rakornas aibi 2026 membangun ekosistem inovasi nasional melalui kolaborasi lintas sektor - News | Good News From Indonesia 2026

Rakornas AIBI 2026: Membangun Ekosistem Inovasi Nasional melalui Kolaborasi Lintas Sektor

Rakornas AIBI 2026: Membangun Ekosistem Inovasi Nasional melalui Kolaborasi Lintas Sektor
images info

Rakornas AIBI 2026: Membangun Ekosistem Inovasi Nasional melalui Kolaborasi Lintas Sektor


Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) resmi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026 yang berlangsung secara hybrid hari ini, Rabu (13/05/2026). Bertempat di kantor baru AIBI, acara ini menjadi momentum bersejarah bagi pengembangan ekosistem inkubator bisnis dan inovasi di tanah air.

Rakornas AIBI 2026 dihadiri oleh Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pendidikan, Riset, Inovasi dan Hilirisasi sekaligus Dewan Pakar AIBI Achmad Adhitya, Ph.D, Asisten Stafsus Presiden bagian UMKM dan Digital Teknologi Andrisyah Tauladan, M.T., M.Sc., Deputi Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital Ery Punta Hendraswara, S.T., M.M., MBA, dan lainnya.

Kemudian Rakornas AIBI 2026 menghadirkan peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Makassar, Yogyakarta, hingga perwakilan dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Acara Rakornas AIBI 2026 juga menghadirkan tamu undangan dari ekosistem komunitas muda dari CEO Youth Ranger Indonesia dan Founder Trash Ranger Indonesia, Dimas Dwi Pangestu sebagai jembatan untuk akselerasi pada ide inovasi komunitas.

Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) sendiri merupakan asosiasi bagi inkubator bisnis di Indonesia yang telah berdiri selama 30 tahun. AIBI beranggotakan 200 lembaga dari berbagai provinsi dan aktif membangun ekosistem inovasi serta kewirausahaan nasional maupun internasional.

baca juga

Membuka Narasi Baru Inovasi Indonesia

Acara ini dimulai sejak pagi hari, peserta mulai memasuki ruang virtual dan fisik kantor baru AIBI. Suasana haru dan semangat tampak menyelimuti acara yang diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars AIBI.

Bagi para anggota yang telah lama berjuang membangun ekosistem inkubator bisnis, hari ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi sebagai peneguhan komitmen untuk terus mengawal lahirnya inovator-inovator baru Indonesia.

Presiden Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI), Catur Sugiarto, dalam laporannya menyampaikan bahwa organisasi yang lahir 30 tahun lalu di Solo ini berawal dari hanya enam inkubator bisnis dari IPB University, UMS, UNPAD, dan ITS.

Kini, AIBI telah memiliki 200 anggota aktif dari total 750 anggota yang tersebar di 30 provinsi. "33 persen dari anggota kami adalah universitas negeri. Kami hadir menjembatani akselerasi melalui kerja sama multipihak, mitra internasional, dan integrasi dengan program nasional," ujarnya dalam penyampaian di Rakornas AIBI.

Bridging The Valley of Death, Tantangan Abadi Inovasi

Salah satu topik hangat yang mengemuka dalam Rakornas kali ini adalah fenomena "valley of death" dalam inovasi nasional. Catur menjelaskan bahwa kesenjangan antara riset dan komersialisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.

"Mencari jalan keluar dari valley of death menjadi problem dari tahun ke tahun. Kontribusi kami melalui kajian inovasi memang kecil, tapi kami terus bergerak," tegasnya.

AIBI saat ini aktif menjadi anggota asosiasi di Seoul dan bersinergi dengan presiden ABI di Shanghai. "Kita aktif membangun ekosistem inovasi global," tambahnya.

Empat inkubator inovasi dari science techno park, UI, dan UGM bahkan telah berhasil mendapatkan pendanaan internasional.

Kolaborasi Lintas Sektor, Kunci Inovasi Besar

Dr. Ranti, Ketua Pengembangan AIBI, membawakan pesan menggugah yakni "Tidak ada inovasi besar tanpa kolaborasi besar." Dalam paparannya, ia menguraikan peran masing-masing pilar ekosistem nasional.

