sekam padi dan cangkang telur yang selama ini dibuang kini jadi bahan baterai di tangan guru besar ui - News | Good News From Indonesia 2026

Sekam Padi dan Cangkang Telur yang Selama Ini Dibuang, Kini Jadi Bahan Baterai di Tangan Guru Besar UI

Sekam Padi dan Cangkang Telur yang Selama Ini Dibuang, Kini Jadi Bahan Baterai di Tangan Guru Besar UI
images info

Sekam Padi dan Cangkang Telur yang Selama Ini Dibuang, Kini Jadi Bahan Baterai di Tangan Guru Besar UI


Selama bertahun-tahun, petani di seluruh Indonesia membuang biomassa lokal seperti sekam padi dan cangkang telur begitu saja. Dibakar, ditimbun, atau dibiarkan membusuk di pinggir sawah. Tak ada yang menyangka, limbah itu menyimpan potensi yang jauh lebih besar dari sekadar abu.

Prof. Dr. Ir. Bambang Priyono, M.T. datang membawa gebrakan luar biasa dalam risetnya. Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini telah menghabiskan lebih dari dua dekade meneliti sesuatu yang kebanyakan orang abaikan: bagaimana kekayaan alam Indonesia yang berlimpah bisa menjadi jawaban atas krisis energi yang mengancam masa depan. Dan jawabannya, ternyata, bisa dimulai dari hal sesederhana mengolah sekam padi.

Baterai dari Alam untuk Bangsa

Pada 29 April 2026, Universitas Indonesia resmi mengukuhkan Prof. Bambang sebagai Guru Besar Tetap di bidang Material Energi Baru dan Terbarukan. Di hadapan sivitas akademika UI di Balai Sidang Depok, ia menyampaikan sebuah visi yang sederhana namun penuh ambisi: Indonesia tidak perlu bergantung pada bahan tambang impor untuk membangun teknologi baterainya sendiri.

Kuncinya ada pada biomassa, material organik yang tumbuh, hidup, dan melimpah di bumi Indonesia.

Dalam risetnya, Prof. Bambang mengolah biomassa seperti sekam padi dan cangkang telur ayam menjadi material elektroda untuk baterai lithium-ion. Bahan-bahan ini diproses hingga menghasilkan karbon berkualitas tinggi yang berfungsi sebagai anoda, jantung dari sebuah sel baterai. Ia juga mengembangkan teknologi flash Joule, sebuah metode pemrosesan kilat yang mengubah biomassa menjadi grafena multi-layer secara cepat, efisien, dan ramah lingkungan.

"Kita memiliki potensi luar biasa dalam mencapai kemandirian energi bangsa," ujarnya dalam pidato pengukuhan.

Mengapa Ini Penting bagi Indonesia?

Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, diberkahi matahari sepanjang tahun dan angin yang tak pernah berhenti. Potensi energi terbarukannya luar biasa besar, tapi ada satu masalah yang kerap luput dari perhatian: energi surya dan angin tidak bisa disimpan begitu saja. Butuh baterai yang andal untuk menampungnya.

Selama ini, bahan baku baterai sebagian besar diimpor. Harganya mahal, pasokannya tidak pasti, dan ketergantungan itu membuat cita-cita transisi energi Indonesia menjadi rapuh.

Di sinilah riset Prof. Bambang menemukan relevansinya. Dengan memanfaatkan biomassa lokal, Indonesia berpeluang membangun rantai pasok baterai yang mandiri dari ladang petani, masuk ke laboratorium, lalu hadir sebagai teknologi energi yang berkelanjutan. Baterai lithium-ion yang dihasilkan pun juga bagus, efisiensinya rata-rata 95% dengan masa pakai lebih dari delapan tahun.

Lebih jauh, Prof. Bambang juga mulai merintis penelitian baterai sodium-ion, teknologi alternatif yang bahan bakunya bahkan lebih mudah ditemukan di Indonesia. Sebuah langkah kecil yang bisa berdampak besar.

Siapa Prof. Bambang Priyono?

Prof. Bambang bukanlah nama baru di dunia akademik Indonesia. Ia adalah produk dari kesabaran dan ketekunan panjang.

Sejak bergabung sebagai dosen FTUI pada 1991, ia telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk riset material energi. Pendidikannya dari sarjana hingga doktor ia tempuh di kampus yang sama, Fakultas Teknik UI. Ia aktif di Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Materials Research Society Indonesia (MRS-INA), serta produktif menghasilkan publikasi ilmiah internasional.

Negara pun mengakui dedikasinya. Pada 2023, ia menerima Satya Lencana XXX dari Presiden RI, penghargaan atas 30 tahun pengabdian tanpa henti.

Kini, dengan gelar Guru Besar di pundaknya, Prof. Bambang tidak berhenti. Ia justru semakin memperluas kolaborasi dengan industri dan peneliti lain, dengan harapan risetnya tidak hanya hidup di atas kertas jurnal, tapi benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat Indonesia.

Karena pada akhirnya, itulah yang ia kejar sejak awal: bukan sekadar temuan ilmiah, tapi kemandirian energi untuk bangsa.

Dengan mengembangkan baterai berbasis biomassa lokal, riset Prof. Bambang menjawab dua tantangan sekaligus: mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan tambang untuk komponen baterai, sekaligus memberi nilai tambah pada sumber daya alam yang selama ini kurang termanfaatkan. Baterai lithium-ion yang efisien bahkan dapat bertahan lebih dari delapan tahun menjadikannya solusi penyimpanan energi yang semakin ekonomis dan berkelanjutan.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.