media dan gen z lemahnya critical thinking suatu generasi atau respon terhadap dinamika digitalisasi - News | Good News From Indonesia 2026

Media dan Gen Z: Lemahnya Critical Thinking Suatu Generasi atau Respon terhadap Dinamika Digitalisasi?

Media dan Gen Z: Lemahnya Critical Thinking Suatu Generasi atau Respon terhadap Dinamika Digitalisasi?
images info

Media dan Gen Z: Lemahnya Critical Thinking Suatu Generasi atau Respon terhadap Dinamika Digitalisasi?


Perkembangan teknologi digital bukan hanya mengubah cara publik menyebarkan informasi. Namun, juga memengaruhi pemikiran dan pembentukan emosional. Sebagai sumber penyebaran informasi yang cepat, media sosial memegang peran penting dalam pembentukan persepsi publik terhadap suatu isu atau peristiwa.

Edward Hutasoit, General Manager YouGov, perusahaan riset dan analisis global, memaparkan hasil riset tahun 2025 bahwa sebanyak 60% dari pengguna media sosial adalah gen Z. Di tengah persaingan media dalam memenangkan algoritma, konten rage bait kerap mendapat perhatian lebih dari gen Z.

Berbeda dengan click bait yang biasanya berjudul menarik, rage bait seringkali bertujuan untuk memprovokasi “kemarahan” secara langsung.

Dalam ekosistem digital dimana algoritma mengapresiasi konten yang mendapat perhatian khalayak ramai, rage bait menemukan momentumnya. Konten rage bait memang seringkali berhasil memancing gen Z untuk turut merespon suatu isu atau peristiwa.

Namun, apakah hal tersebut bisa meningkatkan atau justru melemahkan pemikiran kritis dari generasi itu sendiri?

Eksploitasi Emosi lewat Konten Rage Bait terhadap Gen Z

Rage bait secara resmi menjadi Oxford Word of the Year 2025. Jika pada tahun sebelumnya, Brain rot dipilih untuk menggambarkan kelelahan mental akibat scrolling yang tiada habisnya, rage bait menyoroti konten yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan dan provokasi. Keduanya membentuk siklus yang kuat di mana kemarahan dapat memicu keterlibatan.

Strategi konten dengan judul provokatif hingga video-video yang sengaja dipotong tanpa konteks kerap kali berhasil memicu emosi gen Z sehingga bisa melahirkan gelombang komentar dan interaksi berkelanjutan.

baca juga

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang, Lian Agustina Setiyaningsih S.Sos, M.Med.Kom, melalui laman resmi Unmer mengatakan, “Distorsi pesan itu terjadi ketika pesan dipotong-potong sesuai kebutuhan. Di situ ada praktik manipulasi konteks,”

Pembuat konten bukan lagi ingin menyampaikan pesan, tetapi ingin memprovokasi reaksi. Semakin dinormalisasi timbulnya kemarahan tersebut yang kemudian membuat emosi bisa dijadikan komoditas.

Gen Z sebagai pengguna terbanyak media sosial tentu menjadi target utama eksploitasi emosi yang dilakukan secara sistematis tersebut.

Persaingan Media untuk Memenangkan Algoritma

Stigma bahwa gen Z mudah terpengaruh tanpa berpikir kritis, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan budaya media digital yang semakin ekstrem.

Stig Hjarvard (2008) menekankan bahwa media modern tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk perilaku publik melalui logika kerjanya.

Pertanyaannya, apakah benar gen Z memiliki critical thinking yang lemah, atau media memanfaatkan emosi mereka untuk memenangkan algoritma?

Nyatanya, terlepas dari dampak positif atau negatif, algoritma akan mendorong konten dengan interaksi yang ramai ke lebih banyak pengguna. Setiap klik, komentar, dan share yang dihargai pada media digital, membuat suatu konten bisa mengubah emosi audiens menjadi angka engagement.

Alih-alih memperluas pemahaman terhadap suatu isu, tidak jarang creator bahkan media justru mempersempit konteks penjelasan menjadi rentetan kemarahan.

Dalam ilmu komunikasi, hal ini dikenal sebagai scapegoating, yaitu narasi diciptakan bukan untuk menjelaskan masalah. Malah justru untuk mencari simpati dan membangun suatu opini untuk menyalahkan pihak tertentu.

baca juga

Lian juga menyoroti praktik rage bait sangat berkaitan dengan teori framing dan agenda setting, yaitu mengkondisikan audiens agar mengikuti agenda yang telah ditentukan oleh pembuat konten, “Kita seperti diberi kacamata untuk melihat sebuah objek, padahal sebenarnya kita punya kekuasaan untuk melihat dari sisi yang lain,” katanya.

Dari perspektif ekonomi politik media, fenomena ini juga tidak lepas dari logika attention economy, yakni sistem ekonomi yang menjadikan perhatian manusia sebagai sumber daya.

Maka, tidak heran jika rage bait ampuh untuk memicu keterlibatan emosi gen Z yang kemudian menjadi komoditas bernilai dalam ekonomi digital.

Gen Z di Era Media Digital

Gen Z menjadi generasi yang mudah terpancing karena mereka tumbuh di era kecepatan informasi yang meningkat sedangkan attention span bertahan dalam waktu singkat.

Penulis The Shallow: What the Internet Is Doing to Our Brain, Nicholas Carr dalam bukunya menyebut bahwa internet secara diam-diam membentuk kembali struktur otak manusia.

Kebiasaan gen Z dengan paparan informasi tanpa jeda itu bisa menciptakan cognitive overload, yang menurut Carr bisa membuat otak bekerja dengan banyak merespon, tetapi sedikit memaknai, sehingga sulit berpikir secara mendalam. Lalu, apa yang bisa dilakukan gen Z?

Menyadari bahwa media dan creator memiliki motifnya masing-masing dalam setiap konten yang diproduksi, bisa menjadi awal yang baik agar Gen Z tidak mudah tersulut emosi yang tidak seharusnya.

Melansir dari website Stanford Report, salah satu taktik yang bisa digunakan adalah bertanya pada diri sendiri: Siapa yang memposting konten itu? Apa kepentingan mereka dalam membagikan jenis konten tersebut?

Pertanyaan terakhir: Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kemarahan saya?

Semakin kita menghindari berinteraksi dengan konten yang memicu kemarahan, semakin sedikit jenis konten itu ditampilkan kepada kita.

Memang benar ruang digital dibentuk oleh algoritma, tetapi yang tidak kalah penting adalah kesadaran penggunanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.