Gunung Aya Kembu dan Gunung Sya Koi merupakan dua buah gunung yang memiliki posisi saling bertolak belakang di tanah Papua. Konon ada sebuah legenda yang menceritakan asal usul Gunung Aya Kembu dan Gunung Sya Koi ini dulunya.
Konon gunung ini tercipta dari dua sosok pemimpin yang ada di daerah tersebut. Sebenarnya kedua pemimpin ini sangat arif dan bijaksana.
Namun masyarakat yang ada di daerah tersebut menyanjung mereka melebihi kodratnya. Hal inilah yang membuat kedua pemimpin tersebut pada akhirnya dikutuk menjadi gunung.
Lantas bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Gunung Aya Kembu dan Gunung Sya Koi tersebut?
Legenda Asal Usul Gunung Aya Kembu dan Gunung Sya Koi, Cerita Rakyat dari Papua
Dikutip dari artikel Levi Banundi, "Asal Mula Terjadinya Gunung Aya Kembu dan Gunung Sya Koi" dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Pemenang Sayembara), alkisah pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang berdiri di Lembah Grime, Nimboran, Jayapura. Kerajaan tersebut bernama Mampai.
Pada awalnya, Kerajaan Mampai dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana. Sang raja sangat peduli dengan keberadaan masyarakat yang dipimpinnya.
Tidak hanya sang raja, putra mahkota pun juga berperilaku sama seperti ayahnya. Hal ini membuat masyarakat sangat mencintai pemimpinnya tersebut.
Namun situasi ini berubah ketika Kaonak menguasai daerah tersebut. Kaonak yang terobsesi menjadi raja mulai menghasut masyarakat agar mengangkatnya menjadi pemimpin mereka.
Hasutan Kaonak ternyata berhasil membuahkan hasil. Masyarakat yang terbujuk oleh rayuannya akhirnya mengangkat Kaonak menjadi raja.
Ketika berhasil mencapai impiannya, Kaonak berperilaku seenaknya. Alih-alih berbuat baik pada masyarakat, Kaonak justru menjadi raja yang semena-mena.
Peperangan antarmasyarakat pun sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Situasi yang kian kacau ini membuat beberapa kelompok masyarakat mulai meninggalkan Kerajaan Mampai dan pergi ke daerah lainnya.
Salah satu kelompok bergerak ke arah utara Kerajaan Mampai. Kelompok ini dipimpin oleh seorang bangsawan bernama Aya Kembu dan istrinya Dewi Sya Koi.
Dewi Sya Koi merupakan seorang putri yang turun dari kahyangan. Dia khawatir dengan kondisi manusia dan memutuskan untuk turun ke bumi, hingga akhirnya menikah dengan Aya Kembu.
Setelah berjalan cukup jauh, kelompok Aya Kembu ini kemudian sampai di sebuah lembah yang dialiri Kali Armu.
Aya Kembu kemudian mengajak pengikutnya untuk menetap di sana. Beberapa kampung pun dibangun dengan pusat pemerintahan yang dipusatkan di Kampung Seru Wase.
Masyarakat pun mengangkat Aya Kembu sebagai done atau raja di sana. Sementara itu, Dewi Sya Koi diangkat menjadi ratu mendampingi Aya Kembu.
Aya Kaembu tumbuh menjadi seorang raja yang bersahaja. Para pengikutnya akhirnya kembali merasakan sosok pemimpin yang mengayomi seperti raja terdahulu di kerajaan Mampai.
Namun sanjungan yang diberikan oleh masyarakat ini pada akhirnya sangat berlebihan. Aya Kembu dan Dewi Sya Koi disanjung oleh masyarakat melebihi kodrat yang mereka miliki.
Hal ini ternyata mengusik Dewata Raja yang ada di kahyangan. Akhirnya Dewata Raja menurunkan kutukan pada Aya Kembu dan Dewi Sya Koi.
Raja dan ratu ini kemudian dikutuk menjadi dua buah gunung yang saling bersebelahan. Aya Kembu menjelma menjadi Gunung Aya Kembu.
Sementara itu, Dewi Sya Koi menjelma menjadi Gunung Sya Koi. Kedua ini memiliki posisi yang saling bertolak belakang antara satu sama lainnya.
Konon kedua gunung ini dianggap keramat oleh para tetua adat yang ada di Kampung Maribu, Sentani Barat, Jayapura.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


