Judul tulisan ini merupakan refleksi atas rasa keterkejutan saat mengamati nilai mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Keterkejutan tersebut muncul karena masyarakat awam melihat bahwa perekonomian nasional memerlukan langkah-langkah yang pruden. Ini sangat diperlukan agar masyarakat tidak menderita akibat harga-harga kebutuhan dasar yang naik drastis.
Banyak media, analis pasar saham, serta pemilik perusahaan besar melihat langsung nilai tukar rupiah tergelincir melewati Rp17.446 per dolar pada Selasa (5/5/2026). Hal ini memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga ke rekor terendah baru. Sentimen ditekan oleh indeks dolar AS yang lebih kuat karena perkembangan konflik di Timur Tengah mendorong permintaan safe-haven, juga karena permintaan dolar AS yang tinggi dari pihak korporasi. Sementara itu, kekhawatiran atas penyangga eksternal Indonesia muncul kembali menjelang data cadangan devisa April, setelah angka Maret turun ke level terendah hampir dua tahun.
Nilai tukar rupiah diamati melemah untuk sesi kedua pada Senin atau sehari sebelumnya, melayang di dekat Rp17.370 per dolar. Hal ini terjadi karena muncul keraguan atas efektivitas kebijakan bank sentral setelah mempertahankan suku bunga stabil sejak Oktober. Tekanan eksternal meningkat akibat kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Iran yang menyebabkan ekspor Indonesia turun untuk pertama kalinya dalam empat bulan pada Maret 2026, sementara impor tumbuh paling sedikit sejak Desember, mencerminkan permintaan domestik yang lemah menyusul harga bahan bakar nonsubsidi yang lebih tinggi.
Muncul juga kekhawatiran atas kapasitas penyangga tetap ada karena cadangan devisa Indonesia mencapai level terendah hampir dua tahun pada Maret, menambah tekanan pada rupiah. Mata uang Indonesia telah terdepresiasi lebih dari 4 persen pada tahun 2026, mendorong Bank Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar spot dan obligasi untuk menstabilkan nilai tukar. Para ahli menyarankan jika depresiasi terus berlanjut, hal tersebut dapat berdampak pada pertumbuhan PDB Indonesia 2026 yang sebelumnya ditargetkan tetap sekitar 5 persen. Bank Indonesia menyatakan tetap siap untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut jika diperlukan untuk menjaga stabilitas.
International Monetary Fund (IMF) memberikan warning bahwa kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Iran yang terus berlanjut akan berdampak negatif pada perekonomian global sampai tahun 2027. Diperlukan langkah kehati-hatian atau pruden saat ini dalam menjalankan perekonomian, terutama dalam mengeksekusi anggaran negara. Perlu segera diidentifikasi pos-pos anggaran yang perlu di-hold atau ditahan dulu. Perlu diteliti secara cermat program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Merah Putih yang capital expenditure-nya melebihi kepantasan harga normal untuk mencegah praktik korupsi dan manipulasi anggaran.
Di atas kekhawatiran tersebut, terdapat pernyataan pemerintah yang memberikan harapan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20. Kinerja ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang kuat di tengah dinamika global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengamini hal tersebut terkait capaian ekonomi nasional.
"Ekonomi Indonesia berhasil keluar dari 'kutukan' pertumbuhan stagnan di angka 5 persen setelah mencatatkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I-2026," ujar Purbaya.
Angka ini menandai pergerakan ekonomi yang lebih cepat dan terlepas dari tren stagnasi sebelumnya. Kondisi kesehatan Menteri Keuangan juga tampak pulih dari kelelahan meskipun tubuhnya terlihat lebih kurus. Sebelumnya, berita tentang kondisi fisik Menkeu Purbaya sempat dianggap sebagai sinyal tantangan ekonomi.
Sebagai penutup, terdapat ungkapan populer di masyarakat yang merespons kondisi ekonomi saat ini dengan nada ringan.
"Pulkam ke Ngawi, nasi pecel misik gangsal ewu... ups,"
Ungkapan itu merujuk pada harga nasi pecel di Ngawi yang terpantau masih berada di angka lima ribu rupiah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

