai bangsa mulai goyah.

Padahal, nilai-nilai tesebut sejatinya sudah dirumuskan dalam Pancasila jauh sebelum era digital berkembang pesat. Kemanusiaan yang adil dan beradap terkikis ketika kita tertawa di atas penderitaan orang lain demi konten.

Persatuan dan kesatuan yang terancam akibat tren identitas yang membelah kita menjadi dua kubu yang saling berteriak. Musyawarah tergantikan dengan keributan komentar yang tidak berujung dan tidak berisi, dan buramnya keadilan sosial ketika ruang digital hanya memberi panggung kepada mereka yang berisik, bukan yang bijak.

Sebagai mahasiswa, saya merasakan bagaimana tekanan ini menjalar di dalam kehidupan pribadi. Di usia di mana jati diri sedang dicari, arus viral culture bisa menjadi arah yang menentukan kemana kita akan tumbuh, tegak berdiri pada prinsip sendiri atau bungkuk mengikuti arah tren.

Namun, penting untuk digarisbawahi mengenai persoalan yang bukan hanya pada teknologi itu sendiri dan tren semata. Ruang digital sesungguhnya potensi sebagai area bertukar gagasan, membangun solidaritas, bahkan sebagai penggerak perubahan sosial yang nyata dalam lingkup yang lebih luas.

Masalahnya adalah ketika kita berpartisipasi dalam viral culture secara pasif dan tanpa sadar; ketika mengikuti tren bukan karena setuju atau peduli, tetapi semata-mata karena takut dianggap tidak relevan.

Di sinilah letak tanggung jawab kita sebagai generasi muda untuk memilik sebagai subjek yang aktif dalam menentukan sikap, bukan objek yang pasif. Karena, karakter sebuah bangsa dibentuk oleh prinsip yang dipegang teguh.

baca juga

Kita bisa memulai dari diri sendiri untuk menjadi warga digital yang berkarakter. Pertama yang bisa dilakukan, yaitu sebelum membagikan konten, pikirkan apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah bermanfaat?

Selalu terapkan prinsip “saring sebelum sharing” kitab bisa filter informasi yang beredar menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Kedua, kita pilih partisipasi yang bermakna. Viral culture tidak selalu bermakna dangkal, kita bisa menggunakan platform digital untuk menyebarkan topik yang inspiratif, informatif, dan kreatif. Jadikan trending sebagai wadah nilai bukan sekadar ajang eksistensi.

Sejatinya, generasi digital bukanlah generasi yang lemah. Generasi ini merupakan yang terampil, cepat, dan terhubung.

Namun, kecepatan tanpa arah hanya kebisingan, koneksivitas tanpa empati hanya keramaian yang sepi. Di balik layar yang hidup, ada manusia yang mencari dirinya.

Tantangan yang kita hadapi bukan seberapa cepat kita ikut tren, melainkan seberapa kuat kita bisa tetap memegang prinsip diri sendiri di tengah arus yang tak pernah berhenti.

Viral boleh datang dan pergi, namun karakter yang berakar pada nilai-nilai Pancasila akan terbentuk dan bertahan selamanya dari tren yang pernah muncul mengisi beranda kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HW
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.