Pemerintah hadir sebagai fasilitator, pembuat kebijakan, dan enabler regulasi. Kampus berperan sebagai pusat talenta dan sumber deep-tech yang harus lebih dekat dengan industri. Sementara itu, industri dan investor menjadi penyedia akses modal awal, skala pasar, dan validasi rantai pasok.

AIBI sendiri berperan sebagai dirigen yang mengorkestrasi ekosistem. "Kita perlu eksekusi nyata untuk membangun kolaborasi dan inovasi bersama," pesan Dr. Ranti dalam mengakhiri sambutannya.

baca juga

Data UMKM dan Arah Kebijakan Baru

Sambutan inspiratif datang dari Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bapak Bagus, yang mewakili Wakil Menteri UMKM. Ia menyampaikan bahwa Perpres No. 2 Tahun 2022 tentang pengembangan kewirausahaan sedang dalam proses revisi. "Arahnya bicara startup dan kewirausahaan bidang digital," jelasnya.

Data terbaru menunjukkan jumlah UMKM yang terdata mencapai 59.519.650 unit usaha. Fakta menarik lainnya, proporsi UMKM masih didominasi oleh usaha mikro dan usaha non-badan hukum dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 60,51% dan serapan tenaga kerja hingga 97%.

Bagus juga menyoroti pentingnya mengubah diksi "pelaku UMKM" menjadi "pengusaha" untuk memberikan penghargaan dan motivasi. "Struktur banyak di bawah di mikro, naik kelas akan challenging," tegasnya.

Salah satu terobosan yang tengah digarap adalah program holding UMKM berbasis klaster yang mencakup 10 sektor, mulai dari perumahan rakyat, industri olahraga, kuliner, perkebunan, pertanian, handycraft, kesehatan, pertambangan, MBG, hingga pariwisata. "Arah ini diharapkan masuk ke prinsip ESG," tambahnya.

Hilirisasi dan Peluang Ekonomi Baru

Indonesia merupakan produsen utama 28 komoditas strategis tingkat global. Hilirisasi komoditas menjadi prioritas untuk menciptakan nilai tambah dalam negeri. Tujuh jenis komoditas yang menjadi fokus hilirisasi meliputi mineral, batu bara, minyak dan gas bumi, perkebunan, kehutanan, perikanan, serta kelautan.

"Momentum bridging pemasaran menjadi solusi untuk UMKM Indonesia. IPO UMKM termasuk dari program kita," tegas Bagus, membuka peluang besar bagi pengusaha kecil untuk go public.

Pelantikan Pengurus Wilayah, Memperkuat Jangkauan Nasional

Puncak acara RAKORNAS AIBI 2026 adalah peresmian kantor baru sekaligus pelantikan enam pengurus wilayah AIBI periode 2026-2029. Mereka adalah:

  1. Prof. Dr. Ir. Mardiana Ethrawaty, Pengurus Wilayah AIBI Sulawesi, Maluku, Papua

  2. Deva Pribadi, Pengurus Wilayah AIBI Jabodetabek & Banten

  3. Ir. Baroto, Pengurus Wilayah AIBI Jawa Timur

  4. Drs. Ibnu Gunawan, M.M., Pengurus Wilayah AIBI Jawa Tengah & Yogyakarta

  5. Dr. Totok, Pengurus Wilayah AIBI Kalimantan

  6. Fitrah Afandi, Pengurus Wilayah AIBI Sumatera

Setelah pembacaan ikrar, suasana haru menyelimuti ruangan. Enam pengurus wilayah ini diharapkan menjadi ujung tombak pengembangan inkubator bisnis di daerah masing-masing.

baca juga

Menatap Masa Depan, Kongres dan Harapan Baru

Catur Sugiarto mengingatkan bahwa masa kepengurusan AIBI 2023-2027 akan segera berakhir. "Tahun depan kita akan menggelar kongres pembentukan pengurus baru AIBI," ujarnya. Ia berharap Rakornas ini menjadi ruang diskusi produktif yang melahirkan gagasan-gagasan segar bagi kemajuan ekosistem inovasi Indonesia.

Dengan kantor baru yang diresmikan dan struktur organisasi yang semakin kuat di tingkat wilayah, AIBI optimistis dapat terus menjadi katalisator dan orkestrator ekosistem inovasi nasional. Seperti pesan yang mengemuka sepanjang acara yakni "Inovasi besar tidak akan pernah lahir tanpa kolaborasi yang besar pula."

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.